Sabtu, 09 Februari 2013

Wahdatul Wujud, Ibnu Sabin

Ibnu Sabin adalah seorang sufi dan juga Filosof dari Andalusia, yang mempunyai nama lengkap, ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr. Dia dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin, kadang juga dipanggil Abu Muhammad. Beliau lahir tahun 614 H (1217-1218 M) di Murcia. Ibnu Sabin tumbuh dalam keluarga bangsawan, Ayahnya adalah penguasa di Murcia.  Ibnu Sabin berguru kepada Ibn Dihaq yang dikenal dengan Ibnu Mir’ah ( wafat 611 H) pensyarah karya al-Juwaini, al-Irsyad, selain itu Ibnu Sabin juga berguru pada al-Yuni (wafat 622 H), dan al-Hurrani ( wafat 538 H), keduanya ahli huruf dan nama. Hubungan antara Ibnu Sabin dan para gurunya banyak terjalin lewat  kitab daripada secara langsung. Pada tahun 640 Ibnu Sabin dan muridnya pergi ke Afrika, karena faktor-faktor politik di negerinya, dia dianggap melemahkan Dinasty al-Muwahhidin serta berakhirnya kebebasan berfikir di Andalusia.

Ibnu Sabin singgah di kota Ceuta, Afrika Utara, di kota ini pula dia menikahi seorang wanita dan membangun zawiyah, dia banyak menelaah kitab-kitab tasawwuf dan memberikan pengajaran. Penguasa kota, Ibn Khaladh, mengusirnya dari kota ini karena dianggap sebagai Filosof.  Kemudian dia pergi ke ‘Adwah, Bijayah, terus ke Qabis, Tunisia. Pada tahun 648 H Ibnu Sabin sampai di Kairo, tapi para Fuqoha dunia Islam bagian barat mengirim surat ke Mesir yang menyatakan dia adalah atheis. Ibnu Sabin memutuskan untuk ke Mekah.

Ibnu Sabin ketika di Makkah memperoleh kehidupan yang tenang dan menyusun karyanya. Dan meninggal dunia pada tahun 669 Hijriyah, Ibnu Sabin meninggalkan empat puluh satu buah karya, yang menguraikan ilmu tasawuf. Pada umumnya karya beliau bercorak simbolik, karyanya yang terpenting Budd al-Arif.

Ibnu Sabin, menganut paham Kesatuan Mutlak Wahdatul Wujud, yaitu wujud adalah satu alias Wujud Akkah semata. Wujud-wujud lainnya hanya wujud Yang Satu itu sendiri. Jelasnya wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud Yang Satu semata.
Dalam hal ini , Ibnu Sabin menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Sebab menurutnya, Wujud Allah adalah asal segala yang ada masa lalu, masa kini, maupum masa depan. Sementara wujud yang tampak jelas justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. Berarti paham ini menafsirkan wujud dalam corak spiritual bukan materi.

Pemikiran Ibnu Sabin merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an , misal firman Allah Swt: “Dia itulah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin,” (QS. al-Hadiid, 57:3) 

dan firman-Nya: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. al-Qashash 28:28). 

Dia juga memperkuat nya dengan hadist Nabi Muhammad Saw, seperti hadist qudsi yang berikut : “Apa yang pertama-tama diciptakan Allah adalah akal budi. Maka firman Allah kepadanya, terimalah ! ia pun lalu menerimanya…”

Abu Yazid al Busthomi Fana dan Penyatuan

Abu Yazid al Busthomi yang nama lengkapnya Thaifur ibn ‘Isa ibn Sarusyan, Beliau berasal dari Bustham. Meninggal pada tahun 261 H  (riwayat lain 264 H ). Beberapa Kitab yang mengisahkan tentang al Busthomi diantaranya: Thabaqat al-Shufiyyah karya dari al-Sulami, al-Luma’ karya dari al-Thusi, al-Risalah al-Qusyairiyyah karya al-Qusyairi.

al Busthomi begitu diliputi keadaan Fana’, tercermin dari banyak ungkapannya yang diriwayatkan berasal darinya dia berkata : ” Mahluk mempunyai berbagai keadaan. Tapi Seorang arif tidak mempunyai keadaan. Sebab ia mengabaikan
aturan-aturannya sendiri. Identitasnya sirna pada identitas yang lainnya, dan bekas-bekasnya
ghaib pada bekas-bekas lainnya.” 

