Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Senin, 05 Desember 2011
Rencana Tuhan Pasti Indah
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Renungan, ** BERSABARLAH … Maka Kamu Akan Mengerti **
Suatu saat kau akan
bisa mengerti mengapa mawar yang indah itu harus berduri, ketika saat
ini kau selalu mengeluh sakit saat berusaha memetik dan menggenggam
mawar karena durinya menusukmu…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa air yang jernih itu mampu menjadi keruh dan kotor serta menyimpan banyak penyakit jika kau biarkan air itu diam dan tak mengalir…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa waktu adalah uang yang harus kau kau jaga agar waktu itu tak terbuang percuma…
Suatu saat kau akan mengerti tentang sesuatu yang saat ini belum kau mengerti. Dan kau akan bisa mengerti ketika kau telah berjibaku dengan waktu dan akal pikiranmu…
Lihatlah pada apa yang Allah perlihatkan padamu…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa hari ini Allah mengambil apa yang Dia titipkan padamu sedang kau mencintainya dengan amat sangat hingga akhirnya membuatmu menangis karena kehilangannya..
Suatu saat kau akan akan mengerti mengapa Allah melakukan sesuatu yang tidak kau sukai hingga membuatmu tak berhenti untuk mengeluh…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa Allah memberikanmu sesuatu yang membuat hatimu amat kecewa hingga membuatmu sulit untuk mensyukuri apa yang telah diberi-Nya..
Suatu saat kau akan mengerti mengapa harus ada jalan mulus namun menyesatkan dan jalan terjal namun mengantarmu pada kebahagiaan…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa kau harus memperlakukan cinta dihatimu dengan penuh kehati-hatian…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa kau harus melelahkan diri dalam perjuangan demi meraih sebuah kebahagiaan…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa hidup harus kau jalani dengan tertawa dan menangis..
Dan suatu saat kau akan mengerti mengapa hidupmu harus diatur sedemikian rupa, berbeda dengan makhluk-Nya yang lain…
Kau akan mengerti semuanya tatkala kau biarkan jiwamu mendesah, akalmu berpikir, dan imanmu ikut serta mengiringi..
Kau akan mengerti kala Allah ingin membuatmu menjadi hamba yang kuat..
Menjadi hamba yang teguh…
Menjadi hamba yang cerdas menata hati..
Menjadi hamba yang tak mudah berputus asa…
Menjadi hamba yang mengerti akan hakikat kehidupan…
Dan menjadi hamba yang akan dirindukan oleh syurga dan ridho-Nya…
Setiap masalah memiliki “ MASA” yang berbeda untuk terselesaikan atau terlalui, kita tidak pernah tau akan seperti apa masalah itu nantinya,maka jalan terbaik yang harus ditempuh untuk pertama kalinya adalah bersabarlah,
Sadar atau tidak apapun yang ada sama Kita, baik berupa tingkah laku, cara bicara, prinsip, cara pandang di setiap hal itu adalah “ HASIL DARI BELAJAR ”, belajar dari segala hal yang kita temui, belajar dari apa-apa yang kita dengar belajar dari apa-apa yang kita lihat, belajar dari apa-apa yang kita rasa. Jadi kesabaran bukan paket instan yang kita bisa dapatkan dalam bentuk jadi..melainkan butuh sebuah PROSES… ya.. PROSES belajar menjadi seorang yang SABARr.
Mengutip perkataan orang bijak. “Tuntutlah Ilmu ( Belajar ) dari buaian hingga ke liang lahat”,, bukan saja kesabaran. Tapi belajar setiap hal-hal baik..
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
--- Mulailah untuk berfikir setiap kali akan melangkah, dan tentukan apa apa yang terbaik bagi masa DEPAN, kejar dan genggamlah ia,lalu tersenyum dan “ BERMIMPILAH”….sebab suatu hari kelak kamu akan terbangun dan tersenyum karena beberapa mimpimu telah kamu genggam dan nyata ---
Suatu saat kau akan mengerti mengapa air yang jernih itu mampu menjadi keruh dan kotor serta menyimpan banyak penyakit jika kau biarkan air itu diam dan tak mengalir…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa waktu adalah uang yang harus kau kau jaga agar waktu itu tak terbuang percuma…
Suatu saat kau akan mengerti tentang sesuatu yang saat ini belum kau mengerti. Dan kau akan bisa mengerti ketika kau telah berjibaku dengan waktu dan akal pikiranmu…
Lihatlah pada apa yang Allah perlihatkan padamu…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa hari ini Allah mengambil apa yang Dia titipkan padamu sedang kau mencintainya dengan amat sangat hingga akhirnya membuatmu menangis karena kehilangannya..
