Tiga puluh tujuh tahun yang lalu aku menikah dengan
lelaki idamanku yang bernama Dani. Di mataku lelaki ini cukup sempurna.
Ganteng, juga berasal dari keluarga dan lingkungan islami. Dengan
memilihnya sebagai suami, kupikir, ia bisa membimbingku sebagai istri
yang sakinah. Meski ia hanya berprofesi sebagai sopir truk, tapi aku
cukup bangga bila ia meminangku sebagi istrinya. Pekerjaan apapun yang
penting halal dan aku mencintainya.
Dengan pertimbangan
inilah, aku menikah dengan Dani sekitar 37 tahun yang lalu. Aku menikah
dengan pesta resepsi seperti di kampung-kampung umumnya. Sederhana namun
meriah. Undangan pun banyak yang hadir memeriahkan pestaku. Rasanya aku
seperti ratu sehari. Semua orang memuji kecantikanku dengan kebaya
pengantin yang kukenakan. Begitu pula, dengan Dani. Ketampanannya
semakin tampak dengan baju pengantin daerah yang ia kenakan.
Setelah
menikah, kami tinggal di rumah Abah dan Emakku. Maklum, suamiku hanya
sebagai sopir yang belum mampu membelikanku sebuah rumah. Meski begitu,
aku cukup bahagia. Terlebih kedua orang tuaku cukup menerima Dani. Tanpa
melihat materi dan profesi menantunya. “Yang penting, menantuku baik
terhadap putrimu. Dan, bisa membuat anakku bahagia,’ mungkin begitulah
pikir kedua orang tuaku ketika itu.
...kami memang
pasangan yang sangat bahagia. Kesulitan ekonomi bukan halangan bagi kami
untuk menghirup kebahagiaan. Terlebih saat kami dikaruniai dua orang
putri yang lucu dan cantik...
Kenyataannya memang begitu,
kami memang pasangan yang sangat bahagia. Kesulitan ekonomi bukan
halangan bagi kami untuk menghirup kebahagiaan. Terlebih saat kami
dikaruniai dua orang putri yang lucu dan cantik. Ari dan Ami namanya.
Untuk membantu kebutuhan keluarga, aku bekerja di bengkel sepatu (rumah
produksi, red) yang banyak terdapat di wilayahku.
Minuman Keras Merampas Kebahagiaanku...
Diluar
perkiraanku, saat hamil putriku yang ketiga, sikap suamiku berjungkal
balik. Sikapnya sungguh berlawanan dengan Dani yang sesungguhnya. Dia
kerap bersikap kasar dan bicaranya “ngawur”. Ini semua dikarenakan ia
mulai menenggak minuman keras. Aku pun tidak mengerti kenapa ia bisa
tergoda oleh minuman yang memabukkan itu. Padahal sebagai istri, aku
sudah berusaha bersikap yang terbaik untuk melayaninya. Kelucuan kedua
putrimu pun, ternyata tidak mampu menangkal dari godaan minuman
menyesatkan ini.
Apalagi, waktu itu, aku tengah hamil
anakku yang ketiga. Seharusnya dia memanjakanku seperti saat kehamilanku
sebelumnya. Tapi kenyataannya tidak. Justru sebaliknya. Setiap pulang
ke rumah, bukannya uang atau oleh-oleh yang dibawanya, melainkan cacian
serta omongan-omongan ngelantur dan tidak jelas. Pandangan tampak teler
dan badannya biasanya tegap kini menjadi sempoyongan dan tidak stabil.
Sungguh
pemandangan yang memalukan! Seharusnya ia malu bersikap begitu! Karena
kami masih menumpang pada orang tua. Dasar tidak tahu diri! Kata-kata
itulah yang sering kupendam dalam hatiku. Ingin rasanya, aku menghindar
dari pertengkaran dengan suamiku. Karena aku merasa malu dengan kedua
orang tuaku serta tetanggaku yang letak rumah kami tidaklah berjauhan.
..hingga
anakku yang ketiga lahir, sikapnya suamiku tak kunjung berubah. Si
pemabuk ini semakin menggila. Penghasilan sebagai sopir tak pernah
diserahkannya kepadaku. Uang itu dihabiskannya untuk membeli minuman
setan...
Dari waktu ke waktu, hingga anakku yang ketiga,
Ani lahir, sikapnya Dani tak kunjung berubah. Si pemabuk ini semakin
menggila. Penghasilan sebagai sopir tak pernah diserahkannya kepadaku.
Uang itu dihabiskannya untuk membeli minuman setan.
Sikapnya
semakin kasar. Pukulan demi pukulan melayang ke tubuhku bila aku tengah
mengingatkannya. Tak puas dengan pukulan, terkadang ia gunakan senjata
atau barang yang ada di dekatnya. Senjata angin pernah ditodongkan ke
arahku. Ini membuatku ketakutan tak terkira. Menggigil seluruh tubuh
menahan rasa takut. Karena kutahu, dalam senapan itu memang ada
pelurunya.
Kenapa aku begitu ketakutan? Sebelum ia
menodongkan senjatanya padaku terlebih dahulu ia menembakkan senapan
pinjamannya ini ke arah langit-langit rumah. Cicak-cicak yang berada di
atap itu ditembakinya. Tak ada seorang pun yang berani melerainya. Semua
larut dalam ketakutan. Jadi walau sebatas ancaman, aku berada dalam
ketakutan yang luar biasa. Pernah pula, ia mengancam dengan celurit.
Juga senjata-senjata tajam lainnya. Dasar pengecut! Ia hanya berani
melawan wanita lemah seperti aku.
Awalnya, aku memang
selalu dihantui rasa takut bila berpapasan dengannya. Senantiasa aku
mengalah. Apalagi jika ia sedang mabuk. Matanya tidak bisa lagi
memandangku sebagai wanita yang pernah dicintainya. Di hadapannya aku
hanyalah musuh bebuyutan yang harus dihadangnya. Kelemahanku membuat
taringnya semakin muncul untuk membuat keonaran. Hatiku merintih. Iba
rasanya melihat ketiga putriku yang seharusnya dimanjakan oleh ayahnya
malah akrab dengan suasana tegang.
