Sabtu, 09 Juli 2011

Kata-Kata Hikmah Part 3

"Pasangan hidup itu dicari", karena kita sadar
tidak akan pernah mampu untuk berjalan sendiri
dalam mengharungi ombak badai kehidupan ini,

Kita membutuhkan seseorang untuk selalu setia
dlm mengarungi hari, dengan cuaca yg tak selalu pasti,

Setia dalam suka maupun duka, dalam tangis ataupun tawa,
dalam mewujudkan mimpi & harapan bersama untuk menggapai ridho-Nya.

Hidup ini cuma sekali, jadi jangan pernah
menyesali pengalaman apapun yang kau alami,
susah ataupun sedih pasti terlewati..

Hidup adalah sebuah permainan dimana
terkadang engkau dipermainkan dengan
ketidakadilannya, namun engkau kalah bila
engkau marah dan menyalahkan keadaan..

Tetaplah TEGUH di kala yang lain RAPUH, Tetap
RENDAH HATI di kala yg lain semakin ANGKUH,
Tetap SENYUM di kala yang lain CEMBERUT!

Tetap SABAR di kala yg lain selalu EMOSI,Tetap
SEMANGAT di kala yg lain mulai PUTUS ASA

Tetap MENGAMPUNI walaupun rasanya semakin
MENYAKITKAN. Sebilah PEDANG tdk dibuat dengan
BELAIAN Tangan Lembut, tapi oleh tempaan PALU dan API

Banyak orang yg ingin pintar, tapi
sedikit yg bersegera mau belajar.

Banyak orang yg ingin pasangan sholeh atau
Sholehah tapi sedikit yg bersegera memperbaiki diri.

Banyak orang yg ingin sukses, tapi
sedikit yg bersegera untuk berkarya.

Banyak orang yg mempunyai mimpi, tapi
sedikit yg bersegera mewujudkannya.

Selalu Menunda langkah berarti
menunda kematangan di masa depan.

Kita mungkin kecewa, frustasi, trauma,
sedih serta kehilangan semangat..

Tapi jangan sampai Rasa SEDIHMU
itu memakan hari yg kamu lalui
...
Ketika engkau terlalu larut dalam kesedihan.
Maka dirimu akan menjadi lemah tak berdaya

Lemah dalam beribadah & malas dalam bekerja..
Dan Syetan akan menggunakan perangkapnya untuk menipumu..
Sehingga gaya hidup kamu bisa menjadi bebas tak ada aturan..

Kebahagiaan & Keberuntungan

Diantara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan seseorang adalah:

Setiap kali seorang hamba bertambah ilmunya,
maka dia tambah tawadlu' dan
kasih sayangnya bertambah.


Manakala amalnya bertambah, rasa takut
dan waspadanya bertambah.



Ketika umurnya bertambah, kerakusannya
terhadap kehidupan dunia justru berkurang.


Setiap kali hartanya bertambah, bertambah
pula kedermawanan dan pengorbanannya.


Juga setiap kali bertambah kedudukannya, bertambahlah
kedekatannya dengan orang-orang dan bantuannya kepada mereka.



Sedangkan diantara tanda-tanda kesengsaraan seseorang adalah:

Setiap kali seorang hamba bertambah ilmunya,
maka dia bertambah sombong dan sesat.

Manakala amalnya bertambah, dia kian berbangga diri,
menghina dan meremehkan orang lain.

Ketika usianya bertambah, bertambahlah kerakusannya
terhadap kehidupan dunia.

Setiap kali hartanya bertambah, ia semakin pelit dan sombang.

Juga setiap kali kedudukannya bertambah tinggi,
ia semakin angkuh dan jauh dari manusia, serta bertambah sesat.


Semua itu sebenarnya ujian ujian dari Allah yang dengannya seorang hamba bahagia dan sengsara.