Hal ini mustahil terjadi kecuali dengan ketertarikan penuh seorang arif kepada Allah, sehingga dia tidak menyaksikan selain-Nya. Seorang arif, menurut Abu Yazid al Busthomi , “dalam tidurnya tidak melihat selain Allah, dan dalam jaganya pun tidak melihat selain Allah. Dia tidak seiring dengan yang selain Allah, dan tidak menelaah selain Allah.

Ibn ‘Atha’illah al-Syakandari:  ” Ketahuilah!  Sebagian orang berkata bahwa Abu Yazid ( al Busthomi )  ingin tidak berkeinginan, karena Allah mengingininya. Semua orang sepakat bahwa dia tidak mempunyai keinginan. Bersama-Nya , dia tidak menginginkan apa pun dan tidak mengingininya. Dalam kehendaknya, dia tidak ingin, seiring dengan kehendak Allah”.

Tentang  Penyatuan al Busthomi mengungkapkan:  “ Akupun keluar dari Yang Maha Benar menuju Yang Maha Benar dan akupun berseru: duh, Engkau yang aku!  Telah kuraih kini peringkat kefanaan.” Dan katanya yang lain, “Sejak tiga puluh tahun yang silam, Yang Maha Benar adalah cermin diriku. sebab kini aku tidak berasal dari diriku yang dahulu.”

Ungkapan al Busthomi tentang kefanaan dan penyatuan dengan Kekasihnya yang terlalu berlebihan dan agak Ganjil : ” Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali aku, maka sembahlah aku.” Katanya pula :”  Betapa sucinya Aku, betapa besarnya Aku.” Dan katanya:  “Aku keluar dari Abu Yazidku, seperti halnya ular keluar dari kulitnya,  dan pandanganku pun terbuka, dan ternyata sang pecinta, Yang dicinta, dan cinta adalah satu. Sebab manusia dalam alam penyatuan adalah satu.”

Ungkapan-ungkapan yang begini diucapkan dalam kondisi psikis yang tidak normal, yang diakibatkan suatu derita. Sebab ucapan itu, menurut para sufi, adalah gerakan-gerakan rahasia orang yang dominan intuisinya. Andaikan intuisi itu sedang kuat-kuatnya, maka mereka pun mengungkapkan intuisinya dengan ucapan yang dipandang ganjil oleh pendengarnya. Begitu juga dengan al Busthomi.

Nama Nama Neraka Dan Para Penghuninya

Malaikat Penjaga Neraka di pimpin oleh Malaikat Malik A.s, yang memiliki 19 malaikat yang bertugas menyiksa  para penghuni Neraka, salah satunya yang disebut namanya dalam Al-Qur’an adalah Malaikat Zabaniah A.s.
Dalam sebuah Hadist diterangkan: “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan balasannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panas, laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima balasan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat balasan paling ringan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Nama-nama Neraka :
1. Neraka Jahanam (QS 15:43)
Dihuni oleh para pengikut syetan.

2. Neraka Sya’iir (QS 84:12-13)
Dihuni oleh orang-orang kafir, tidak percaya terhadap akherat , juga untuk orang yang senang bila mendapat rezeki dan marah ketika susah memperoleh rezeki, orang yang memakan harta anak yatim. di jelaskan dalam Surah Al-Ahzab, Surah An-Nisa’, Surah Al-Fath, dan Surah Luqman.

3. Neraka Shaqor (QS 74:42-47)
Dihuni oleh orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang miskin, dan lainnya. orang yang mendustakan perintah Allah Swt dan rasul. Mereka mengetahui bahwa Allah Swt sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Muhammad, tetapi mereka meremehkan syariat Islam. diterangkan dalam Surah Al-Muddassir.

4. Neraka Jahim (QS 26:91)
Dihuni oleh mereka yang menyembah berhala, Thagut (harta & tahta), juga untuk orang yang sesat, orang-orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah Swt. Mereka akan dibalas oleh para sesembahan mereka. Dalam ajaran Islam syirik adalah sebagai salah satu dosa paling besar menurut Allah Swt, karena syirik berarti menganggap bahwa ada makhluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat Allah Swt dan bisa pula menganggap bahwa ada Tuhan selain Allah. terdapat dalam Surah Asy-Syu’ara’ dan Surah As-Saffat.