Aku tidak ingin lagi
melihat anakku, Abah serta Emakku larut dalam ketakutan. Aku harus
berontak dan bersikap tegas. Dengan memohon kekuatan kepada Allah SWT,
agar diberikan kekuatan untuk menceraikannya. Meski hati kecilku masih
mencintainya tapi ku tak ingin mengorbankan seisi rumah ini hanya karena
rasa cintaku pada Dani. Kuhapus cinta itu. Kubukakan pintu cerai
untuknya.
..Sikapnya semakin kasar. Pukulan demi pukulan
melayang ketubuhku bila aku tengah mengingatkannya. Tak puas dengan
pukulan, terkadang ia gunakan senjata atau barang yang ada di dekatnya.
Senjata angin berpeluru pernah ditodongkan ke arahku...
Bagaimana
responnya saat kunyatakan permohonan cerai itu? Dia menangis
sejadi-jadinya. Dia menyesal perbuatannya dan tidak ingin bercerai
denganku. Ternyata macan itu sudah copot taringnya. Dia merayukku agar
tidak menceraikannya. Dia tidak mau berpisah denganku dan anak-anak.
Semua bujuk rayu tak kuhiraukan. Aku keukeuh terhadap pendirianku. Cerai
adalah jalan terbaik. Kami pun akhirnya berpisah.
Enam
bulan kemudian, dia merayukku untuk rujuk karena tidak ingin berpisah
dengan keluarga. Melihat kesungguhannya untuk kembali kepada keluarga,.,
aku pun membuka pintu maaf. Kami pun dinikahkan kembali disaksikan
keluarga dan kerabat. Sesuai dengan janjinya, pada awalnya dia memang
bersikap baik. Seperti Dani yang pertama kukenal. Karena terseret
pergaulan yang lama, dia terbawa arus syetan lagi. Dia kembali
mabuk-mbukan dan bersikap kasar lagi.
KDRT (kekerasan
dalam rumah tangga, red) akrab dengan kami lagi. Aku pun, mengingatkan
lagi agar suamiku menghindar dari dunia sesat. Nasehat-nasehat demi
nasehat tidak mempan lagi baginya. Aku pun memintanya bercerai lag. Dan,
tidak ingin kembali ke dalam pangkuannya.
Banting Tulang Demi Anak...
Di
hati kecilku, berat sesungguhnya ditinggal suami. Yang mana aku harus
banting tulang mencari nafkah demi ketiga anakku. Tapi bila mengingat
tabiatnya yang tak berubah, aku berusaha tegar. Kuserahkan semuanya pada
Ilahi. Kuyakin bila aku berusaha, Dia tidak akan menutup mata-Nya. Yang
Maha Kuasa tidak akan membiarkan kami kelaparan.
Alhamdulillah,
berkat bantuan Emak dan Abah dan juga saudaraku lainnya aku bisa
menafkahi anak-anakkuk. Mereka juga mengerti, aku tidak tinggal diam.
Aku tetap bekerja sebagai penjahit sandal dan sepatu. Namun, karena
upahku teramat minim, aku pun dijinkan oleh Emak dan Abah untuk bekerja
ke luar kota. Beberapa kota besar sudah kusinggahi. Anak-anak diurus
oleh Emak dan Abah.
..Di hati kecilku, berat sesungguhnya
ditinggal suami. Aku harus banting tulang mencari nafkah demi ketiga
anakku. Tapi bila mengingat tabiatnya yang tak berubah, aku berusaha
tegar. Kuserahkan semuanya pada Ilahi. Kuyakin Yang Maha Kuasa tidak
akan membiarkan kami kelaparan...
Sebenarnya, hati ibu
mana yang mau meninggalkan buah hati hanya karena uang. Semua itu,
kulakukan demi kelangsungan hidup mereka termasuk biaya sekolah. Belasan
tahun aku bekerja sebagai pembantu hingga akhirnya kupilih bekerja
dilingkungan desaku. Di mana aku bisa pulang ke rumah pada sore atau
malam hari saat majikanku pulang bekerja.
Tanpa terasa,
anak-anakku beranjak dewasa, kini ketiga putriku telah menikah. Dan, aku
telah memiliki 4 orang cucu. Saat mereka menikah, bersyukur bapaknya
hadir menjadi walinya anak-anak. Alhamdulillah pula, anak-anaknya masih
mau menerima bapaknya pada pesta perkawinan mereka. Hubunganku dengan
mantan suami kini baik-baik saja. Kini dia telah menikah lagi. Yang
membuatku bahagia, mantanku itu, telah kembali ke jalan yang benar. Dan,
bekerja sebagai petugas keamanan pada sebuah perumahan elit.
Meski
dia sudah menikah lagi. Ini tidak membuat iri hati, Dan tidak ada
keinginan untuk merebut hatinya. Aku tidak ingin merusak rumah tangga
suamiku. Aku pun tidak ingin menikah dengan laki-laki lain. Aku merasa
trauma dengan kejadian masa laluku. Lagipula, aku sudah merasa tua. Aku
merasa bersyukur dan bahagia dengan kehadiran cucuku yang lucu. Meski
kini profesiku masih sebagai pembantu, aku masih bisa membagi waktuku
untuk mengurus cucu serta Emak dan Abah yang kini berusia senja dan
kerap sakit-sakitan.
Api Melahap Seluruh Harta Bendaku...
Meski
hidupku senantiasa dalam ketidakcukupan, aku selalu berusaha untuk
mensyukurinya karena ini semua sudah merupakan takdir bagiku. Aku
menerimanya dengan ikhlas. Namun keikhlasan itu belumlah cukup. Ternyata
Allah memberi cobaan lain yang sangat berat kurasakan.
Di
keheningan malam, di tengah lelapnya tidur, tiba-tiba kami dikejutkan
oleh orang-orang yang tinggal di sekeliling kami. “Kebakaran, kebakaran,
Bi Alia, Emak, Abah, semua keluar rumah,” yang sempat kudengar teriakan
tetanggaku. Duh, jantung seperti mau copot. Sekujur tubuhku lemas.