Suatu saat kau akan akan mengerti mengapa Allah melakukan sesuatu yang tidak kau sukai hingga membuatmu tak berhenti untuk mengeluh…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa Allah memberikanmu sesuatu yang membuat hatimu amat kecewa hingga membuatmu sulit untuk mensyukuri apa yang telah diberi-Nya..
Suatu saat kau akan mengerti mengapa harus ada jalan mulus namun menyesatkan dan jalan terjal namun mengantarmu pada kebahagiaan…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa kau harus memperlakukan cinta dihatimu dengan penuh kehati-hatian…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa kau harus melelahkan diri dalam perjuangan demi meraih sebuah kebahagiaan…
Suatu saat kau akan mengerti mengapa hidup harus kau jalani dengan tertawa dan menangis..
Dan suatu saat kau akan mengerti mengapa hidupmu harus diatur sedemikian rupa, berbeda dengan makhluk-Nya yang lain…
Kau akan mengerti semuanya tatkala kau biarkan jiwamu mendesah, akalmu berpikir, dan imanmu ikut serta mengiringi..
Kau akan mengerti kala Allah ingin membuatmu menjadi hamba yang kuat..
Menjadi hamba yang teguh…
Menjadi hamba yang cerdas menata hati..
Menjadi hamba yang tak mudah berputus asa…
Menjadi hamba yang mengerti akan hakikat kehidupan…
Dan menjadi hamba yang akan dirindukan oleh syurga dan ridho-Nya…
Setiap masalah memiliki “ MASA” yang berbeda untuk terselesaikan atau terlalui, kita tidak pernah tau akan seperti apa masalah itu nantinya,maka jalan terbaik yang harus ditempuh untuk pertama kalinya adalah bersabarlah,
Sadar atau tidak apapun yang ada sama Kita, baik berupa tingkah laku, cara bicara, prinsip, cara pandang di setiap hal itu adalah “ HASIL DARI BELAJAR ”, belajar dari segala hal yang kita temui, belajar dari apa-apa yang kita dengar belajar dari apa-apa yang kita lihat, belajar dari apa-apa yang kita rasa. Jadi kesabaran bukan paket instan yang kita bisa dapatkan dalam bentuk jadi..melainkan butuh sebuah PROSES… ya.. PROSES belajar menjadi seorang yang SABARr.
Mengutip perkataan orang bijak. “Tuntutlah Ilmu ( Belajar ) dari buaian hingga ke liang lahat”,, bukan saja kesabaran. Tapi belajar setiap hal-hal baik..
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
--- Mulailah untuk berfikir setiap kali akan melangkah, dan tentukan apa apa yang terbaik bagi masa DEPAN, kejar dan genggamlah ia,lalu tersenyum dan “ BERMIMPILAH”….sebab suatu hari kelak kamu akan terbangun dan tersenyum karena beberapa mimpimu telah kamu genggam dan nyata ---
Si Bocah Amerika Belajar Islam
Kisah spiritual anak
kecil yang memeluk islam hanya karena dia baca mengenai buku Islam,
setelah sebelumnya orang tuanya memberinya semua buku semua agama yang
ada di dunia, Orang tua mutusin agar anaknya sendiri yang memilih
agamanya.
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Qur'an ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”.
Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?”.
Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan.
”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ?
Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ?
Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ?
Apakah pakaian ihram tersebut mahal ?
Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ?
Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidak tahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”.
Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari.
Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari.
Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin.
Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Qur'an.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ?
Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” tanya wartawan
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?” tanya wartawan
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,
”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
"ditulis oleh Abul-Jauzaa’ dari Majalah Qiblati, edisi 07 tahun II – April 2007M/Rabi’ul-Awwal 1428 H"
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Qur'an ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”.
Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?”.
Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan.
”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ?
Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ?
Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ?
Apakah pakaian ihram tersebut mahal ?
Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ?
Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidak tahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”.
Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari.
Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari.
Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin.
Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Qur'an.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ?
Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” tanya wartawan
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?” tanya wartawan
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,
”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
"ditulis oleh Abul-Jauzaa’ dari Majalah Qiblati, edisi 07 tahun II – April 2007M/Rabi’ul-Awwal 1428 H"
Suatu hari seorang Murid bertanya kepada Gurunya,
“Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki.
Cuma yang aneh, setiap ada jalan yang menurun, sang arif konon agak murung.
Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum.
Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini...?”
“Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan”, jelas sang Guru.
“Itu perlu kita jadikan cermin.
Ketika bernasib baik, sesekali perlu kita sadari bahwa suatu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan.
Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.
Ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis.
Optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras.”
“Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada di bawah,” sang Murid kembali bertanya.
“Alasannya adalah iman, karena kita yakin akan pertolongan Sang Maha Pencipta”, terang sang Guru.
“Hikmah selanjutnya..?”, sang murid meneruskan tanyanya.
“Orang yang terkenal satu ketika harus siap untuk dilupakan, orang yang di atas harus siap mental untuk turun ke bawah.
Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin,” sang Guru mengakhiri jawabannya.
“Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki.
Cuma yang aneh, setiap ada jalan yang menurun, sang arif konon agak murung.
Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum.
Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini...?”
“Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan”, jelas sang Guru.
“Itu perlu kita jadikan cermin.
Ketika bernasib baik, sesekali perlu kita sadari bahwa suatu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan.
Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.
Ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis.
Optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras.”
“Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada di bawah,” sang Murid kembali bertanya.
“Alasannya adalah iman, karena kita yakin akan pertolongan Sang Maha Pencipta”, terang sang Guru.
“Hikmah selanjutnya..?”, sang murid meneruskan tanyanya.
“Orang yang terkenal satu ketika harus siap untuk dilupakan, orang yang di atas harus siap mental untuk turun ke bawah.
Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin,” sang Guru mengakhiri jawabannya.
Minggu, 04 Desember 2011
Kisah Inspiratif Sepasang Suami Isteri Yang Memasuki Usia Senja
Disebuah rumah sederhana
yang asri tinggal sepasang suami isteri yang sudah memasuki usia
senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan
memiliki kehidupan sendiri yang mapan. Sang suami merupakan seorang
pensiunan sedangkan isterinya seorang ibu rumah tangga. Suami isteri
ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah mereka menolak ketika
putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka. Jadilah
mereka, sepasang suami isteri yang hampir renta itu menghabiskan waktu
mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa
dalam keluarga itu.
Suatu senja ba’da Isya disebuah mesjid tak jauh dari rumah mereka, sang isteri tidak menemukan sandal yang tadi dikenakannya waktu ke masjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri
“Kenapa Bu...?”
Isterinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”.
“Ya udah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. walau agak ragu sang isteri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami. Mengerti kegundahan isterinya, sang suami lalu mengeratkan genggaman pada tangan isterinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki isteriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya.
Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk- ku saat aku pulang,
Kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah,
serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan mereka pun mengarahkan langkahnya menuju rumah tempat bahagia bersama….
Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang isteri mulai mengalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan isterinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam
“Terima kasih ya, Bu ”.
“Tidak, Ibu yang terima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang isteri tersipu malu.
“Terima kasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup bapak lakukan.
Bapak takjub betapa luar biasanya Ibu.
Bapak tahu semua takkan terbalas sampai kapan pun” kata suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung disudut mata sang isteri
“Bapak kok bicara begitu..?
Ibu senang atas semuanya Pa,
Apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa.
Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama." Jawab Sang Isteri
Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, Setelah berpamitan pada sang isteri, ia menoleh sekali lagi pada sang isteri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang isteri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.
Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahiyat terakhir. Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada.
Sang isteri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal. Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang isteri.
Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.
Tak lama setelah kepergian suaminya, sang isteri bermimpi bertemu dengan suaminya. Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri isterinya dan menyisir rambut sang isteri dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan..?" tanya isterinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.
Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir, Bapak selalu butuh Ibu.
Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Lantas Bapak pun mohon izin untuk menjemput Ibu.” Jawab sang Suami
Isterinya menangis sebelum akhirnya berkata
“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri..
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."
Sang isteri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….....
Semoga Bermanfaat...