5. Neraka Khuthomah (QS 104:1-9)
Dihuni oleh para pengumpat & pencela. orang yang gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak, atau platina, mereka yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat harta dan menghina orang miskin. Di neraka ini harta yang mereka kumpulkan akan dibawa dan dibakar untuk di minumkan sebagai balasan kepada manusia pengumpul harta. di jelaskan dalam Surah Al-Humazah.

6. Neraka Ladho (QS 70:15-18)
Dihuni oleh orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir), orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang miskin. Bagi mereka yang tidak mau bersedekah, membayar zakat, atau bahkan memasang muka masam apabila ada orang miskin datang meminta bantuan. di jelaskan dalam Surah Al-Ma’arij.

7. Neraka Hawiyah (QS 101:1-11)
Dihuni oleh orang yang sedikit amal kebaikannya, mereka yang selama hidupnya mengerjakan kebaikan bercampur dengan keburukan. Orang muslim laki dan perempuan yang tindak tanduknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti para wanita muslim yang tidak menggunakan jilbab, bagi para lelaki muslim yang sering memakai sutera dan emas, mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba' dan sebagainya, Hawiyah adalah sebagai tempat tinggalnya. di jelaskan dalam Surah Al-Qari’ah.

8. Neraka Wail
Dihuni Oleh para pengusaha atau pedagang yang licik, dengan cara mengurangi berat timbangan, mencalokan barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Barang dagangan mereka akan dibakar dan dimasukkan kedalam perut mereka sebagai azab dosa-dosa mereka. di jelaskan dalam Surah Al-Tatfif dan Surah At-Tur.

Para penghuni neraka akan menjalani hukuman berupa balasan yang sangat pedih. Balasan yang mereka derita dalam neraka itu bermacam-macam sekali, sebagaimana yang di firmankan Allah Swt seperti berikut:
  • “Dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.” (At-Taubah [9]:35)
  • “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, supaya mereka diseret, kedalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.”(Al-Mu’min [40]:71-72)
  • “Peganglah dia kemudian seretlah dia ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya  (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (Ad-Dukhan [44]:47-49)
  • “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya kelehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (Al-Haqqah [69]:30-32)
  • “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala-kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada di dalam perut mereka dan juga kulit-kulit mereka. Dan cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, maka mereka dikembalikan kedalamnya, (serta dikatakan kepada mereka): “Rasailah azab yang membakar ini.” (Al-Hajj [22]:19-22)
Semoga kita terhindar dari perbuatan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. “Ya Rabb tunjukilah kami kepada jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. " (QS 1:6-7).

Bentuk Fisik Malaikat Jibril Ruhul Qudus

(Arab: جبريل ) adalah malaikat dalam ajaran agama samawi. Malaikat Jibril A.s adalah sebagai Pemimpin Malaikat dan bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul.
Malaikat Jibril A.s adalah satu dari tiga malaikat yang namanya disebut dalam Al-Qur'an. Nama Malaikat Jibril A.s disebut dua kali dalam Al-Qur'an yaitu pada surat Al Baqarah ayat 97-98 dan At Tahrim ayat 4.
Didalam Al-Qur’an, Malaikat Jibril A.s memiliki beberapa julukan, seperti Ruh al Amin dan Ruh al Qudus (Roh Kudus), Ar-Ruh Al-Amin dan lainnya.

Bentuk Fisik Ruhul qudus, ada tertera dalam uraian mengenai kisah nabi Muhammad Saw, kala beliau mendapat wahyu kali ke dua, dan nabi menuntut untuk bertemu atau melihat rupa asli sang utusan Tuhan dari langit dalam rupa yang asli, atau bagaimana sesungguhnya dzat wujud Malaikat Jibril A.s tanpa rupa samar, sebagaimana di kali-kali yang lain, sang utusan (Ruhul Qudus) selalu nampak dalam rupa seorang manusia biasa.
Ruhul Qudus ; Tampak wujudnya dengan enam ratus sayap antara masyrik dan maghrib, (barat-timur) sayap dan busana kebesarannya putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat.
Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
Malaikat Jibril A.s adalah malaikat yang menyampaikan berita kelahiran Nabi Isa A.s kepada ibunya Siti Maryam dan juga malaikat yang menyampaikan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw.
Dalam kisah suci perjalanan Isra’ Mi’raj, sesampainya di Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril A.s tidak sanggup lagi mendampingi Rasulullah Saw untuk terus naik menghadap kehadirat Allah Swt ;
beliau berkata : “Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah, perlu 60.000 tahun lagi aku harus terbang. Itulah jarak antara aku dan Allah Swt yang dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh”.
Maha Suci Allah, ternyata Malaikat Jibril A.s pun tidak sampai kepada Allah Swt.