Benar saja, pandangan kami kabur. Asap dan api sudah mengelilingi kami.
Meski lemas, kuajak cucu, anak-anak, dan menantu. Masing-masing kami
menerobos api yang bersyukur belum membesar. Sehingga kami bisa
menyelamatkan diri.
..aku selalu berusaha untuk
mensyukurinya karena ini semua sudah merupakan takdir bagiku. Ternyata
Allah memberi cobaan lain yang sangat berat kurasakan. Tengah malam,
kebakaran menghabiskan rumah dan seluruh isinya. Hanya baju yang kami
kenakan yang luput dari jangkauan api...
“Astagfirullah,
ketika sudah ada di luar rumah yang mana masyarakat sudah berkerumun di
depan rumah, kami baru ngeuh kalau Abah masih tertinggal di dalam rumah.
“Abah, Abah, cepat keluar rumah!” kami semua berteriak histeris.
Rupanya Abah tengah terlelap dalam tidurnya. Dia tidak menyadari apa
yang sedang terjadi Lalu warga rame-rame menerobos rumah dan membopong
Abah. Sambil menangis Abah kami peluk-peluk erat. “Alhamdulillah,
kuabsen satu persatu anggota keluargaku, semua lengkap bisa keluar rumah
dalam kondisi selamat.”
Tetapi, doaku sambil berteriak
histeris “Ya Allah! Selamatkan rumah kami! Cuma inilah rumah kami
satu-satunya! Kumohon padamu ya Allah!” Sesekali aku bersujud memohon
kebesaran-Nya. Namun, Allah berkehendak lain, api itu semakin membesar
dan melebar. Apinya semakin lapar melahap apa saja yang ada didekatnya.
Lidahnya menjilat dengan lincahnya. Pupus sudah harapan kami untuk
menyelamatkan harta kami satu-satunya. Padahal keluarga, masyarakat
sekitar, serta pemadam kebakaran begitu gigihnya memadamkan si jago
merah.
Ternyata kami kalah gagahnya dengan api ini. Dia
semakin galak. Warga sekitar pun larut dalam ketegangan. Mereka pun,
khawatir api ini loncat ke rumah mereka. Karena rumah kami sangatlah
berdekatan. Semakin lama aku semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
Teriakanku hanya cukup dalam hati. Tengah malam, api baru berhasil
dipadamkan. Namun, api itu sudah menghabiskan rumah dan seluruh isinya.
Tak ada barang yang bisa diselamatkan. Hanya baju yang kami kenakan yang
luput dari jangkauan api
Sebagai orang beriman,
seharusnya aku bersyukur, keluargaku masih utuh. Secara fisik kami tidak
ada yang terluka. Orang-orang di sekitar kami selalu mengingatkan hal
itu. Tapi, aku tetap saja merasa tidak rela kehilangan rumah dan benda
yang hasil kerja kami.. Hatiku terluka. Ini yang membuatku sakit hingga
berminggu-minggu. Depresi berkepanjangan. Hari-hariku dipenuhi dengan
lamunan.
Masyarakat dan keluarga tak bosan-bosannya
memberi spirit kepada keluarga. Pemerintah setempat memberikan bantuan
bahan-bahan bangunan. Warga bergotong-royong membangun rumahku.
Sementara kami tinggal di madrasah yang kebetulan posisinya di depan
rumah. Bantuan demi bantuan terus berdatangan hingga orang-orang yang
tidak kami kenal sekali pun.
Subhanallah! Inilah
kebesaran-Mu ya Allah. Mata hatiku mulai terbuka. Begitu banyak orang
yang membantuku dengan ikhlasnya. Inilah yang membuatku menyadari
kesalahanku. Aku terharu melihat kebaikan mereka. Disinilah, tampak
kebersamaan kami.
Rasanya tak sabar aku ingin melihat
rumahku berdiri kembali. Dan, setelah jadi, alhamdulillah, rumahku jauh
lebih bagus dan kuat dibanding dengan rumahku yang dulu. Rumahku
sekarang, disekat-sekat menjadi 3 bagian. Bagian pertama diperuntukkan
bagiku, Ani, dan kedua orang tuaku. Yang lainnya, untuk juga kedua
anakku yang telah berumah tangga. Si bungsu Ani, waktu itu belum
menikah. Sehingga kami bisa berkumpul tetapi privasi menantu dan anakku
tetap terjaga. Sedikit banyak merek jadi lebih mandiri “Terima kasih ya
Allah atas segala kebesaran-Mu ini,” tak bosan-bosannya aku bersyukur.
Hingga
kini, meski usiaku hampir mendekati 50 tahun, aku tetap bekerja sebagai
pembantu rumah tangga hingga siang hari. Sisa waktu aku menyempatkan
diri untuk mengurus rumah serta kedua orang tua. Mereka sekarang sudah
sangat sepuh. Emak usianya sekitar tujuh puluhan tahun. Sementara Abah,
delapan puluhan tahun. Meski lelah, aku bersyukur karena diberi
kesempatan untuk mengabdi kepada orang tuaku. Subhanallah!
[Seperti yang dituturkan Alia kepada reporter voa-islam.com, Herawati Dachlan]
“Maka
mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan
Allah dan mereka juga tidak menjadi lesu (patah semangat) serta tidak
menyerah (kepada musuh), dan Allah sangat menyukai orang-orang yang
sabar” (Ali ‘Imran 146).
“Dan kami telah menguji mereka
dengan kebaikan (kenikmatan) dan kejelekan (bencana) agar mereka mau
kembali (ke jalan yang benar)” (Al-A’raf 168).
Yoga Constantine
Senin, 30 Januari 2012
Pasrah Atas Kehendak ILAHI, Meski Derita Datang Tiada Henti (Kisah Nyata)
Minggu, 29 Januari 2012
Air Mata....