Kemuliaan dan kehormatan seperti kekuasaan, kerjaan, dan kekayaan merupakan cobaan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla berikut tentang Nabinya Sulaiman AS saat melihat singgasan Ratu Balqis, ia bertutur:


"Ini termasukkarunia Rabbku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau kufur (akan nikmat-Nya). " (QS An Naml:40)


"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim:7)

Renungan, Aku Tahu

Aku tahu…………bahwa dunia ini fana, tapi aku mengejarnya

Aku tahu bahwa menuju akhirat adalah perjalanan yang panjang,

tapi aku tidak mempersiapkan bekal

Aku tahu bahwa neraka itu benar-benar ada, tapi aku berusaha menjauhinya

Aku tahu bahwa surga itu mahal harganya, tapi aku beramal asal-asalan

Aku tahu bahwa ‘adzab ALLAH itu pedih, tapi aku masih berbuat dosa

Aku tahu bahwa Allah Maha Mengabulkan do’a, tapi aku meminta kepada manusia

Aku tahu bahwa Allah Maha Adil, tapi aku membalas kedhaliman manusia

Aku tahu bahwa harta itu bisa membaut hisabku diakhirat menjadi lama, tapi aku mnegumpulkannya

Aku tahu bahwa waktu adalah nafas yang tiada kembali, tapi aku berbuat sia-sia

Aku tahu bahwa Al-Qur’an itu kelak bisa menjadi hujjah bagiku ( membelaku ) dan bisa menjadi hujjah atasku ( mendebatku ) tapi aku tidak cemas akan hal itu

Aku tahu bahwa do’a orang yang terdholimi itu tanpa hijab dengan Allah, tapi aku suka menyakiti saudaraku

Aku tahu bahwa kenikmatandunia bisa jadi istidraj, tapi aku tidak khawatir tentangnya


Aku tahu bahwa penyakit itu menghapus dosa-dosa, tapi aku membencinya

Aku tahu bahwa cobaan itu meningkatkan iman, tapi aku mengeluh tentangnya

Aku tahu bahwa istri/suami adalah manusia, tapi aku menuntutnya sempurna

Aku tahu bahwa setan itu musuh yang ingin mengajakku ke neraka, tapi aku menuruti bisikannya

Aku tahu bahwa ajal datang tiba-tiba, tapi aku selalu menunda persiapan

Aku tahu…. Kalau aku tak tahu diri……….

Sederhana dalam Ibadah

Ada seorang pemuda, sebut saja si Fulan. Dulu dia seorang yang rajin beribadah. Kalau masalah shalat wajib berjama’ah jangan ditanya, dia tidak pernah ketinggalan mengerjakannya. Shalat malam?! dia pun ahlinya. Baca Al-Qur’an?! sudah berkali-kali khatam. Puasa senin-kamis?! itu rutinitas mingguannya. Menghadiri pengajian?! Lha wong ustadznya saja sangat dekat dengan dia karena saking rajinnya menghadiri pengajian.
Namun itu cerita dulu. Sekarang si Fulan telah berubah. Alhamdulillah tidak sampai berubah “180 derajat”. Tapi ibadah-ibadah yang dulu dia geluti sekarang hampir semuanya dia tinggalkan. Lho kenapa ya?!

Mengenal Penyakit Futur

Mungkin yang sekarang menimpa si Fulan -atau orang yang sejenisnya- adalah rasa futur dalam mengerjakan ibadah. Futur adalah suatu masa dimana seseorang yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi lemah, seolah semangatnya itu lenyap ditelan waktu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.”
(HR.Ahmad)

Hindari Sikap Berlebihan

Salah satu hal yang menjadikan ajaran Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah dilarangnya sikap berlebihan dalam beribadah dan tercelanya perbuatan tersebut.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya kisah tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah demi menanyakan bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beribadah. Setelah mereka bertiga diberitahu tentang hal tersebut mereka merasa minder, lalu berkata, “Kita ini siapa dibandingkan dengan Rasulullah?! padahal beliau seorang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.”

Kemudian salah seorang dari mereka bertiga berkata, “Kalau begitu aku akan shalat malam terus menerus (dan tidak tidur).”

Yang satunya lagi berkata, “Adapun aku, aku akan berpuasa seharian penuh dan tidak berbuka.”