Tugas Para Malaikat

Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Swt. Allah Swt menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah Swt dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pastinya, hanya Allah Swt saja yang mengetahui jumlahnya.

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah Swt berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim A.s.
Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman, berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan kitab-kitab. Nama  beserta tugas-tugas mereka adalah sebagai berikut:
  • Jibril - Pemimpin para malaikat, bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul.
  • Mikail - Membagi rezeki kepada seluruh makhluk.
  • Israfil - Meniup sangkakala pada hari kiamat.
  • Munkar dan Nakir - Memeriksa amal manusia di alam barzakh.
  • Izrail - Mencabut nyawa seluruh makhluk.
  • Ridwan - Menjaga pintu syurga.
  • Malik - Pemimpin Malaikat Zabaniah dan penjaga neraka.
  • Zabaniah - 19 malaikat penyiksa dalam neraka yang bengis dan kasar.
  • Hamalat al ‘Arsy - Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan.
  • Harut dan Marut - Dua Malaikat yang turun di negeri Babil.
  • Darda’il - tugasnya mencari orang yang berdo’a, bertaubat, minta ampun dan lainnya pada bulan Ramadhan.
  • Hafazhah (Para Penjaga):
    • Kiraman Katibin - Para malaikat pencatat yang mulia, ditugaskan mencatat amal manusia.
    • Mu’aqqibat - Para malaikat yang selalu memelihara/ menjaga manusia dari kematian sampai waktu yang telah ditetapkan yang datang silih berganti.
  • Malaikat Qarin - tugasnya sebagai pendamping manusia dari lahir hingga ajalnya, bertugas membisikkan hal-hal kebenaran dan kebaikan.
  • Malaikat Arham -  yang diperintahkan untuk meniupkan ruh, menetapkan rezeki, ajal, amal dan celaka atau bahagia pada 4 bulan kehamilan.
  • Jundallah - Para malaikat perang yang bertugas membantu nabi dalam peperangan.
  • As-Sijilli - Malaikat yang memberitahukan kepada Harut dan Marut tentang makhluk yang pernah membuat kerusakan dan pertumpahan darah dibumi.
  • Azh-Zhil - Malaikat yang mendampingi Nabi Ibrahim A.s ketika berada dikobaran api.
  • Ad-Dam’u - Malaikat yang selalu menangis jika melihat kesalahan manusia.
  • An-Nuqmah - Malaikat yang selalu berurusan dengan unsur api dan duduk disinggasana berupa nyala api, ia memiliki wajah kuning tembaga.

  • Ahlul Adli - Malaikat besar yang melebihi besarnya bumi besera isinya dikatakan ia memiliki 70 ribu kepala.
  • Ar-Ra’d - Malaikat pengatur awan dan hujan..
  • Malaikat berbadan api dan salju - Malaikat yang setengah badannya berupa api dan salju berukuran besar serta dikelilingi oleh sepasukan malaikat yang tidak pernah berhenti berdzikir.
  • Penjaga matahari - Sembilan Malaikat yang menghujani matahari dengan salju.
  • Malaikat Rahmat - Penyebar keberkahan, rahmat, permohonan ampun dan pembawa roh orang-orang shaleh, ia datang bersama dengan Malaikat Maut dan Malaikat`Adzab.