Begitu dingin sore ini, seharusnya
aku dapat menuai senyuman dan tawa maupun canda di tempat ini. Tawa riang,
mungilnya suara – suara yang menggemaskan. Hmmm, ternyata tetap saja tak mampu
mengusir segala keresahanku. Senyuman mereka mungkin setidaknya dapat
menghilangkan kepenatanku. Pertanyaan yang kritis tapi tetap polos,
Ku lihat langit mendung
membingkis keindahan senja yang biasanya ada. Suasana begitu dingin dan sepi.
Sementara sorak ramai mengusik sekitarku. Bak lagu Dewa “kosong....” Seketika
aku tak dapat bernafas kala mengingat dan merasakan perasaan itu hadir lagi.
Seperti badai angin yang begitu besar telah menghempas keras dalam dadaku.
Sesak.
Haruskah aku menangis lagi?
Sementara bilik - bilik kerinduan tak akan
cukup tertawarkan oleh itu.
Ya Tuhan.. tolong aku.
Terkadang begitu ingin aku berlari,
pergi sejauh mungkin dari keberadaanku saat ini, meninggalkan apapun yang ada
di sini. Dan tak mau aku sisakan apa yang sudah aku lewatkan. Akan tetapi tak
bisa, aku tak bisa. Semua terekam jelas pada bayangan dan ingatanku.
Kenangan.
Yah, itulah kenangan.
Namun bukankah sikap meninggalkan sesuatu hal yang harus
kita selesaikan, kita tuntaskan dan berpura tak peduli atau acuh itu
hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut / pecundang? .
Ku rasa aku tidak mau
memantaskan diriku dengan sebutan itu. Tidak, insya Allah tidak.
Kehidupan Mempunyai Jalur
Sendiri...
Dimana ada hitam dan putih, dimana
ada beragam warna yang mengentaskan segala asa dan rasa. Bagaimanapun bentuk
dan rupa, kehidupan bersama ujian ada tugas dari-Nya.
Tidaklah manusia
diciptakan untuk juga menjalankan amanah-Nya?
Semua adalah pemimpin mulai dari
dan untuk dirinya maupun bersama. Dan dalam berbagai kehidupan ini ada bermacam
pilihan, dimana keputusan dalam pilihan itu membawa resiko dan tanggung jawab.
Yah, dan di situlah tanggung jawab penuhku sebagai manusia yang diciptakan-Nya,
ku harus lebih paham. Aku tahu, aku tak punya kekuasaan apapun dalam
kehendakku, karena aku bukan siapa -siapa di sini, bukan dunia yang kejam jika
saja selalu kepahitan yang aku telan, Tuhan tidak akan mungkin mendzalimi hamba-hamba-Nya. Berfikir saja jika ada ujian dan cobaan karena Tuhan maukan kita
lebih menjadi pribadi yang handal dan kuat , lebih kuat lagi dalam kehidupan.
Insya Allah.
Namun memang, semua itu beratlah
adanya untuk dijalankan. Keikhlasan, tak dapat kita lakukan dengan sekejap dan
instan. Terkadang kesakitan dan luka-luka ini akan terbiarkan dengan
berjalannya waktu hingga itu menjadi keikhlasan yang terurai dan menghambar
bersama masa-masa yang berlalu dari hadapan kita.
Kadang aku berfikir saat aku benar-benar lelah dan tertekan ku coba berfokus pada keinginanku betapa inginya aku
dapat lebih tulus untuk menjalankan semua ini, jika saja tiada tempat untukku
melabuhkan kasih sayang dan cinta, bukankah ada Tuhan?
Ada Allah SWT yang
selalu ada untukku, walaupun tak mampu aku mengingkari aku butuh seseorang yang
dapat berbagi suka duka denganku dengan ikatan yang halal. hmm... ya ya ya,
Kondisi yang menekan sering
menjadikan aku bersuara dalam hati “ biarkan saja yang menyakiti bersama hati
dan hak mereka, dan inilah ujian kesabaran yang sebenarnya, bukankah ikhlas itu
tak akan pernah kita ketahui dimana ujungnya karena itu rahasia Allah dan
hamba-Nya yang telah diridhoi-Nya.
Sekalipun memberikan yang terbaik,
kadang tak kebaikan pula yang ku dapat, dan meskipun aku berusaha untuk menjaga
dan mengamalkan kejujuranku dengan pengertian demi pengertian tapi
ternyata masih ada dusta yang dapat melukaiku tanpa rasa peduli.
Atau
bahkan dapat menghancurkan utuhnya percayaku. Tak kan berhenti saja di situ,
masih ada lagi, tetapi karena kasih sayang-Nya, cinta-Nya mengajarkan aku
untuk memaafkan.
Mungkin itulah kenapa aku merasakan betapa pedulinya aku pada
jiwa-jiwa yang selalu saja menyakitiku. Mereka tak akan pernah tau, mungkin
untuk sekarang, namun ku yakin sebuah kesabaran dengan sabar yang baik, itu
pasti akan terasa.
Bukankah aku pernah mengucap :
“ apapun yang dari hati,
akan tersampai pula pada hati”.
Rasanya memang kadang menyedihkan,
karena aku seperti menghibur diriku sendiri, meleram keresahanku dan gelisahku.
Padahal itu tak mudah.
Bagaimana aku dapat berkata itu gampang?
Jika saja aku
selalu belajar dari apa yang telah aku dapatkan hari ini. Sementara semua juga
butuh waktu untuk mencernanya, masya Allah walhamdulillah ala kuli hal.
Aku dapat menangis, karena
aku manusia, tentu saja tambahannya karena aku ini wanita.
Akan tetapi air mata bukan
segalanya di atas pusara yang pedih ini.
Duka tak dapat menutup
nestapa dan hampa.
Semua menjadikan aku belajar
lebih bijaksana dalam segi sudut pandang pun juga pemahaman. Alhamdulillah....
Tuhan Maha Adil, Maha Mengasihi dan
Maha Menyayangi. Dan Dia selalu mempunyai cara untuk menyampaikan kecintaan-Nya
kepada hamba-Nya.