Yang lainnya lagi berkata, “Kalau aku, aku akan memisahkan diri dari wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya, “Apakah kalian yang tadi berkata demikian dan demikian?!. Adapun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat dan aku pun tidur. Aku pun menikah dengan para wanita. Dan siapa saja yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seseorang yang berlebih-lebihan dalam agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah sendiri saja terkadang tidak memperpanjang shalatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Abu ‘Abdillah Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku pernah shalat bersama Nabi. Shalat beliau tidak lama, demikian pula dengan khutbahnya.” (HR. Muslim). Al-Imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksudnya adalah shalatnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.

Sedikit Asal Rutin, Itu Kuncinya

Untuk ibadah-ibadah yang hukumnya tidak wajib, kita boleh untuk tidak mengerjakannya secara menyeluruh. Bahkan yang terbaik dalam beramal adalah mengerjakan yang kita bisa meskipun tidak banyak asal dengan syarat : RUTIN.

Inilah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Amalan yang paling dicintai adalah yang rutin walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alahi)

Rasulullah juga pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, “Wahai ‘Abdullah, janganlah kau menjadi seperti orang itu. Dulu ia rajin qiyamul lail, namun kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Harus Sesuai Syari’at
Sebuah pemahaman yang patut dimengerti oleh setiap muslim adalah bahwa amalan itu hanya dapat diterima jika memenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas hanya karena Allah, dan (2) mengikuti apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu keduanya tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

Sah-sah saja kita beramal dengan berbagai macam ibadah selagi kita mampu, namun yang perlu diperhatikan juga ialah amalan-amalan tersebut hendaknya bersumber dari 2 syarat tadi. Jika amalan yang kita kerjakan selama ini ternyata hanya sekedar ‘produk buatan’ manusia saja (tidak sesuai dengan syariat, membuat ibadah baru), apalagi ditambah dengan ketidak-ikhlasan kita, maka yakinilah bahwa amalan tersebut pasti tertolak.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membuat-buat ajaran baru yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak.” (HR.Muslim)

Dan masih ingat dengan kisah 3 orang sahabat tadi?! Bukankah amalan-amalan yang mereka lakukan itu semuanya baik bila kita melihatnya dengan sekilas saja (shalat semalam suntuk dengan tidak tidur, puasa seharian penuh dengan tidak berbuka, dan bersikeras untuk tidak menikah) ?! Akan tetapi Rasulullah membencinya disebabkan ketidaksesuaian amalan-amalan tersebut dengan syari’at Islam.

Betapa indahnya perkataan seorang ‘Abdullah bin Mas’ud terkait masalah ini, “Sederhana dalam mengikuti Sunnah itu jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam mengerjakan amalan-amalan baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi.”

Jangan Disalahpahami !

Apa yang baru saja kami paparkan bukanlah pembelaan untuk mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah dan bukan pula celaan bagi mereka yang berusaha memperbanyak amalan shalih. Jangan sampai ada dari kita yang malah memandang sinis orang-orang yang rajin beribadah seraya mengatakan, “Jadi orang Islam itu ga usah fanatik kayak gitu lah.”

Tapi mari kita sama memperbanyak amalan shalih sebagai bekal kita menuju kehidupan akhirat kelak. Beribadahlah sesuai kesanggupan. Mari sama-sama berangkat ke masjid selama masih diberi kesanggupan oleh Allah. Yuk sama-sama mengaji agar kita bisa kenal agama. Ayo shalat malam selagi kita masih sehat wal ‘afiat. Kalau ada rezeki maka infakkan fi sabilillah, dan tabung untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya, kerjakan selagi mampu dan jangan memaksakan diri. Rutinkanlah ibadah tertentu yang patut Anda banggakan nanti dihadapan Allah. Serta jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita dan saudara-saudara kita tetap diberi ke-istiqomah-an dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut.

