Kamis, 14 Juli 2011

Renungan Jiwa

 ❤Kadang Allah mnyembunyikan matahari
❤Dia Datangkan Petir dan Kilat
❤Kita menangis dan Ketakutan
❤Bertanya
❤kemana Perginya Sinar...?  Rupanya Allah mau berikan Pelangi
❤Cinta yang disemadikan Tidak mungkin layu
❤selagi air cinta-NYa senantiasa Menyirami
❤Hati REmuk
❤kembali kukuh selagi ketenangan dikecapi
❤jiwa yg pasrah Bertukar haluan selagi masih ada Esok
❤Luka lama pasti akan Sembuh DEngan Iman yg Terpatri di hati¸.·*¨)♥
 
♥•~Ketika wanita menangis,itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan justru berarti dia sedang mngeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis,itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya, melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
Ketika wanita menangis,itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura2 kuat  ♥
 
JIKA BENAR LELAKI ITU MENCINTAMU..♥..♥..♥..♥..

♥ Dia tidak akan MENYENTUHMU sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia tidak akan MEMANGGILMU SAYANG sebelum menikah denganmu♥
♥ Dia tidak akan MELIHAT AURATMU sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia takkan menyebabkanmu LALAI DARI MENJADI HAMBA ALLAH YANG BAIK ♥
 
Antara MATA dan HATI

Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan otak ikut bekerja dlm mengambil keputusan.

MATA adalah PENUNTUN.
...HATI adalah PENUNTUT.

Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap perbuatan & tindakan.

Masih besar harapan terhadap cita-cita
Tentu juga cinta!

Bumi tidak bertiang
Langit pun tidak berjungjung
...
HARAPAN belum sirna..!
Harus BANGKIT!

Letakkan daftar kesalahanmu berada didepan kaca,
Untuk diketahui kekuranganmu selama ini

Lalu bangkit MEMPERBAIKI diri...!

Dan harus meletakkan daftar kebaikanmu dipunggungmu
Agar dirimu lupa berapa banyak kebaikan yang telah diperbuat
Mungkin disanalah KEIKHLASAN akan kamu dapat!
 
Bahagia dan sedih adalah satu proses yang dapat menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini.

La Tahzan, karena harapan ...selalu ada dalam setiap perjuangan
La Tahzan, karena pada setiap kesusahan pasti ada kemudahan
La Tahzan, karena setiap cobaan dapat dilalui dengan kesabaran
La Tahzan, Karena lika-liku kehidupan dapat dijalani dengan keikhlasan
 
luahkan emosionalmu dalam hal yang positif...
jika kepekaan sekitar tak lagi merasa...
maka tetaplah keras kepala dengan kesetiaan yang baik...
bersama kejujuran yang bijak...

...karena ingat,
mengutamakan orang lain itu bukan hal yg mudah...
berbahagialah dengan ijin Allah, karena kau mampu..
dan tetaplah seperti itu...

serahkan smua usaha pd Allah saja,

Selasa, 12 Juli 2011

Cerita Renungan: Menjadi Orang Baik

Pada kesempatan kali ini ane akan posting Cerita Singkat tentang Tip menjadi orang baik, cerita ini saya ambil dari sebagian dari kisah2 menarik yang ada di Internet yang insya Allah penuh hikmah dan sangat inspiratif buat kita semua, Selamat membaca..


Pada suatu hari, Confusius berkata, "Kita boleh berbuat apa saja, semua kita, seumur hidup kita; mencuri, menyiksa, menipu.. Pokoknya, apa saja!"

Salah seorang muridnya bertanya, "Master, kok enak sekali ya. Tapi, apakah ada syaratnya?"


Jawab Confusius, "Syaratnya sangat ringan, kok. Kalian boleh berbuat jahat seumur hidup kalian, tetapi cukup satu hari saja sebelum meninggal dunia, jadilah orang baik!"

Murid yang lain segera menanggapi, "Tapi Master! Kita kan tidak tahu, kapan kita akan meninggal dunia?"

Kata Confusius, "Oleh karena itu, anggaplah besok kamu akan meninggal dunia. Jadilah orang baik hari ini..!! Mudah kan? Jalani ya.."

Renungan Inspiratif: Bercermin Diri

Tatkala kita berada di depan cermin, marilah kita bercermin dengan bertanya pada diri kita. “Hey wajah, apakah engkau ini kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana? Atau malah engkau ini akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?”