Ujian yang besar, mungkin dapat
menghancurkan segala impian, tapi bukankah bisa saja apa yang tidak kita sukai
itu adalah pesan kasih sayang-Nya, dan apa yang kita sukai dan kita bisa sakit
di dalamnya itu pun karena Tuhan juga tak ingin kita menemukan kesalahan yang
sama. Selalu ada cinta dari-Nya dalam bentuk apapun yang Ia suguhkan pada kita.
Allahu Akbar..., betapa dahsyatnya rasa ini.
Dari sisa kehancuran itu, ku
berfikir bahwa Tuhan akan menciptakan seseorang yang “besar”
yang tegar, dan yang kuat, dan itulah pilihan-Nya, wallahu Alam. Memang pedih
di saat kita butuh seseorang yang mampu menopang kita dalam kerapuhan namun itu
tidak ada, atau bahkan mereka tak peduli pada kita, tapi mungkin juga
dari situ aku juga merasa, bahwa aku ini milik Dia seutuhnya. Tuhan pun
selalu merindukan kita yang merintih meminta dan berdoa hanya pada-Nya.
Terkadang tak jarang prasangka curiga mampir dalam hati, tapi setelahnya,
ku coba berbalik lagi berkata pada hatiku sendiri, perlahan ku kikis serabut
hitam dalam hulu putihku, dan belajar bertahan untuk lebih percaya,
“ sesungguhnya
dalam kesulitan ada kemudahan, sesudah kesulitan adan kemudahan”
Subhannallah.., Walhamdulillah.
Tiada yang berkurang sampai hari
ini, bagi jiwa-jiwa yang pernah mengahncurkanku, yang sempat menghempaskan
aku dalam jurang yang paling.....dalam, sekalipun hantaman keras itu membuat
hatiku membiru karena kepalsuan, dan membuat aku terbaring lemah dalam
panjangnya kebisuan, Sungguh Maha Besar Allah yang telah memberikan kasih
sayang dan pengertian yang tulus padaku. Hingga aku dapat mengatakan
“ dan karena cinta itu
memaafkan..., menerima, mengsisi, dan juga mengerti ”
Sekarang mungkin lebih tepatnya
adalah untuk bersyukur, bahwa aku.. atau pun kita dapat mencintai, dan tak dapat
membenci seseorang yang kita sayangi walau itu sungguh terasa sakit.
Sakit dalam mencintai, mengasihi,
dan menyayangi adalah bukti kesungguhan dari hati dan nurani yang mau mengerti
dan memahami.
Mungkin terasa pedih bak luka yang tersiram oleh air garam yang
asin, ….......sakit. Perih sekali.
Akan tetapi itulah kejujuranku, itulah
hatiku, itulah nuraniku, jangan pernah salahkan perasaan yang putih ini. Inilah
kesiapan, dan kebersediaan untuk rasa itu, mencintai.
Mencintai membuat kita
belajar dewasa dan mengerti.
Hanya akan ada jiwa dan yang tulus yang dapat
mengerti..., ketika pengertian itu tak berpihak padanya, ketika harus sabar
dalam keinginannya, saat terpaksa untuk menunggu ketika semua tak dapat
dilakukan dengan cepat dan segera, dan kala dapat melihat kesalahan dan
suatu permasalahan dari berbagai sisi dengan beberapa penilaian yang telah ia
ambil bersama pertimbangan-pertimbangan yang matang, insya Allah.
Aku selalu berharap pada-Nya,
semoga tulus ini tidak akan pernah usang karena bala dan derita yang ada,
biarkan selalu mekar dalam kegersangan. Dalam air mata ku bahagia, aku sangat
bahagia, karena aku dapat mencintainya, mereka, dan aku dapat mengasihi semua
jiwa yang pernah melukai dan mencaci, begitu dan betapa mereka itu adalah
berharga. Lebih dari harta dan intan permata.
Ku tutup lembaran ini, dengan
lirihnya do'a ku dalam hati, ku seka perlahan air mata yang sedari tadi
kupertahankan untuk tetap dalam kelopaknya.
Ya Allah..., Tuhanku,
Sungguh tiada daya dan upaya melainkan dari Rahmat-Mu, dan Pertolongan-Mu.
Sayangi mereka ya Tuhan...,
ketika kasih sayangku tak dapat tersampaikan dalam kejauhan mereka sat ini
berada,
Jaga mereka untukku, ketika
penjagaanku tak mampu melewati batas jarak ruang dan waktu..
dan Cintai mereka, ketika
aku nanti tak mampu untuk mencintai lagi di dunia ini.....
Amien.....,
Maafkan Salahku . . Ibu . . .
Kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang suami yang sedang diberi cobaan berat yaitu isterinya sakit dan tak kunjung sembuh.
Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman seseorang yang terjadi pada tahun 2003.

Pada September - Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata:
“Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”
Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya?
Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya”
Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.”
“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.”
“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? ”
Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.”
Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi .
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit isteri saya segera ditemukan .”
“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit isteri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena isteri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdo'a,
“Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, aku pun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas, dan aku pun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas.
Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk
Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu.
Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah isteriku. Bagi-Mu amat mudah menyembuhkan isteriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”
Ketika saya sedang berdo'a itu tiba-tiba terbesit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kuwalat… yang ngambil uangku kuwalat… ”
Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung , “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.”
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”
“Sampai kapan pun ibu ingat Mil. Kuwalat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.”
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kuwalat, aku maafkan dia . Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan do'akan saja isterimu agar cepat sembuh.”
Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon do'a darinya.
Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata.
“Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter. ”
Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much. ”
Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman seseorang yang terjadi pada tahun 2003.

Pada September - Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata:
“Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”
Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya?
Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya”
Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.”
“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.”
“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? ”
Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.”
Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi .
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit isteri saya segera ditemukan .”
“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit isteri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena isteri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdo'a,
“Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, aku pun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas, dan aku pun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas.
Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk
Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu.
Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah isteriku. Bagi-Mu amat mudah menyembuhkan isteriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”
Ketika saya sedang berdo'a itu tiba-tiba terbesit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin.
Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25
per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp.
125.
Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya
gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kuwalat… yang ngambil uangku kuwalat… ”
Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung , “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.”
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”
“Sampai kapan pun ibu ingat Mil. Kuwalat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.”
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kuwalat, aku maafkan dia . Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan do'akan saja isterimu agar cepat sembuh.”
Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon do'a darinya.
Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata.
“Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter. ”
Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much. ”
"bacalah" dengan Hati... & "tegakkan!" dengan Rasa...
"Moralitas haruslah berlandaskan akidah,
Akidahlah yang menyusun konsiderans dan menetapkan nilai - nilai moralitas"
( Sayyid Quthb )
karena tidak ada moralitas yang hidup tegak dan sejahtera tanpa adanya akidah yang lurus ( ISLAM ). karena yang baik, belum tentu benar, dan yang benar musti dirujuk dalam KEBENARAN lagi ( Al Qur'an & Sunnah )
Dalam berjalan terbungkam membisu...,
Ada rasa menggelitik di dalam ini, Hati. Mengamati satu persatu tingkah polah dari bagian negeri ini. Nyaris membuat diriku sendiri putus asa. Tapi bukanlah sejati dari muslim jika ia mudah untuk mundur dari sebuah perjalanan dan ujiannya.
Merasakan setiap hembus nafas dari jerit - jerit hati itu, empati yang terus menerus mengasah dan mengajakku turut menyambut keprihatinan.
Apa yang dapat ku buat hari ini?
Rasanya belum cukup semua pengorbanan ini. Setiap kemurungan jiwa mereka, kesuraman langkah dan harapan adalah kesedihan yang mungkin kalian tak pernah itu.
Anak – anak jalanan, Jiwa fakir dan miskin. Semua terlantar. Krisis apa sebenarnya yang melanda negeri ini? Bukan, bukan hanya negeri ini, bahkan BUMI ini. Ketipisan dan Kepudaran Akidah meruntuhkan semua moralitas. Hatiku merah padam, berkecamuk dan muak...dibuatnya.
Mana janji anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara dalam pasal 34 ayat 1 di dalam Undang – Undang Negara 1945 di Indonesia ini?
Ku lihat anak – anak kecil berlarian mengitari lampu merah di Jakarta ini, wajah lusuh suara yang luruh menandakan keletihan. Sempatkah mereka makan pagi tadi?
Atau hanya sekedar mandi untuk membersihkan pakaian mereka....?
Naifkah aku?
Terserah.. namun kepedulian ini semakin memilukan...
********************************************************************************
Pemandangan terbalik dengan semua orang yang bertendeng dengan jas dan dasi mahal mereka. Kecantikkan dari pesona apa yang mereka kenakan. Kemahalan kendaraan yang mereka guna. Satu anak kecil mengais rupiah demi sesuap nasi dan mungkin membeli buku sekolahnya, ditepiskan tangan menengadah itu dengan kasarnya, muram dan geram raut sang Tuan, sang Nona..., Jiwa kecil tak marah..terdiam menunduk lesu
Terlihat takut hingga tangan kaku, mata yang tak cemerlang kerlingannya....
Allahu Rabbi anta ya Rabbi...,
Siapalah kami ini ya Allah?
Bukan siapa - siapa jika tanpa-MU...
Gerimis sangat pilu dalam hatiku...
Mungkin..
Telaga bening masih tersisa pada pemilik syurga Jiwa..
Tak banyak dari mereka dan apa yang diperbuatnya, namun kasih sayang senyuman dan keramahan adalah kebahagiaan yang nyata berusaha berbagi dan menjadi keutamaan untuk saling memberi.
Dalam buku yang baru saja ku beli ini “Life Lessons For Women”
Dikatakan di dalamnya bab I bahwasannya “Mencintai diri sendiri itu adalah hal yang terpenting sebelum kita bertindak pada yang lain”
Namun penulis tulisan ini memiliki pendapat sendiri...
“Mencintai diri sendiri sebelum bertindak pada yg lain itu memang penting..
tapi caraku mencintai diriku adalah dengan berbagi kasih sayang terhadap sekitarku..
memberi banyak cinta di sekelilingku..
karena hidup yg juga untuk Kehidupan orang lain bagiku..
itulah yang membuat pribadi ini menjadi di luar "kebiasaan" seperti yg lain...
Dan akupun ingin menjadi lebih memahami diriku dengan seperti ini”
Lalu Bagaimana dengan Sahabat Pembaca ?
Pernah terfikirkah?
Ketika kita sering dan menomor satukan diri sendiri?
Apa yang akan terjadi ke depan?
Kita akan menjadi orang yang bermental lemah, manja, dan egois. Karena hanya mencintai diri sendiri itu sama saja dengan membuat perasaan kita nyaman terlebih dahulu, dan pernahkah terlintas dalam fikiran KITA? Karena terkadang sesuatu yang dilakukan dari apa yang tidak kita sukai ( keterpaksaan) itu bisa menjadi wawasan baru, pengalaman yang dapat menambah persepsi kita. Atau bahkan menjadi satu jawaban yang selama ini kita cari. Dan kita tak pernah tahu jika tidak pernah mencobanya..
Kembali pada mencintai diri sendiri...
”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil, tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”
(Sayyid Quthb)
***************************************************************************************
Dan Kesinambungan Hal ini dengan Akidah dan Moralitas Bangsa ini,
Akidah yang lurus akan melahirkan akhlak yang sejahtera, adakah Akidah yang utuh adalah mereka yang mementingkan diri mereka sendiri?
Adakah mereka yang bertindak curang?
Dan tidak mau tahu ketika rakyatnya menanggung rasa lapar dan ketakutan ?
Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-NYA...
Tulisan ini, bukan untuk sebatas Sahabat membaca, tapi penulis mengajak Sahabat untuk berfikir jauh, dewasa, matang dan penuh dengan tanggung jawab yang sesungguhnya...dan yang lebih utama adalah jujur bertanya pada diri KITA sendiri,
apa saja yang sudah kita lakukan untuk orang lain?