  • Malaikat Rokib dan Atid: Menjaga di kanan dan kiri manusia, Mencatat amal seluruh manusia.
  • Malaikat `Azab - Pembawa roh orang-orang kafir, dzalim, dan munafik. Ia datang bersama dengan Malaikat Maut dan Malaikat Rahmat.
  • Pembeda haq dan bathil - Para malaikat yang ditugaskan untuk membedakan antara yang benar dan salah kepada manusia dan jin.
  • Penentram hati - Para malaikat yang mendoakan seorang mukmin untuk meneguhkan pendirian sang mukmin tersebut.
  • Penjaga 7 pintu langit - 7 malaikat yang menjaga 7 pintu langit. Mereka diciptakan oleh Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
  • Pemberi salam ahli surga - Para malaikat yang memberikan salam kepada para penghuni surga.
  • Pemohon ampunan orang beriman - Para malaikat yang terdapat disekeliling ‘Arsy yang memohonkan ampunan bagi kaum yang beriman.
  • Pemohon ampunan manusia di bumi - Para malaikat yang bertasbih memuji Allah Swt dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.
  • Pengatur urusan dunia - Malaikat yang mengatur urusan manusia didunia.
  • Pendengar bacaan Qur’an manusia - Para malaikat yang mendengarkan dan menelan bacaan Al-Qur’an ketika manusia shalat.
  • Pendo’a orang yang berinfaq dan orang kikir - Para malaikat yang berdo'a setiap pagi dan sore untuk orang yang berinfaq dengan do'a kebaikan dan penahan infaq dengan do'a kehancuran.
Nama Malaikat Maut dikatakan Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits. Kemungkinan nama malaikat Izrail A.s didapat dari sumber Israiliyat. Dalam Al-Qur’an dia hanya disebut Malak al-Maut atau Malaikat Maut.
Malaikat Jibril A.s, walau namanya hanya disebut dua kali dalam Al-Qur’an, ia juga disebut di banyak tempat dalam Al-Qur’an dengan sebutan lain seperti Ruh al-Qudus, Ruh al-Amin/ Ar-Ruh Al-Amin, dan lainnya.
Dari nama-nama di atas ada beberapa yang disebut namanya secara spesifik di dalam Al-Qur’an, yaitu Jibril (QS 2 Al Baqarah: 97,98 dan QS 66 At Tahrim: 4), Mikail (QS 2 Al Baqarah: 98) dan Malik (QS Al Hujurat) dan lain-lain. Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir disebut dalam Hadits.

Kamis, 07 Februari 2013

Metode untuk Makrifat dengan Tuhan


Dalam Surat Al-Kahfi ayat 110, Allah Swt berfirman:  “Maka barang siapa yang ingin menemukan Allah, maka hendaklah ia mengerjakan amalan baik dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadah kepada Allah.” 
 
Ayat di atas itulah yang  menjadi pegangan mereka untuk mencapai tujuan bermakrifat dengan Tuhan . Para sufi menempuh berbagai  metode yang membawa mereka pada kondisi berpadu dengan Tuhan atau makrifat dengan Tuhan
Untuk mencapai Hakekat (liqa) bermakrifat dengan Tuhan, Kaum Sufi  mengadakan kegiatan bathin, Riadhah/latihan dan mujahadah/perjuangan rohani. Perjuangan seperti ini dinamakan suluk, dan yang mengerjakannya dinamakan Salik.  
Liqa Allah menjadi perhatian utama para sufi, seperti halnya Imam Ghozali membawa pengikutnya kepada Liqa bertemu dengan Tuhan/ makrifat dengan Tuhan ,
Metode yang para tersebut adalah:
  • Hulul (Tuhan menjelma ke dalam Insan) seperti ajaran Al-Hallaj. Katanya: “keinsananku tenggelam ke dalam Ketuhanan-Mu, tetapi tidak mungkin percampuran, sebab Ketuhanan-Mu itu senantiasa menguasai akan Keinsananku”.
  • Al-Isyraq ( Cahaya dari segala cahaya), seperti ajaran Abul Futuh Al-Suhrawardi. Beliau berkata, “Tujuan segala-galanya satu juga,  yaitu menuntut Cahayanya kebenaran dari Cahaya segala cahaya, yaitu Allah.
  • Ittihad ( Tuhan dan hamba berpadu menjadi satu), seperti ajaran Abu Yazid Bustami, Beliau berkata, ” Kami telah melihat Engkau maka Engkaulah itu, dan aku tidak ada disana“.
  • Ittisal (Hamba dapat menghubungkan diri dengan Tuhan) dan menentang faham Hulul dari al-Hallaj.
  • Wihdatul Wujud (Yang ada hanya satu) seperti ajaran Ibnu Araby, beliau berkata, “Al-Abidu wal Makbudu Wahidun” Yang menyembah dan yang disembah itu Satu.
  • Metode menurut Imam Ghozali, bahwa Wujud Tuhan meliputi segala Wujud. Tidak ada Wujud melainkan Allah Swt dan perbuatan (ciptaan) Allah Swt.  Allah  Swt dan perbuatannya adalah dua bukan satu. Alam ini adalah makhluk dan bukti adanya Khalik.
Walau para Sufi  menggunakan metode yang berbeda, tetapi pada akhirnya metode mereka itu dapat mengantarkannya pada kondisi Makfifat .

