Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak
laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran".
Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama".
Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?"
Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras".
Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis".
Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."
Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anak pun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...
***************************************************************************
Inti dari Cerita ini adalah:
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan"
Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak.
Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.
Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat:
" Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya".
Senin, 12 Desember 2011
Kisah Confusius Dengan Muridnya
Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya
baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu
toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati
pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata
kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."
Yan Hui berkata "baiklah" lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".
Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."
Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
*****************************************************************************
Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.
Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga
Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.
BE A WINNER!
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata
kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."
Yan Hui berkata "baiklah" lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".
Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."
Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
*****************************************************************************
Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.
Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga
Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.
BE A WINNER!
Minggu, 11 Desember 2011
Allah Tidak Tidur dan Selalu Melihat Kita
Suatu ketika, seorang pemuda bergelimang dosa mendatangi Ibrahim bin Adham,
"Aku sudah tercebur maksiat cukup dalam,
Bagaimana aku dapat berhenti dari semua perbuatan tercela ini ?"
Ibrahim
bin Adham terdiam sejenak, lalu berucap, "Jika kamu bisa memegang lima
hal ini, niscaya kau terjauh dari perbuatan maksiat.
Pertama, jika kau berbuat maksiat, usahakanlah Allah tak melihat perbuatanmu."
Pemuda tersebut terperangah,
"Lalu, kenapa kau berbuat dosa seakan-akan Allah tidak melihatmu ?" tanya Ibrahim
bin Adham
Pemuda itu tertunduk, malu, "Katakanlah yang kedua !"
"Jika kau masih berbuat maksiat, jangan lagi kau makan rezeki Allah." jawab Ibrahim
bin Adham
kembali
pendosa itu kaget, "Bagaimana mungkin ? Bukankah semua rezeki datang
dari Allah ? Air liur di mulutku ini pun datang dari Allah."
Ibrahim
berkata, "Pantaskah memakan rezeki Allah sedang kita melanggar perintah
dan melakukan larangan-Nya ?
Ibarat kamu numpang makan kepada orang,
sementara setiap saat kau selalu mengecewakannya dan ia melihat
perbuatanmu,
Masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya ?"
"Sekarang katakanlah yang ketiga." pinta sang pemuda
"Ketiga, jika kau masih berbuat dosa, janganlah tinggal di bumi Allah." jawab Ibrahim
bin Adham
Air mata pendosa itu menitik.
"Keempat,
jika kau masih berbuat maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang
mencabut nyawamu sebelum kau bertaubat, tolaklah.
Janganlah mau nyawamu
dicabut."
"Tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut ...."
"Jika
begitu, mengapa kau masih berbuat maksiat ?
Tidakkah terpikir olehmu,
jika suatu ketika malaikat maut itu datang justru pada saat kamu sedang
mencuri, menipu, berzina atau melakukan dosa lainnya ?" jawab Ibrahim
bin Adham
Pemuda itu tak kuasa menahan tangis.
"Lalu, hal apa yang terakhir ?"
"Kelima,
jika kamu masih ingin berbuat dosa dan malaikat maut sudah mencabut
nyawamu justru ketika kau melakukan dosa maka janganlah mau kalau nanti
malaikat Malik memasukkanmu ke neraka.
Mintalah kesempatan hidup sekali
lagi !" jawab Ibrahim
bin Adham
"Bagaimana bisa ?
Bukankah hidup hanya sekali ?" tanya sang pemuda
Ibrahim berkata, "Karena hidup hanya sekali, kenapa kita masih menyia-nyiakan hidup ini dengan menumpuk dosa ?"
"Cukup !
Aku tak sanggup lagi mendengarnya," ucap pemuda itu seraya menangis lalu pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham.
Sejak itu ia tak lagi mendekati maksiat dan orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah.
Semoga bermanfaat.
Sabtu, 10 Desember 2011
KISAH NYATA: ** AKU DATANG MISYA **
Aku
telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani
semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah
aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis
yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata
dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada
juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah
kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih
terlalu muda untuk menikah.
Akhirnya
, aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku
mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah
mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakan
pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.
“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.
Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.
“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.
Karena
aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah
jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal
yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu,
aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan
Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti
air mengalir.