Ingatkah ?
Kebesaran Kita saat ini tidak lebih dan kurang juga pengaruh dari sekitar. Karena tak akan ada sebuah Mesin yang berjalan tanpa puluhan dan ribuan kabel yang menyatu untuk ia menyala.
Kerusakan Akidah, meruntuhkan semua moralitas...
Keindahan dunia seolah menghapuskan semua tanggung jawab yang sebenar...
tanggung jawab siapa ketika orang tertsesat sementara KITA yang faham bersikap sebaliknya?
ku faham Kasih Sayang Tak berarti tak dapat membeda mana yang Benar dan Salah
Akidahlah yang menyusun konsiderans dan menetapkan nilai - nilai moralitas"
( Sayyid Quthb )
karena tidak ada moralitas yang hidup tegak dan sejahtera tanpa adanya akidah yang lurus ( ISLAM ). karena yang baik, belum tentu benar, dan yang benar musti dirujuk dalam KEBENARAN lagi ( Al Qur'an & Sunnah )
Dalam berjalan terbungkam membisu...,
Ada rasa menggelitik di dalam ini, Hati. Mengamati satu persatu tingkah polah dari bagian negeri ini. Nyaris membuat diriku sendiri putus asa. Tapi bukanlah sejati dari muslim jika ia mudah untuk mundur dari sebuah perjalanan dan ujiannya.
Merasakan setiap hembus nafas dari jerit - jerit hati itu, empati yang terus menerus mengasah dan mengajakku turut menyambut keprihatinan.
Apa yang dapat ku buat hari ini?
Rasanya belum cukup semua pengorbanan ini. Setiap kemurungan jiwa mereka, kesuraman langkah dan harapan adalah kesedihan yang mungkin kalian tak pernah itu.
Anak – anak jalanan, Jiwa fakir dan miskin. Semua terlantar. Krisis apa sebenarnya yang melanda negeri ini? Bukan, bukan hanya negeri ini, bahkan BUMI ini. Ketipisan dan Kepudaran Akidah meruntuhkan semua moralitas. Hatiku merah padam, berkecamuk dan muak...dibuatnya.
Mana janji anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara dalam pasal 34 ayat 1 di dalam Undang – Undang Negara 1945 di Indonesia ini?
Ku lihat anak – anak kecil berlarian mengitari lampu merah di Jakarta ini, wajah lusuh suara yang luruh menandakan keletihan. Sempatkah mereka makan pagi tadi?
Atau hanya sekedar mandi untuk membersihkan pakaian mereka....?
Naifkah aku?
Terserah.. namun kepedulian ini semakin memilukan...
********************************************************************************
Pemandangan terbalik dengan semua orang yang bertendeng dengan jas dan dasi mahal mereka. Kecantikkan dari pesona apa yang mereka kenakan. Kemahalan kendaraan yang mereka guna. Satu anak kecil mengais rupiah demi sesuap nasi dan mungkin membeli buku sekolahnya, ditepiskan tangan menengadah itu dengan kasarnya, muram dan geram raut sang Tuan, sang Nona..., Jiwa kecil tak marah..terdiam menunduk lesu
Terlihat takut hingga tangan kaku, mata yang tak cemerlang kerlingannya....
Allahu Rabbi anta ya Rabbi...,
Siapalah kami ini ya Allah?
Bukan siapa - siapa jika tanpa-MU...
Gerimis sangat pilu dalam hatiku...
Mungkin..
Telaga bening masih tersisa pada pemilik syurga Jiwa..
Tak banyak dari mereka dan apa yang diperbuatnya, namun kasih sayang senyuman dan keramahan adalah kebahagiaan yang nyata berusaha berbagi dan menjadi keutamaan untuk saling memberi.
Dalam buku yang baru saja ku beli ini “Life Lessons For Women”
Dikatakan di dalamnya bab I bahwasannya “Mencintai diri sendiri itu adalah hal yang terpenting sebelum kita bertindak pada yang lain”
Namun penulis tulisan ini memiliki pendapat sendiri...
“Mencintai diri sendiri sebelum bertindak pada yg lain itu memang penting..
tapi caraku mencintai diriku adalah dengan berbagi kasih sayang terhadap sekitarku..
memberi banyak cinta di sekelilingku..
karena hidup yg juga untuk Kehidupan orang lain bagiku..
itulah yang membuat pribadi ini menjadi di luar "kebiasaan" seperti yg lain...
Dan akupun ingin menjadi lebih memahami diriku dengan seperti ini”
Lalu Bagaimana dengan Sahabat Pembaca ?
Pernah terfikirkah?
Ketika kita sering dan menomor satukan diri sendiri?
Apa yang akan terjadi ke depan?
Kita akan menjadi orang yang bermental lemah, manja, dan egois. Karena hanya mencintai diri sendiri itu sama saja dengan membuat perasaan kita nyaman terlebih dahulu, dan pernahkah terlintas dalam fikiran KITA? Karena terkadang sesuatu yang dilakukan dari apa yang tidak kita sukai ( keterpaksaan) itu bisa menjadi wawasan baru, pengalaman yang dapat menambah persepsi kita. Atau bahkan menjadi satu jawaban yang selama ini kita cari. Dan kita tak pernah tahu jika tidak pernah mencobanya..
Kembali pada mencintai diri sendiri...
”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil, tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”
(Sayyid Quthb)
***************************************************************************************
Dan Kesinambungan Hal ini dengan Akidah dan Moralitas Bangsa ini,
Akidah yang lurus akan melahirkan akhlak yang sejahtera, adakah Akidah yang utuh adalah mereka yang mementingkan diri mereka sendiri?
Adakah mereka yang bertindak curang?
Dan tidak mau tahu ketika rakyatnya menanggung rasa lapar dan ketakutan ?
Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-NYA...
Tulisan ini, bukan untuk sebatas Sahabat membaca, tapi penulis mengajak Sahabat untuk berfikir jauh, dewasa, matang dan penuh dengan tanggung jawab yang sesungguhnya...dan yang lebih utama adalah jujur bertanya pada diri KITA sendiri,
apa saja yang sudah kita lakukan untuk orang lain?