Lalu, tatap mata kita, seraya bertanya, “Hei mata, apakah engkau ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah Yang Maha Agung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah SAW, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah engkau ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, dan meleleh ditusuk baja membara? Akankah engkau yang seringkali terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?”

Tanyalah mulut kita ini, “Apakah mulut ini yang diakhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayyibah, Laa ilaaha illallaah? Ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur julur, menjadi pemakan buah zaqum yang getir menghanguskan, dan menghancurkan setiap usus? Atau menjadi peminum lahar dan nanah yang panas membara?
Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini…?”

“Wahai mulut, apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang… Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan! Betapa banyak hati yang remuk dengan pisau kata katamu yang mengiris tajam! Berapa banyak kata kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?”

Berdialoglah dengan diri ini, “Hai… kamu ini anak sholeh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Tetapi, apa yang telah engkau berikan kepada keduanya, selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya? Tidak tahukah engkau, betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk yang tidak tahu membalas budi!”

“Wahai tubuh, apakah engkau kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar jahannam, yang akan terus terasa tanpa ampun, memikul derita tiada akhir?”

“Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?”
“Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam kotoran-kotoran yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?”

Lalu ingatlah amal-amal kita, “Hai tubuh, apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan? Berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini?”

“Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dijalan kebenaran? Bandingkanlah dengan yang engkau gunakan untuk memenuhi selera rendah hawa nafsumu!”
“Apakah engkau ini shalih atau shalihah seperti yang engkau tampakkan? Khusyukkah shalatmu, dzikirmu, do’amu? Ikhlaskah engkau melakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah engkau ini menjadi makhluk “riya” tukang pamer?”

Sungguh! Betapa banyak perbedaan antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh ‘topeng’? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah ‘topeng’, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus ‘topeng-topeng’ duniawi .

Wahai sahabat sahabat sekalian… Sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini. Semoga kita dikaruniai hati yang istiqamah (selalu lurus) di atas kebenaran, dan semoga kelak kita kembali kepada Allah membawa qalbun saliim, hati yang selamat. Aamiin. Wallahu ‘alam bish shawab.

Renungan Hikmah: Jika Allah berbicara

Kesempatan kali ini ane akan posting tentang Renungan Hikmah Inspiratif yang insya allah sangat bermanfaat buat kita semua..Yuk sama-sama kita simak.

Saat kau bangun menatap hari..
Boro-boro kau mengingatKu
Yang kau ingat hanya apa kegiatan hari ini, jam berapa kau harus berangkat, atau malah sibuk membayangkan kembali mimpi yang baru saja usai.

Saat matahari menemanimu dalam hari..
Boro-boro kau menempuh hari dalam perintahKu,
kau malah terlalu sibuk mengejar dunia tanpa tau apa itu aturanKu, tanpa memikirkan apa yang Kumau.

Saat kau didesak dalam pengambilan keputusan..
Boro-boro kau meminta pendapatKu,
kau malah merasa pemikiranmu di atas segala-galanya dan melupakan pedoman yang Kuberi.

Saat kau menikmati kesenangan bumiKu..
Boro-boro kau mengingat Aku,Pemberinya, dengan bersyukur padaKu,
kau malah terlarut dalam dunia.

Saat kau mencoba-coba merasakan apa yang Kularang,
Boro-boro kau berpikir dua kali untuk berkata tidak,
kau malah ketagihan dan semakin lupa pada aturanKu.

Saat mencari JalanKu,
Boro-boro kau mencari di dalam peta pedoman yang kuberikan padamu,
kau malah ikut-ikutan orang banyak yang hanya berlandaskan perasangka belaka.

Saat mengharap surgaKu..
Boro-boro kau mencari tau apa kriteriaKu,
kau malah hanya berangan-angan di atas perasangkamu belaka.

Tapi..

Saat kau merasakan cobaanKu,
kau baru menangis tersedu-sedu di hadapanKu

Saat kau mengharap sesuatu dariKu,
kau baru datang padaku..Bermuka Dua!

Saat kau beribadah di depan makhlukKu yg lain,
kau baru berusaha khusyuk..

Saat moment-moment tertentu,
kau baru mengingat beberapa aturanKu..tapi tetap setengah2

Jika Aku berbicara padamu…
sesungguhnya Aku berbicara padamu..
lewat apa yang aku turunkan pada NabiKu, yang Ia wasiatkan padamu…
tapi kau melupakanKu..

Artikel Hikmah: Kisah Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.

Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu, “Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu itu menjawab, ”Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab, “pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam…., kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku, juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuh ku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab, “Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya bambu itu menyerah, “ Baiklah Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang engkau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Sahabat2 pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi lebih indah di hadapan-Nya?

Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita kuat untuk menjadi hamba yang akan berbagi manfaat kepada yang lainnya. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.

Tapi jangan khawatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS.02:286)

Yakinlah! Kepedihan, ujian dan penderitaan yang kita alami tak akan menjadi sia-sia jika kita ridho menerimanya sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukan kita pada-Nya.

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, “Ya Allah ini aku, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”

Cerita Inspiratif 2 Ember kayu di Sumur

Mari sama-sama kita simak Cerita Renungan Inspiratif dan Insya Allah Penuh Hikmah. Bagaimana kita menghadapi hidup? semua tergantung dari mana kita bisa memandang dan melihat sesuatunya.

Ada cerita tentang dua buah Ember kayu di sebuah sumur. Yang satu selalu merasa sedih, dan tidak berhenti-hentinya komplen. Ia selalu mengeluh tentang orang- orang  yang datang ke sumur hanya untuk memanfaatkannya untuk mengambil air dari dalam sumurnya dan kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.




Ia selalu komplen-komplen dan komplen. ketika orang-orang datang, dia sudah berpikir jelek ttg orang2 itu karena mengunakan dirinya untuk mengambil air dari dalam sumur. Menceburkannya ke dalam air yang dingin dan sumur yang gelap, menariknya keatas, Ia pun harus membawa beban yang berat dan kemudian air yang dibawanya pun harus dibawa pergi, kemudian dirinya hanya kembali di jemur di atas sumur sampai ada yang mengunakannya lagi.Kepanasan membuat tubuhnya kering kerontang dan semakin panjang pula keluh kesahnya.

Sedang Ember Kayu yang satunya lagi selalu merasa bahagia, dan selalu bersyukur dengan apa yang didapatkannya. Ketika ada orang-orang yang datang ke sumur tersebut, ia akan bahagia sekali karena ia dapat membantu mereka melayani kebutuhan orang banyak yang membutuhkan air dalam hidupnya. Ketika tubuhnya basah dengan air yang dingin ia pun bersyukur akhirnya tubuhnya dapat mandi setelah sekian lama kering berada di atas sumur, dan berdoa semoga air yang dibawanya keatas dapat digunakan oleh banyak orang, lalu dengan suka cita ia memberikan dengan tulus air itu untuk dibawa pergi oleh mereka yang memerlukan.

Ketika dirinya di jemur kembali di atas sumur, ia pun bersyukur karena masih ada mentari yang menghangatkan dirinya setalah basah dan masuk ke dalam sumur yang lumayan dingin. Ia pun masih bisa mendengarkan suara burung2 yang bernyanyi riang gembirA, awan putih bersih yang selalu tersenyum padanya, rumput2 yang hijau yang selalu berdansa untuknya, dan semua hewan yang lalu lalang di depannya. Ia bersyukur karena hidup ini begitu indah. walau hanya sebagai sebuah ember kayu di sumur tetapi ia telah dapat menberikan banyak arti dan sumbangsih bagi siapapun yang membutuhkan.

Sumur adalah tempat kita saat ini, air adalah bentuk sesuatu yang kita miliki, dari kelebihan kita, ilmu, tenaga, materi, nasihat dan lainnya yang bisa kita berikan kepada orang lain. kita sendiri mau menjadi siapa hanya diri sendiri yang menentukan mau komplen dan marah-marah terus setiap hari, tidak pernah puas dan negatif thinking setiap hari? atau mau berubah menjadi sosok yang ceria, yang riang dan selalu bersyukur karena dapat memberikan sesuatu kebahagiaan walau pun kecil kepada orang lain? semua ada di tangan kita sendiri……

Menyadari kehidupan itu begitu berarti, dan begitu penting. bahwa kita tidak hidup sendiri, maka berbagilah kebahagiaan pada orang lain, maka kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.

Artikel Hikmah: Menantang Tuhan

Sebuah kisah di musim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya 


Kisah berikut ini tak saya dapatkan langsung. Mungkin saya orang yang kesekian Mengetahuinya. Bahkan barangkali penulisnya pun tak langsung mengalaminya. Sebuah kisah di musim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya...Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk di sampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang. "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan di penghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria.

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada di dekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Tanda-tandanya akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengannya
semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar... mumpung kesempatan itu masih ada.