Suatu senja ba’da Isya disebuah mesjid tak jauh dari rumah mereka, sang isteri tidak menemukan sandal yang tadi dikenakannya waktu ke masjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri
“Kenapa Bu...?”
Isterinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”.
“Ya udah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. walau agak ragu sang isteri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami. Mengerti kegundahan isterinya, sang suami lalu mengeratkan genggaman pada tangan isterinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki isteriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya.
Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk- ku saat aku pulang,
Kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah,
serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan mereka pun mengarahkan langkahnya menuju rumah tempat bahagia bersama….
Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang isteri mulai mengalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan isterinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam
“Terima kasih ya, Bu ”.
“Tidak, Ibu yang terima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang isteri tersipu malu.
“Terima kasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup bapak lakukan.
Bapak takjub betapa luar biasanya Ibu.
Bapak tahu semua takkan terbalas sampai kapan pun” kata suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung disudut mata sang isteri
“Bapak kok bicara begitu..?
Ibu senang atas semuanya Pa,
Apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa.
Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama." Jawab Sang Isteri
Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, Setelah berpamitan pada sang isteri, ia menoleh sekali lagi pada sang isteri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang isteri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.
Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahiyat terakhir. Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada.
Sang isteri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal. Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang isteri.
Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.
Tak lama setelah kepergian suaminya, sang isteri bermimpi bertemu dengan suaminya. Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri isterinya dan menyisir rambut sang isteri dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan..?" tanya isterinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.
Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir, Bapak selalu butuh Ibu.
Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Lantas Bapak pun mohon izin untuk menjemput Ibu.” Jawab sang Suami
Isterinya menangis sebelum akhirnya berkata
“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri..
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."
Sang isteri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….....
Semoga Bermanfaat...
Duhai Bunda, Tersenyumlah
Seorang dosen memberi tugas yang unik kepada para mahasiswanya. “Coba
kalian tulis dua sampai tiga orang yang menurut kalian paling layak
masuk surga. Terserah kalian mau pilih siapa, yang jelas kalian harus
menyertakan alasannya mengapa memilih orang tersebut.
Minggu depan tugasnya sudah harus dikumpulkan. Ya”! perintah pak dosen.
Seminggu telah berlalu . Ada banyak orang yang disebutkan mahasiswa tadi,
ada yang memilih tokoh agama, ada yang memilih guru ngajinya, banyak yang memilih orang tuanya.
Semuanya memiliki alasan sendiri. Umumnya orang-orang yang terpilih memiliki sifat dan karakteristik yang dianggap baik.
Pak dosen hanya tersenyum tatkala memeriksa serta membaca tulisan dari para mahasiswanya tersebut.
Bahkan, salah seorang diantara mereka mencantumkan namanya sendiri sebagai salah seorang yang pantas masuk surga. Sampai akhirnya dia membaca sebuah tulisan. Mendadak mimik mukanya berubah.
Berikut petikannya....
BUNDA!.
Menurutku beliaulah yang paling layak masuk surga.
Mengapa bundaku, bukan yang lain?
Aku sadar. Bunda bukanlah orang yang ideal, beliau bukan seorang yang ahli agama,
beliau pun bukan seorang yang bagus perangainya.
Entahlah , aku tidak tahu apakah Bunda bahagia melahirkanku atau tidak.
Sebab, sampai aku sebesar ini, bunda belum sekalipun tersenyum manis kepadaku.
Yang ada hanya marah dan marah, yang ada hanya wajah kecut dan masam.
Apa pun yang aku lakukan selalu diomelinya, selalu dikomentarinya, selalu salah dalam pandangannya.
Entah apa yang ada dalam pandangan beliau.
Aku tak tahu sudah berapa kali bunda marah, sampai akupun menjadi kebal dengan kemarahannya.
Walaupun begitu, terkadang hatiku menangis, dalam hati selalu bertanya MENGAPA BUNDA BEGITU?
Mengapa Bunda tidak seperti ibu teman-temanku yang begitu ramah, sehingga anaknya bisa bermanja-manja.
Aku pun kasihan sama Bunda, betapa tidak enaknya hidup dalam kemarahan seperti itu.
Namun aku sadar, tiada guna mengeluh, hanya menambah beban dan sakit.
Aku yakin bahwa bunda pastinya sayang kepadaku, hanya saja cara menyampaikannya yang berbeda.