Ingatkah ?
Kebesaran Kita saat ini tidak lebih dan kurang juga pengaruh dari sekitar. Karena tak akan ada sebuah Mesin yang berjalan tanpa puluhan dan ribuan kabel yang menyatu untuk ia menyala.
Kerusakan Akidah, meruntuhkan semua moralitas...
Keindahan dunia seolah menghapuskan semua tanggung jawab yang sebenar...
tanggung jawab siapa ketika orang tertsesat sementara KITA yang faham bersikap sebaliknya?
ku faham Kasih Sayang Tak berarti tak dapat membeda mana yang Benar dan Salah
Beginilah Cara Malaikat Maut Memberitahu Ajal Kita

Sebagian Para Nabi berkata kepada Malaikat pencabut Nyawa. “Tidakkah Kau memberikan Aba-aba atau peringatan kepada Manusia bahwa kau datang sebagai malaikat pencabut nyawa sehingga mereka akan lebih hati-hati?”
Malaikat itu menjawab. “Demi Allah, aku sudah memberikan aba-aba dan tanda-tandamu yang sangat banyak berupa penyakit, uban, kurang pendengaran, penglihatan mulai tidak jelas (terutama ketika sudah tua). Semua itu adalah peringatan bahwa sebentar lagi aku akan menjemputnya. Apabila setelah datang aba-aba tadi ia tidak segera bertobat dan tidak mempersiapkan bekal yang cukup, maka aku akan serukan kepadanya ketika aku cabut nyawanya: “Bukan kah aku telah memberimu banyak aba-aba dan peringatan bahwa aku sebentar lagi akan datang? Ketahuilah, aku adalah peringatan terakhir, setelah ini tidak akan datang peringatan lainnya “ (HR imam qurthubi)
Beginilah cara kerja Malaikat Maut
Nabi Ibrahim pernah bertanya kepada Malaikat maut yang mempunya dua mata diwajahnya dan dua lagi tengkuknya. “Wahai malaikat pencabut nyawa, apa yang kau lakukan seandainya ada dua orang yang meninggal diwaktu yang sama; yang satu berada di ujung timur yang satu berada diujung barat, serta ditempat lain tersebar penyakit yang mematikan dan dua ekor bintang melata pun akan mati?”
Malaikat pencabut nyawa berkata:” Aku akan panggil ruh-ruh tersebut, dengan izin Allah, sehingga semuanya berada diantara dua jariku, Bumi ini aku bentangkan kemudian aku biarkan seperti sebuah bejana besar dan dapat mengambil yang mana saja sekehendak hatiku “(HR abu Nu’aim)
Ternyata Orang Mati Mendengar Tapi Tidak Bisa Menjawab
Rasullullah SAW memerintahkan agar mayat-mayat orang kafir yang tewas pada perang badar dilemparkan ke sebuah sumur tua. Kemudian beliau mendatanginya dan berdiri di hadapannya. Setelah itu, beliau memanggil nama mereka satu-satu: “Wahai fulan bin fulan, fulan bin fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian untuk kaliab betul-betul ada?
Ketahuilah sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar-benar ada dan terbukti.”
Umar lalu bertanya kepada Rasulullah. “Wahai Rasul, mengapa engkau mengajak bicara orang-orang yang sudah menjadi mayat?”
Rasulullah menjawab. "Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran, kalian memang tidak mendengar jawaban mereka atas apa yang tadi aku ucapkan, Tapi ketahuilah, mereka mendengarnya, hanya saja tidak dapat menjawab” (HR Bukhari Muslim)
Pembicaraan Kita Sewaktu Dikandungan
Suatu ketika..seorang bayi siap
dilahirkan ke dunia,menjelang diturunkan ... Dia bertanya kepada TUHAN :
Bayi : "Para
malaikat disini mengatakan, bahwa besok engkau akan mengirimku ke dunia,
tetapi.... Bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah"
TUHAN : "AKU
telah memilih satu malaikat untukmu.. Ia akan menjaga dan mengasihimu"
Bayi : "Tapi
di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini cukup bagi
saya untuk bahagia"
TUHAN :
"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu
akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia"
Bayi : "Dan
apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"
TUHAN :
"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa"
Bayi : "Saya
mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi
saya"?
TUHAN :
"Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun"
Bayi : "Tapi
saya akan bersedih karena tidak melihat engkau lagi"
TUHAN :
"Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang AKU, dan akan mengajarkan
bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKU, walaupun sesungguhnya AKU selalu
berada di sisimu"
Saat itu surga begitu tenangnya...
Sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya
Bayi :
"TUHAN.......... Jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau
memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku nanti"?
TUHAN : "Kamu
dapat memanggil nama malaikatmu itu...... I B U ..."
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Kenanglah ibu yang menyayangimu..
Untuk ibu yang
selalu meneteskan air mata ketika kau pergi...
Ingatkah engkau ketika ibumu
rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut
membalut tubuhmu..
Ingatkah engkau.. Ketika jemari ibu mengusap lembut
kepalamu?
Dan ingatkan engkau ketika air mata menetes dari
mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit...
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan
kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan..
Kembalilah... Mohon maaf pada ibumu yang selalu
rindu akan senyumanmu..
Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan
kau rindukan di masa datang, ketika ibu telah tiada...
Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita...,
tak ada lagi senyuman indah... Tanda bahagia..
Yang ada hanyalah kamar kosong
tiada penghuninya..
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya..
Tak
ada lagi.. Dan tak akan ada lagi.. Yang akan meneteskan air mata mendo'akanmu
disetiap hembusan nafasnya..
Pulang.. Dan kembalilah segera... Peluklah ibu yang
selalu menyayangimu..
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan
berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..
IBU adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan kepada kita , jagalah perasaan
seorang ibu karena dia yang dipercaya Tuhan untuk menjaga kita
Langganan:
Entri (Atom)