Lewat
kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan
Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu
mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya?
Aku disuruh
menghadap murabbinya (guru/pembimbing).
“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.
“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.
Aku
baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh
menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul
walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali
diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa
pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah
(pergerakan).
***
Aku
catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2
teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar
akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga
kali dan “Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan
agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik
menyengat.
Kutelepon
Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya
dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah
nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari
masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering
kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga,
pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya.
Dengan
polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang membuatku
heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti
kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama
ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering
kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.
Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal.
“Aduh,
kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu?
Kalau akan menikahi
akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’
tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak.
Apalagi ente
sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah,
bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”
“Lho
kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya
tadi, liqa’?
Ya memang aku tak ikut.
Ane juga nggak punya MR dong.
Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo.
***
Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.
“Assalamu’alaikum,
akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum
menakdirkan kita berjodoh.
Semoga kita sama-sama mendapatkan yang
terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama
ini, Assalamu’alaikum,”
“Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.
Aku
masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban
tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai.
“Astaghfirullah,” kusebut
kata-kata itu berulang kali.
Apa yang harus kuperbuat?
Tak tahu harus
bagaimana. Tapi sohib dekatku yang dari tadi memperhatikanku waktu
menelepon nyeletuk.
“Ditolak
ya?
Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain
ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”
Aku
jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam
pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.
“Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.
Ternyata
bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan
aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam,
padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku
rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab
karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih
Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan
bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.
Hatiku
sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali
kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus
kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru
begitu saja kok nyerah.
Tanpa
sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orang tua Maisya. Yang kutahu
bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8
tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan
itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan
tak akan menghubunginya lagi.
Dengan
penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu
sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu?
Untuk
beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang
harus kulakukan?
Kuputuskan
untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan
bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di
penghujung surat tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita
tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk
mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas
untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”
Kupikir
Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku
berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan
“rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling
dalam.
Surat
kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu
Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara
aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak
perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia
menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat
tersebut.
***
Seminggu
kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab”
, dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,
“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?
Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.
Hatiku
berbunga-bunga mendengarnya,. Tapi langsung surut lagi karena
pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum
kecut menanggapi omongan kak Dahlia.
“Begini
aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan
rayu Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok
sama kamu.”
Aku
izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh
doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah
itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang
aku harus bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan
sedikit gagap aku iyakan undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya
datang,” jawabku.
Aku
duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit
basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum
ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia
memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah
saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa
sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?
Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh.
Tidak
lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku
tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang
untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar
biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh
Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya
bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! Aku tak bisa
ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.
Tak
sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan?
Kenapa
rasanya agak grogi?
Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini.
Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama
secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu
jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah
buku-buku kecil tentang agama.
Di
bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus
patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap
rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia
berhasil.
Ternyata
benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan
kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak
keluargaku di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya
setuju dengan tawaranku.
Kutanya
ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika
meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan
barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya.
Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah
kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau
bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh…, senangnya.
Sebelumnya
aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan,
ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang
Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal
setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya
anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib.
Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau
lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin
Abi Thalib.
Satu
hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan
Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab.
Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka
merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian
mengharamkannya. Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi
nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah
ditolak.
Aku
datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana
aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun?
Sambutan hambar
kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang
merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak
hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya.
Kemudian
acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu
hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri.
Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya
menerima lamaranku.
Diakhir
acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah
satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah
nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya.
Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau
menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku.
Setelah
acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan.
Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya
dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.
Ternyata
ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan
membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh
lamaran orang lain.
Orang
yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga.
Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran,
dan juga perhiasan.
Apa
yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa
pelamar kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan?
Maisya tak
mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.
Bahkan
setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai
lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan?
“Kembalikan semua barang
bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan,
kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan
cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku.
Mendengar
semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku
adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat
itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus
menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.
***
Beberapa
hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi
Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia
nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan
nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku.
“Saya kasih tau ya!
Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya
rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya
kerjaan, rumah besar, mobil ada dua.
Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar
Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.”
Hhh...!
Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol
diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal
itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar
langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku.
Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku
belum selesai.
Suatu
hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30
tahun ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku,
“Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu
saja sudah belagu,” cerocosnya.
“Mohon tenang dulu, apa masalahnya?
Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.
“Kamu
tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah
muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu
mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.
“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.
“Tidak!” jawabnya ketus.
“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.
“Aaah
udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya.
“Eh aku kasih tau ya, kau tuh
jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”,
ancamnya.
Dengan
sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti
ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana
jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya
keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa
yang dia katakan.
Kejadian
itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian
dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi
mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka
menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.
Yang
jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu,
maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi
Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.
Dari
telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga
besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih
akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya
memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga.
***
Undangan
mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya
banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat
Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga,
tetangga, dan kenalan Maisya.
Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya,
“Akhi
siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini?
Tapi jangan merasa berat dan
terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap
menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku
tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri
sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini.
Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.
Panitia
pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan
ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria
dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam.
Aku tak peduli.
Keluarga
Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar
busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada
umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas
kutolak mentah-mentah.
Ada
juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik
gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai
mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.
Tibalah
saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana
jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang
saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu
pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan
tambahan. Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada
pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang
dan siap menghadiri acara nikah besoknya.
Aku
minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior
kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai
Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai
pria.
Dengan
sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul
yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya
seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.
Tangisku
meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin
dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan
saudara yang mendampingiku.
Subhanallah,
aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang
didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”.
Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai
dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui
kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan
hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya.
Suami Maisya
Diambil dari Buku “Semudah Cinta Di Awal Senja” Terbitan Nikah Media Samara
Tuhan Menegur Karena Dia Sayang
Dikisahkan,
seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung
bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada
tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini
berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja
di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat
menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang
bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat
mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak
lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.
Akhirnya
untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang
logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang
bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu
melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian
mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap
tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak
keatas.
Tiba-tiba
mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang
ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang
ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu
mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor
dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan
diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.
Sahabat
yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hamba-Nya, Allah
seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala
dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan. Allah seringkali
menjatuhkan “koin uang” atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah
kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingat-Nya,
menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas
rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan
kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah
kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali
hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas,
mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya
dan bersyukur atas rahmat-Nya.
Karena
itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalam an
menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan
berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia
agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah
kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur
atas rahmat-Nya. Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan
yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan
dari Tuhan untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita
semakin mempererat hubungan dengan Allah.”
Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan
kekuasaan Allah, dan menyadari bahwa kita adalah makhluk-Nya yang sangat
lemah dan tidak berdaya.
Sahabat
yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa
mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki
pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan
panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita
nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain
sebagainya.
Semua
itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak
ternilai harganya.
Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah
kepada-Nya,
ataukah menunggu Allah menjatuhkan “batu” kepada kita?
KASIHILAH ORANG YANG PALING DEKAT DENGANMU
Lima
tahun yang lalu, Allah telah memanggil orang yang kusayangi, sering aku
bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surga,
baik-baik sajakah?
Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan
seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang
masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya
merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan
rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur.
Ohhh... aku harus
menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku
menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang
masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran
ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari
ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja
sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya
langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika
aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak
menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah
dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan..... di
sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie
instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Ya Allah..!
Ya Allah..!
Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan
langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan
mainannya, dengan pukulan-pukulan!
Dia hanya menangis, sedikitpun tidak
meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi.
"Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi.
Tapi ayah belum
pulang, jadi aku ingin memasak mie instan.
Aku ingat, ayah pernah
mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada
orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan
menggunakan air panas untuk memasak mie.
Satu untuk ayah dan yang satu
lagi untuk saya ...
Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi
aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah
pulang.
Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain
dengan mainan saya ...
Saya minta maaf Ayah ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan
bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari
kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah,
Aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan
akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain
komputer game dengan gembira.
Aku marah, membawanya pulang dan
menghujaninya dengan pukulan-pukulan.
Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Ayah".
Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Ayah".
Selang beberapa lama
aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang
diadakan oleh sekolah, karena yang diundang adalah siswa dengan ibunya.
Dan itulah alasan ketidak hadirannya karena ia tidak punya ibu.....
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca
dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di
kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih
ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya
bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun telah tiba. tapi astagfirullah, anakku membuat masalah lagi.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun telah tiba. tapi astagfirullah, anakku membuat masalah lagi.
Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan
di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena
pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang
sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka
menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya
telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji
untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bias
menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak
ini sudah benar-benar keterlaluan.
Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya,
dia meminta maaf : "Maaf, Ayah".
Tidak ada tambahan satu kata pun untuk
menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya,
adalah : "Surat-surat itu untuk ibu.....".
Tiba-tiba mataku
berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus
bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak
surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah
menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau
menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak
dapat memposkan surat-suratku.
Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke
kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya
sekaligus".
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan
kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa
yang harus aku katakana ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, ibu sudah
berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan
sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan
sampai kepada ibu."
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang,
dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan
membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat
tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat
tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Ibu sayang', Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi ibu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Ibu sayang', Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi ibu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk
menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain
game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah
menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku,
tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari
saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia
begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.
Saya pikir
kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua,
saya rasa.
Tapi ibu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul
dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat ibu?
Temanku
bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka
kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu.
Tapi ibu, mengapa engkau
tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik,
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik,
Untuk para
istri, yang telah dianugerahi seorang suami yang baik, selalu
berterima-kasihlah setiap hari pada pasanganmu .
Dia telah rela
menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu,
mendukungmu, memanjakanmu, membimbingmu dan selalu setia menunggumu,
menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya,
kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan
dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada
emas permata, intan berlian yang bisa menggantikan posisinya.
Jumat, 09 Desember 2011
Harga Sebuah Waktu
Seorang Ayah pulang ke rumah dalam keadaan letih di sambut oleh anak lelakinya yg berusia 7 tahun didepan pintu.
Anak: Ayah, boleh tidak Kevin bertanya?
Ayah: “Ya…nak tanya apa?”
Anak: “Berapa pendapatan ayah per jam ?”
Ayah: “Itu bukan urusan kamu, buat apa kamu sibuk tanya?” si ayah mulai
marah karena merasa lelah.
Anak: “Kevin tidak tahu ayah. Tolonglah beritahu berapa pendapatan ayah satu jam
bekerja di kantor?” si anak mulai merayu.
Ayah: “Rp 10.000 perjam, memang kenapa?”
Anak: “Oh…” si anak menjawab sambil tunduk ke bawah.
Kemudian memandang wajah ayahnya sambil bertanya, “Ayah….boleh tidak Kevin pinjam Rp 5000
dari ayah?”.
Si Ayah mulai menjadi berang dan berkata, ” oh, itu sebabnya kamu tanya berapa pendapatan ayah, untuk apa uang sebanyak 5000 ?
mau buat beli barang mainan lagi?
Ayah kerja capek-capek bukan untuk buang uang sembarangan. Sekarang pergi ke kamar dan tidur, sudah lewat jam tidur nih…”
Anak kecil 7 tahun itu terdiam dan perlahan-lahan melangkah kembali ke kamar tidurnya.
Si ayah duduk di atas sofa dan mulai memikirkan mengapa anaknya yg sekecil itu memerlukan uang sebanyak itu.
Kira-kira dua jam kemudian si ayah kembali tenang dan berpikir, kemungkinan anaknya benar-benar memerlukan uang untuk keperluan di sekolahnya karena anaknya tidak pernah meminta uang sebanyak itu sebelumnya.
Dengan perasaan bersalah si ayah melangkah menuju kamar anaknya dan membuka pintu. Didapati anaknya masih belum tidur.
“Kalau kamu betul-betul perlu uang, nah ambillah Rp 5000 ini”, kata si ayah.
Kevin segera bangun dan tersenyum girang. “Terima kasih banyak ayah”, katanya begitu gembira. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya dan mengeluarkan selembar lima ribuan yg sudah kusut.
Saat di lihat uang itu oleh ayahnya, si ayah kembali marah. “kenapa kamu minta uang lagi sedangkan kamu sudah ada uang sebanyak itu?
Dan dari mana kamu dapat uang di bawah bantal itu?” bentak si ayah.