Dan bagi Anda yang sanggup melakoni segala macam ibadah, bersyukurlah. Karena sesungguhnya kesanggupan Anda tersebut tidak lain adalah anugerah dari Allah Ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan fisik Anda.

Hanya Sebatas Ujian Kehidupan

Sejenak aku coba menyendiri dan berfikir
Mengapa kegelisahanku tak pernah berakhir
Setiap masalah selalu membuat diriku resah
Setiap detik jam membuat hatiku tidak tentram

Semakin lama berfikir aku dapat menyadari
Bahwa setiap manusia harus berani diuji
Dan Ujian hidup bukan untuk kita hindari
tapi dihadapi dengan sabar & percaya diri

Sesaat Aku merenung dan berupaya memahami
Mengapa rasa malas harus ada dalam hidup ini
Seandainya rasa itu tidak diciptakan ilahi rabbi
mungkin Aku bisa seperti malaikat yg berdzikir tanpa henti

Aku yakin begitu banyak hikmah dari setiap kejadian yg ada
terkadang hanya saja manusia yang tidak pernah bisa menyadarinya
Hidup layaknya tempat dimana manusia selalu diuji Keimanannya
Sehingga Allah mengetahui seberapa baik amal Ibadah hamba-hamba-Nya

YA Allah Ya Tuhanku, bimbinglah kami menuju hidayahmu
yang engkau berikan kepada orang2 yang kau kehendaki
Ya Allah ya Tuhanku, Ku percaya bahwa kau tidak memberi petunjuk
kepda manusia yang selalu mengikuti langkah-langkah syaitan terkutuk

Maka, berilah kami sebuah hati yang penuh dengan CINTA
yang bisa merasakan manisnya beribadah & Iman kepadamu
Anugrahkan kepada kami umur yang panjang & penuh berkah
Agar kami bisa beramal & berbekal sebelum datang hari pembalasan-MU

Cukuplah Allah menjadi Penolong

Hati...

Siapa yang mengetahui isi hati seseorang? siapa yang bisa menyelami seberapa dalam dari hati seseorang? Bila kita melihat seseorang tersenyum apakah dia benar-benar bahagia? bila seseorang menangis apakah itu berarti dia sedang bersedih? apakah seperti itu kenyataannya?. Hati, tidak ada seorangpun yang mampu menebak dengan pasti dalamnya hati bahkan kita sendiri, kadang tidak bisa memahami apa yang ada di dalam hati.


Apa yang terlihat di luar belum tentu itu tercermin di dalam hati, bukan berarti munafik tapi kadang orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya kita rasakan saat itu, bila kita bahagia tidak perlu kita perlihatkan kebahagian itu secara berlebihan kepada orang lain, ketika kita bersedih tidak perlu mereka mengetahui seberapa sakit apa yang menimpa kita hingga membuat kita bersedih. Begitu juga ketika hati kita merasa jengkel, jangan sampai orang lain kena getahnya. Cukuplah kita sendiri yang mengetahuinya dan Allahlah tempat kita menumpahkan segala rasa yang ada di hati, hanya Allah tempat kita curhat, tempat kita berserah diri. "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."

Saat ini, di suatu tempat ada hati yang begitu bahagia, seolah ia ingin tersenyum setiap saat. Iyah, di sana ada hati yang berbunga-bunga karena akan memiliki apa yang sangat dia harapkan selama ini, dia sedang mempersiapkan hari besar dalam hidupnya. Saya bisa membayangkan bagaimana hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan, kesenangan dan suka cita. Tapi sebaliknya, di sini ada hati yang terluka karenanya, sedih karena kebahagian yang dirasakan olehnya. Tahukah dia bahwa hati saya sakit di saat dia justru merasakan kebahagiaan yang sempurna? Tahukah dia bahwa saya ingin menangis, justru ketika dia tersenyum dan tertawa?

Hem..dalamnya hati siapa yang tahu? senyum saya masih ada, tawa saya kadang masih terlihat dan canda itu juga masih kuberikan kepada setiap orang di dekat saya, tidak ada yang tahu bahwa di balik apa yang mereka lihat dari mimik wajah & tingkah laku saya sebenarnya saya sedang terluka, saya ingin menangis saat itu, tidak ada yang tahu tentang itu. Hanya Allah dan saya yang mengetahui dalamnya hati saya, hanya Allah tempat saya mengembalikan semua rasa di dalam hati, hanya Allah pengobat sakit & lara hati ini. Hanya dengan mengingat Allahlah saya berusaha menenangkan hati ini ketika kebahagiaan seseorang merenggut kebahagian saya, ketika tidak ada seorangpun yang memahami dalamnya hari saya.

Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar walahaulawalaquwataillabillah rangkaian kalimat ini yang membasahi bibir saya, menggetarkan hati yang sedang saya tata kembali, menemani butiran air yang menetes dari kelopak mata saya berharap setelah ini semua akan baik-baik saja. Seperti halnya sabda Rasulullah “Perbanyakkanlah membaca La Haula Wala Quwwata Illa Billah kerana sesungguhnya bacaan ini adalah obat bagi 99 penyakit, yang mana penyakit paling ringan adalah kebimbangan” (Riwayat Al-Uqaili melalui jabir r.a.)


Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar walahaulawalaquwataillabillah

Hasbunallahu wa ni'mal wakiil ni'mal maula mani'man nashir

Ya Rabb...


Semua datangnya dari Engkau dan semua akan kembali kepada Engkau, maka hamba serahkan semua rasa ini kepadaMu Ya Rabb... Kuatkanlah hamba menghadapi setiap ujian yang Engkau berikan, Ikhlaskanlah hati hamba untuk menerima setiap takdir yang Engkau tuliskan kepada hamba. Hanya Engkau Ya Rabb yang mengetahui dengan benar dalamnya hati saya maka hamba mohon tuntunlah diri ini untuk tetap berada dalam kebenaranMu Amin Allahumma Amin

Tidak Cukup hanya dengan Sisa Waktu

Entah untuk yang ke berapa kali pagi itu shalat subuh si Fulan tertinggal untuk berjamaah. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi dan pada jam segitu masjid sudah barang tentu kosong dari jemaah. Kemudian dengan mata yang masih sepet Fulan beranjak untuk mengambil air wudhu dan dilanjutkan dengan shalat subuh secara munfarid. Saking seringnya tidak ada perasaan sesal yang singgah di benak Fulan ini. Seolah hal yang wajar apabila shalat subuh dikerjakan pukul 05.30 pagi.

Otomatis selepas shalat subuh sendirian tidak bisa melakukan dzikir pagi karena harus segera merapikan diri untuk berangkat kerja, apalagi baca qur'an, satu ayat pun tidak akan keburu.
Tapi entah kenapa untuk masalah pekerjaan Fulan selalu berusaha untuk tepat waktu masuk kantor. Setiap pergi ke kantor Fulan selalu berusaha untuk tampil rapi dan wangi dan hal ini sangat bertolak belakang dengan aktivitasnya ketika bangun tidur. Aktivitas shalat subuh Fulan cukup dengan menggunakan pakaian tidur, tanpa gosok gigi, apalagi wangi-wangian. Intinya yang penting kewajiban sudah gugur.

Sebagai seorang karyawan Fulan selalu mendedikasikan dan mengerjakan segala tanggung jawabknya dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Apabila terjadi suatu kesalahan, Fulan akan dengan segera menelusuri akar penyebab masalahnya dan mencari solusi terbaik sehingga masalah ini tidak muncul lagi.


Pada jam istirahat, selepas makan siang, biasanya Fulan asyik ngobrol dengan teman-teman kerjanya. Biasanya Fulan shalat Dzuhur lima menit menjelang jam istirahat berakhir. Walhasil shalat dzuhur yang dikerjakannya sangat minim waktunya. Dari mulai wudhu pun terlihat terburu-buru. Maka selepas salam Fulan langsung kembali bekerja. Tidak ada dzikir ataupun shalat ba'diyah dzuhur.
Gambaran di atas bisa jadi merupakan refleksi dari rutinitas harian kita. Di sadari atau tidak terkadang kita tidak adil dalam menyikapi urusan dunia dan akhirat. Meski kita sering mengatakan bahwa dalam hidup ini harus seimbang antara dunia dan akhirat kita. Tapi, tanyalah ke dalam lubuk hati ini, benarkah perkataan itu? Benarkah kita sudah memposisikan timbangan dunia dan timbangan akhirat pada posisi yang sama tinggi jika takarannya harus seimbang?
Dalam pekerjaan kita sering berusaha untuk datang tepat waktu. Jika sekali saja terlambat maka keesokan harinya akan bangun dan berangkat lebih awal agar tidak terlambat lagi. Tapi kita jarang sekali khawatir karena telah mengakhirkan shalat, bahkan kalau sedang asyik biasanya kita dengan tenang meninggalkan kewajiban tersebut tanpa ada sesal yang singgah di hati.

Kita selalu berpenampilan rapi, harum dan segar setiap pergi ke kantor. Namun dalam sujud kepada Alloh kita cukup memakai kaos oblong dan sarung seadanya.
Masih banyak hal-hal lain dimana kita tidak adil dalam menempatkan antara dunia dan akhirat. Padahal, seandainya kita mau sedikit mempelajari, apa yang kita lakukan dalam 24 jam bisa bernilai ibadah. Namun untuk mempelajarinya badan ini sudah terlampau letih oleh setumpuk pekerjaan. Saking letihnya kita sering ketiduran untuk melaksanakan shalat isya. Namun, meskipun badan ini letih terkadang kondisi badan bisa menjadi fit kembali ketika ada panggilan dari atasan meskipun itu tiba-tiba.
Begitu pun pada hari libur di akhir pekan. Dengan alasan istirahat kita menghabiskan waktu dengan tidur, nonton tv, shopping, ke bioskop, hang out, dll. Sangat jarang dari kita untuk meluangkan waktu sesaat untuk sekedar membaca satu ayat dari ribuan firman Alloh. Bahkan meskipun tidak bekerja kita masih saja tidak dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Tetapi jika pacar meminta bertemu, kita akan dengan sigap memenuhi permintaannya itu tanpa pikir panjang dan tepat waktu.

Tapi tidak adakah waktu untuk sekedar bercakap-cakap dengan Alloh meski dengan shalat di awal waktu? Atau sekedar membaca satu ayat saja setiap minggunya?
Sebenarnya hukum untuk mendapatkan kebahagiaan dunia sama dengan kebahagiaan akhirat. Kita akan mendapatkan kemapanan hidup apabila memiliki bekal ilmu yang cukup dan bersungguh-sungguh bekerja. Semua itu kita lakukan dan jalani dengan kerelaan. Untuk mendapatkan akhirat pun demikian. Diperlukan ilmu yang cukup dan kesungguhan untuk mengamalkannya. Ilmu tersebut pun harus diusahakan dengan cara menuntut ilmu dan itu memerlukan waktu dan biaya. Namun kenapa kita pelit untuk segala hal yang dapat membuat kita lebih memahami ajaran islam. Membeli buku aqidah seharga lima puluh ribu akan terasa mahal apabila dibandingkan dengan jalan-jalan yang bisa menghabiskan uang sampai ratusan ribu rupiah.
Berhenti sejenak dan merenungi atas apa yang telah kita kerjakan mungkin salah satu sikap yang bijak. Mencoba berfikir atas semua aktivitas kita apakah sudah proporsional dan adilkah kebutuhan dunia dan akhirat kita tunaikan?

Akan terlalu berat mungkin apabila kita mengikuti Rasulullah dalam semua hal. Paling tidak ada proses untuk berkeinginan mengenal Alloh dalam ibadah-ibadah pokok dan melibatkan-Nya dalam seluruh aktivitas kita.

Setidaknya untuk tidak lupa mengucapkan basmalah dalam setiap memulai aktivitas sehingga akan bernilai kebaikan. Alloh pun tidak membebankan syariat-Nya melainkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.