Bukankah aku bisa jadi sebesar ini karena jasa Bunda juga?
Bukankah aku bisa sekolah, bisa kuliah adalah jasa Bunda?
Karena itu, setulus hati aku mengatakan BUNDA ADALAH ORANG YANG PALING LAYAK MASUK SURGA!
Itulah harapan terbesarku.
MENGAPA?
JIKA SELAMA HIDUP AKU TIDAK PERNAH MELIHAT BELIAU TERSENYUM,
AKU INGIN BISA MELIHAT BUNDA TERSENYUM DI SURGA KELAK.
************************************************************************************************
Ya Tuhan , cukup sudah kiranya penderitaan Bundaku di dunia.
Janganlah Engkau tambahkan lagi penderitaannya di akhirat.
Ya Tuhan , aku ingin melihat Bunda tersenyum. Walau hanya sekali saja...!
Minggu depan tugasnya sudah harus dikumpulkan. Ya”! perintah pak dosen.
Seminggu telah berlalu . Ada banyak orang yang disebutkan mahasiswa tadi,
ada yang memilih tokoh agama, ada yang memilih guru ngajinya, banyak yang memilih orang tuanya.
Semuanya memiliki alasan sendiri. Umumnya orang-orang yang terpilih memiliki sifat dan karakteristik yang dianggap baik.
Pak dosen hanya tersenyum tatkala memeriksa serta membaca tulisan dari para mahasiswanya tersebut.
Bahkan, salah seorang diantara mereka mencantumkan namanya sendiri sebagai salah seorang yang pantas masuk surga. Sampai akhirnya dia membaca sebuah tulisan. Mendadak mimik mukanya berubah.
Berikut petikannya....
BUNDA!.
Menurutku beliaulah yang paling layak masuk surga.
Mengapa bundaku, bukan yang lain?
Aku sadar. Bunda bukanlah orang yang ideal, beliau bukan seorang yang ahli agama,
beliau pun bukan seorang yang bagus perangainya.
Entahlah , aku tidak tahu apakah Bunda bahagia melahirkanku atau tidak.
Sebab, sampai aku sebesar ini, bunda belum sekalipun tersenyum manis kepadaku.
Yang ada hanya marah dan marah, yang ada hanya wajah kecut dan masam.
Apa pun yang aku lakukan selalu diomelinya, selalu dikomentarinya, selalu salah dalam pandangannya.
Entah apa yang ada dalam pandangan beliau.
Aku tak tahu sudah berapa kali bunda marah, sampai akupun menjadi kebal dengan kemarahannya.
Walaupun begitu, terkadang hatiku menangis, dalam hati selalu bertanya MENGAPA BUNDA BEGITU?
Mengapa Bunda tidak seperti ibu teman-temanku yang begitu ramah, sehingga anaknya bisa bermanja-manja.
Aku pun kasihan sama Bunda, betapa tidak enaknya hidup dalam kemarahan seperti itu.
Namun aku sadar, tiada guna mengeluh, hanya menambah beban dan sakit.
Aku yakin bahwa bunda pastinya sayang kepadaku, hanya saja cara menyampaikannya yang berbeda.
Bukankah aku bisa jadi sebesar ini karena jasa Bunda juga?
Bukankah aku bisa sekolah, bisa kuliah adalah jasa Bunda?
Karena itu, setulus hati aku mengatakan BUNDA ADALAH ORANG YANG PALING LAYAK MASUK SURGA!
Itulah harapan terbesarku.
MENGAPA?
JIKA SELAMA HIDUP AKU TIDAK PERNAH MELIHAT BELIAU TERSENYUM,
AKU INGIN BISA MELIHAT BUNDA TERSENYUM DI SURGA KELAK.
************************************************************************************************
Ya Tuhan , cukup sudah kiranya penderitaan Bundaku di dunia.
Janganlah Engkau tambahkan lagi penderitaannya di akhirat.
Ya Tuhan , aku ingin melihat Bunda tersenyum. Walau hanya sekali saja...!
Sabtu, 03 Desember 2011
Kisah Pengorbanan Seorang Nenek
Neneknya sudah lumpuh… hidupnya hanya dihabiskan di tempat tidur
Suatu saat… ia mulai protes karena ketidak adilan yang dirasakannya
Ma… gantian dong yang merawat nenek…
Masa setiap hari harus aku…
Kemudian mamanya memotivasi
Nak… merawat nenek pahalanya banyak…
Sesekali anak itu mau menuruti, Tapi disaat lain ia mulai protes lagi…
Ma… gantian dong yang merawat nenek…
Masa setiap hari harus aku…
Kenapa mesti aku…
Ma… gantian dong yang merawat nenek…
Masa setiap hari harus aku…
Kemudian mamanya memotivasi
Nak… merawat nenek pahalanya banyak…
Sesekali anak itu mau menuruti, Tapi disaat lain ia mulai protes lagi…
Ma… gantian dong yang merawat nenek…
Masa setiap hari harus aku…
Kenapa mesti aku…
kenapa tidak mama…
kenapa tidak papa…
kenapa tidak
kakak atau adik yang merawat nenek…
tapi kenapa harus aku terus!…
protesnya mulai keras
Mamanya memeluk sambil menangis…
Nak… kamu sudah besar… kamu benar-benar mau tau kenapa?...
Mau ma….
Dulu saat kamu masih umur 6 bulan…
Malam itu rumah kita kebakaran…
semua orang menyelamatkan diri dan barang-barang yang bisa diselamatkan.
Papa dan nenek menggendong kakak-kakakmu dan mama menggendong kamu…
setelah kita keluar semua…
papa bertanya mana bayinya?
Tanpa sadar ternyata yang mama gendong bukan bayi tapi guling kecil.
Kami baru sadar..
Tenyata kamu masih di dalam rumah… di lantai 2.
Tiba-tiba saja dari arah belakang…
lari menerjang masuk kedalam rumah…
Ternyata nenekmu nak…nenekmu…
lari memaksa masuk kedalam rumah…
kemudian naik kelantai dua…
setelah membawamu…
nenek terjun dari lantai dua…
sambil menggendong kamu…
mulai saat itulah nenekmu lumpuh…
Anak itu terdiam sambil meneteskan air mata tanpa suara…
Mulai saat itu…
ia tidak pernah lagi protes saat disuruh merawat neneknya
Bahkan hari-hari nya dihabiskan untuk merawat neneknya…
ia sangat senang dan bangga bisa merawat neneknya…
ia bangga pada neneknya…
Tiada kesenangan melebihi kesenangan merawat neneknya.
Andaikan kita tau kenapa kita berbuat sesuatu maka pastilah kita akan bekerja dengan ikhlas, tekun dan serius
Suatu Saat kita akan faham…
Apapun akan kita lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita
Karena Allah mencitai kita dan kita mencintai Allah….
Semoga bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat.
Mamanya memeluk sambil menangis…
Nak… kamu sudah besar… kamu benar-benar mau tau kenapa?...
Mau ma….
Dulu saat kamu masih umur 6 bulan…
Malam itu rumah kita kebakaran…
semua orang menyelamatkan diri dan barang-barang yang bisa diselamatkan.
Papa dan nenek menggendong kakak-kakakmu dan mama menggendong kamu…
setelah kita keluar semua…
papa bertanya mana bayinya?
Tanpa sadar ternyata yang mama gendong bukan bayi tapi guling kecil.
Kami baru sadar..
Tenyata kamu masih di dalam rumah… di lantai 2.
Tiba-tiba saja dari arah belakang…
lari menerjang masuk kedalam rumah…
Ternyata nenekmu nak…nenekmu…
lari memaksa masuk kedalam rumah…
kemudian naik kelantai dua…
setelah membawamu…
nenek terjun dari lantai dua…
sambil menggendong kamu…
mulai saat itulah nenekmu lumpuh…
Anak itu terdiam sambil meneteskan air mata tanpa suara…
Mulai saat itu…
ia tidak pernah lagi protes saat disuruh merawat neneknya
Bahkan hari-hari nya dihabiskan untuk merawat neneknya…
ia sangat senang dan bangga bisa merawat neneknya…
ia bangga pada neneknya…
Tiada kesenangan melebihi kesenangan merawat neneknya.
Andaikan kita tau kenapa kita berbuat sesuatu maka pastilah kita akan bekerja dengan ikhlas, tekun dan serius
Suatu Saat kita akan faham…
Apapun akan kita lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita
Karena Allah mencitai kita dan kita mencintai Allah….
Semoga bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)