Si anak menunduk tidak berani menatap wajah ayahnya. “uang ini kevin kumpulkan dari uang saku sekolah yang ayah beri tiap hari. kevin minta lagi 5 ribu dari ayah sebab uang yang kevin punya sekarang tidak cukup”, jawab si anak perlahan.
” Tidak cukup? memang mau buat beli apa?”, si ayah bertanya balik.
“Ayah, sekarang kevin sudah punya 10 ribu. Ayah ambil uang ini. Kevin mau beli satu jam waktu dari kerja ayah. kevin ingin, ayah pulang kerja lebih awal besok. kevin kangen mau makan malam bersama ayah. “, jawab si anak tanpa berani memandang wajah ayahnya. Terdiam dan hanya merasakan air bening jatuh dari matanya.
Sobat, sering kita sibuk bekerja dan tidak bisa membagi waktu untuk orang-orang yang kita sayangi.
Anak: Ayah, boleh tidak Kevin bertanya?
Ayah: “Ya…nak tanya apa?”
Anak: “Berapa pendapatan ayah per jam ?”
Ayah: “Itu bukan urusan kamu, buat apa kamu sibuk tanya?” si ayah mulai
marah karena merasa lelah.
Anak: “Kevin tidak tahu ayah. Tolonglah beritahu berapa pendapatan ayah satu jam
bekerja di kantor?” si anak mulai merayu.
Ayah: “Rp 10.000 perjam, memang kenapa?”
Anak: “Oh…” si anak menjawab sambil tunduk ke bawah.
Kemudian memandang wajah ayahnya sambil bertanya, “Ayah….boleh tidak Kevin pinjam Rp 5000
dari ayah?”.
Si Ayah mulai menjadi berang dan berkata, ” oh, itu sebabnya kamu tanya berapa pendapatan ayah, untuk apa uang sebanyak 5000 ?
mau buat beli barang mainan lagi?
Ayah kerja capek-capek bukan untuk buang uang sembarangan. Sekarang pergi ke kamar dan tidur, sudah lewat jam tidur nih…”
Anak kecil 7 tahun itu terdiam dan perlahan-lahan melangkah kembali ke kamar tidurnya.
Si ayah duduk di atas sofa dan mulai memikirkan mengapa anaknya yg sekecil itu memerlukan uang sebanyak itu.
Kira-kira dua jam kemudian si ayah kembali tenang dan berpikir, kemungkinan anaknya benar-benar memerlukan uang untuk keperluan di sekolahnya karena anaknya tidak pernah meminta uang sebanyak itu sebelumnya.
Dengan perasaan bersalah si ayah melangkah menuju kamar anaknya dan membuka pintu. Didapati anaknya masih belum tidur.
“Kalau kamu betul-betul perlu uang, nah ambillah Rp 5000 ini”, kata si ayah.
Kevin segera bangun dan tersenyum girang. “Terima kasih banyak ayah”, katanya begitu gembira. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya dan mengeluarkan selembar lima ribuan yg sudah kusut.
Saat di lihat uang itu oleh ayahnya, si ayah kembali marah. “kenapa kamu minta uang lagi sedangkan kamu sudah ada uang sebanyak itu?
Dan dari mana kamu dapat uang di bawah bantal itu?” bentak si ayah.
Si anak menunduk tidak berani menatap wajah ayahnya. “uang ini kevin kumpulkan dari uang saku sekolah yang ayah beri tiap hari. kevin minta lagi 5 ribu dari ayah sebab uang yang kevin punya sekarang tidak cukup”, jawab si anak perlahan.
” Tidak cukup? memang mau buat beli apa?”, si ayah bertanya balik.
“Ayah, sekarang kevin sudah punya 10 ribu. Ayah ambil uang ini. Kevin mau beli satu jam waktu dari kerja ayah. kevin ingin, ayah pulang kerja lebih awal besok. kevin kangen mau makan malam bersama ayah. “, jawab si anak tanpa berani memandang wajah ayahnya. Terdiam dan hanya merasakan air bening jatuh dari matanya.
Sobat, sering kita sibuk bekerja dan tidak bisa membagi waktu untuk orang-orang yang kita sayangi.
Langganan:
Postingan (Atom)