Penciptaan Nur Muhammad Awal Terciptanya Semua Makhluk

Sebelum semua makhluk diciptakan Allah, Nur Muhammad-lah yang pertama kali diciptakan. Di dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman kepada Nabi Muhammad Saw: "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal kemudian Aku ciptakan alam (makhluk) agar Aku bisa dikenal." 

Dengan merenungkan tanda-tanda alam dan ayat-ayat Al-Qur’an kaum muslimin dapat memperoleh kilasan aspek Ke-Ilahian yang telah dituangkan di alam semesta yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai wajah Allah Swt (Wajh-Allah).
Di dalam hadits qudsi tersebut di atas terdapat kalimat yang berbunyi: Kemudian Aku ciptakan alam (makhluk)….. Ini masih berbentuk cahaya dan cahaya itu terbagi-bagi sebagaimana pendapat Ka’ab bin Akbar R.a dalam kitab yang berjudul Madari: Yusu’ud (tangga-tangga kenaikan) yang di tulis oleh Syeikh Nawawi pada halaman 2 s/d 3, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: berkata Ka’ab bin Akbar R.a:
"Ketika Allah Swt hendak menciptakan Maujudat / makhluk, menghamparkan bumi dan meninggikan langit. Allah Swt menggenggam seganggam dari nur-Nya dan berfirman: Kun Muhammad, maka jadilah segenggam nur tadi menjadi sebuah tiang dari nur yang memancarkan cahaya sampai menembus hijab-hijab kegelapan. Lalu tiang itu bersujud dan berkata: Allahu Akbar. 
Allah berfirman kepada tiang nur itu: “Aku ciptakan kamu dan Aku beri nama kamu Muhammad. Darimu Ku-awali semua makhluk, dan darimu Ku-akhiri semua para utusan”. 
Kemudian Allah Swt membagi empat bagian. Kemudian Allah Swt ciptakan Lauhil Mahfudz dari bagian pertama. Lalu Qalam dari bagian yang kedua. 
Allah Swt berfirman : kepada Qalam, “Tulislah !” 
maka bergetarlah Qalam seribu tahun kedahsyatan kedahsyatan kitabullah. 
Lalu Qalam berkata, “Apa yang harus aku tulis ?” 
Allah Swt berfirman : “Tulislah Lailaaha Illallah Muhammadurrasulullah”. Maka Qalam menulis kalimat itu. Lalu Qalam diberi petunjuk tentang ilmu Allah Swt yang berkaitan dengan makhluk, kemudian Qalam menulis, Anak cucu Adam dari Sulbinya; siapa yang taat kepada Allah Swt akan masuk surga, siapa yang maksiyat kepada Allah Swt akan masuk neraka. 
Umat Nuh; siapa yang taat kepada Allah Swt masuk surga…
Umat Ibrahim; siapa yang taat kepada Allah Swt masuk surga, siapa maksiat…
Umat Musa; siapa yang taat kepada Allah Swt masuk surga, siapa maksiat kepada Allah Swt….
Umat Isa; siapa yang taat kepada Allah Swt masuk surga, siapa maksiat kepada Allah Swt…
Umat Muhammad; siapa yang taat kepada Allah Swt masuk surga, siapa maksiat kepada Allah Swt….
ketika Qalam mau menulis kalimat berikutnya ( masuk neraka ) tiba- tiba ada seruan dari Yang Maha Tinggi: “Hai Qalam beradablah kamu..!”
Maka pecahlah Qalam karena karena kedahsyatan seruan itu, dan sobek ujungnya berbentuk garis lurus, dengan tangan Kodrat maka jadilah adap. Qalam tidak bisa menulis kecuali pecah bergaris ujungnya. 
Lalu Allah Swt berfirman: “Tulislah, umat berdosa Tuhan Maha Pengampun” kemudian Allah Swt menciptakan Arasy dari bagian yang ke-tiga. Dari bagian yang ke-empat menjadi empat bagian:
  1. Bagian kesatu dijadikan akal
  2. Bagian kedua dijadikan ma’rifat ( agar dapat mengetahui)
  3. Bagian ketiga dijadikan cahaya Arsy dan sinar penglihatan serta seluruh cahaya termasuk siang ( matahari), sinar malam( bulan dan bintang). Semua cahaya ini berasal dari Nur Muhammad, Nur Muhammad adalah awal segala makhluk
  4. Bagian yang ke empat dititipkan di bawah arasy, sampai Allah Swt menciptakan Adam. Kemudian Allah Swt menitipkan bagian itu (nur Muhammad) pada punggung Adam, bersujudlah para Malaikat.
Kemudian Allah Swt memasukkan Adam ke surga, para Malaikat berbaris rapi di belakang Adam, menyaksikan nur tersebut. 
Adam A.s berkata: “Ya Allah kenapa para Malaikat berkumpul di belakangku?” 
Allah Swt berfirman : “Wahai Adam mereka melihat nur kekasihku Muhammad penutup para utusan yang Aku keluarkan (pancaran cahaya) dari punggung mu” 
Adam A.s berkata: “Ya Tuhan jadikan nur itu di depan saya, supaya saya bisa melihat dan berhadapan dengan malaikat”. Maka Allah Swt memindahkan nur itu pada dahi nabi Adam A.s, Malaikat berbaris di depan Adam A.s. 
Adam A.s berkata: “Ya Tuhan, jadikan Nur ini di tempat yang aku bisa melihat."

Maka Allah Swt jadikan Nur itu pada telunjuk Adam. Adam A.s bisa melihat Nur itu bertambah bagus, megah dan Adam A.s mendengar Nur itu bertasbih penuh keagungan, kemudian Nur itu pindah ke Hawa (istri Adam A.s), seperti matahari yang bersinar.
Kemudian ditentukan permulaan para utusan dari Nabi Sis A.s. Maka hilanglah Nur itu di wajah Hawa pindah ke Nabi Sis A.s. 
Lalu Adam A.s mengambil sumpah Nabi Sis A.s. Bahwasanya: “Tidak akan menyimpan Nur itu kecuali dari yang suci ke yang suci, dari yang mulia ke yang mulia,” 
Sampai pada sulbi Abdullah bin Abdul Mutholib. Kemudian Allah Swt  mengeluarkannya ke dunia ini dan menjadikannya Raja para Utusan Rahmatan lil alamin dan seorang panutan yang memancarkan cahaya yang terang benderang.
Demikian dikala Nabi Muhammad Saw. Diturunkan ke dunia, beliau disinari cahaya yang terang benderang sehingga, cahaya matahari yang menyinarinya tidak bisa memberi bayangan, dikarenakan cahaya Nur Muhammad lebih terang dari pada sinar matahari, itu terjadi di sepanjang hidup sampai beliau wafat. Dan siapa generasi penerusnya setelah Rasulullah Saw. wafat?

Melihat dari sumpah Nabi Adam A.s. yang berbunyi tidak akan menyimpan Nur itu kecuali dari yang suci ke yang suci, dari yang mulia ke yang mulia. Mengingat risalah yang di bawa oleh Rasulullah Saw. Dan dilanjutkan para pewarisnya yaitu para sahabat, para wali yang suci, dan para tabiin serta para ulama’ (yang disucikan dan yang dimuliakan oleh Allah Swt.)

Jadi manusia yang dititipi Nur Muhammad, adalah orang-orang yang suci dan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Swt. Adapun orang- orang yang mensucikan diri sehingga ia mencapai pada tingkat kesucian ruh mereka diberi petunjuk untuk menuju ke jalan yang sampai kepada ruhnya ruh Nur Muhammad, karena ruh tercipta dari percikan Nur Muhammad dikala bersujud dan bertasbih kepada Allah Swt selama ribuan tahun. Sumber dari Penciptaan Nur Muhammad Awal Terciptanya Semua Makhluk.

Makrifat Haji
Keterangan berikut adalah suntingan dari kitab ‘Sirrul Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhil Abrar’ oleh Ghawthul A’zham Shaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jilani R.a
Maka berkata Shaikhuna; tentang Nur Muhammad (yaitu hakikat Muhammad) – atau ringkasnya asal kejadian.
Semoga Allah Swt memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperoleh keridlaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.
Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Allah Swt berfirman;
“Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.
Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad Saw dengan sabdanya:
“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.
“Mula-mula Allah ciptakan Qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan Akal”.
Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad Saw; kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah.
Dia dinamakan Nur, cahaya suci karena dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat Jalal Allah Swt.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَـبٌ مُّبِينٌ
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. – Al-Maaidah, ayat 15

Dia dinamakan Aqal yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya.
Dia dinamakan Qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.
Roh Muhammad adalah Dzat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda Saw menyatakan hal ini dengan sabdanya;
“Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku”.
Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh daripada roh baginda Saw di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya."