Minggu, 29 Januari 2012

"bacalah" dengan Hati... & "tegakkan!" dengan Rasa...

"Moralitas haruslah berlandaskan akidah,
Akidahlah yang menyusun konsiderans dan menetapkan nilai - nilai moralitas"

( Sayyid Quthb )

karena tidak ada moralitas yang hidup tegak dan sejahtera tanpa adanya akidah yang lurus ( ISLAM ). karena yang baik, belum tentu benar, dan yang benar musti dirujuk dalam KEBENARAN lagi ( Al Qur'an & Sunnah )

Dalam berjalan terbungkam membisu...,
Ada rasa menggelitik di dalam ini, Hati. Mengamati satu persatu tingkah polah dari bagian negeri ini. Nyaris membuat diriku sendiri putus asa. Tapi bukanlah sejati dari muslim jika ia mudah untuk mundur dari sebuah perjalanan dan ujiannya.

Merasakan setiap hembus nafas dari jerit - jerit hati itu, empati yang terus menerus mengasah dan mengajakku turut menyambut keprihatinan.
Apa yang dapat ku  buat hari ini?
Rasanya belum cukup semua pengorbanan ini.  Setiap kemurungan jiwa mereka, kesuraman langkah dan harapan adalah kesedihan yang mungkin kalian tak pernah itu.

Anak – anak jalanan, Jiwa fakir dan miskin. Semua terlantar. Krisis apa sebenarnya yang melanda negeri ini? Bukan, bukan hanya negeri ini, bahkan BUMI ini. Ketipisan dan Kepudaran Akidah meruntuhkan semua moralitas. Hatiku merah padam, berkecamuk dan muak...dibuatnya.
Mana janji anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara dalam pasal 34 ayat 1 di dalam Undang – Undang Negara 1945 di Indonesia ini?

Ku lihat anak – anak kecil berlarian mengitari lampu merah di Jakarta ini,  wajah lusuh suara yang luruh menandakan keletihan. Sempatkah mereka makan pagi tadi?
Atau hanya sekedar mandi untuk membersihkan pakaian mereka....?
Naifkah aku?
Terserah.. namun kepedulian ini semakin memilukan...

********************************************************************************

Pemandangan terbalik dengan semua orang yang bertendeng dengan jas dan dasi mahal mereka. Kecantikkan dari pesona apa yang mereka kenakan. Kemahalan kendaraan yang mereka guna. Satu anak kecil mengais rupiah demi sesuap nasi dan mungkin membeli buku sekolahnya, ditepiskan tangan menengadah itu dengan kasarnya, muram dan geram raut sang Tuan, sang Nona..., Jiwa kecil tak marah..terdiam menunduk lesu
Terlihat takut hingga tangan kaku, mata yang tak cemerlang kerlingannya....
Allahu Rabbi anta ya Rabbi...,
Siapalah kami ini ya Allah?
Bukan siapa - siapa jika tanpa-MU...
Gerimis sangat pilu dalam hatiku...


Mungkin..
Telaga bening  masih tersisa pada pemilik syurga Jiwa..
Tak banyak dari mereka dan apa yang diperbuatnya, namun kasih sayang senyuman dan keramahan adalah kebahagiaan yang nyata  berusaha berbagi dan menjadi keutamaan untuk saling memberi.

Dalam buku yang baru saja ku beli ini “Life Lessons For Women”
Dikatakan di dalamnya bab I bahwasannya “Mencintai diri sendiri itu adalah hal yang terpenting sebelum kita bertindak pada yang lain”

Namun  penulis tulisan ini memiliki pendapat sendiri...



“Mencintai diri sendiri sebelum bertindak pada yg lain itu memang penting..
tapi caraku mencintai diriku adalah dengan berbagi kasih sayang terhadap sekitarku..
memberi banyak cinta di sekelilingku..

karena hidup yg juga untuk Kehidupan orang lain bagiku..
itulah yang membuat pribadi ini menjadi di luar "kebiasaan" seperti yg lain...
Dan akupun ingin menjadi lebih memahami diriku dengan seperti ini”

Lalu Bagaimana dengan Sahabat Pembaca ?

Pernah terfikirkah?
Ketika kita sering dan menomor satukan diri sendiri?
Apa yang akan terjadi ke depan?
Kita akan menjadi orang yang bermental lemah, manja, dan egois. Karena hanya mencintai diri sendiri itu sama saja dengan membuat perasaan kita nyaman terlebih dahulu, dan pernahkah terlintas dalam fikiran KITA? Karena terkadang sesuatu yang dilakukan dari apa yang tidak kita sukai ( keterpaksaan) itu bisa menjadi wawasan baru, pengalaman yang dapat menambah persepsi kita. Atau bahkan menjadi satu jawaban yang selama ini kita cari. Dan kita tak pernah tahu jika tidak pernah mencobanya..

Kembali pada mencintai diri sendiri...

”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil, tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

(Sayyid Quthb)

***************************************************************************************

Dan Kesinambungan Hal ini dengan Akidah dan Moralitas Bangsa ini,

Akidah yang lurus akan melahirkan akhlak yang sejahtera, adakah Akidah yang utuh adalah mereka yang mementingkan diri mereka sendiri?
Adakah mereka yang bertindak curang?
Dan tidak mau tahu ketika rakyatnya menanggung rasa lapar dan ketakutan ?

Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-NYA...

Tulisan ini, bukan untuk sebatas Sahabat membaca, tapi penulis mengajak Sahabat untuk berfikir jauh, dewasa, matang dan penuh dengan tanggung jawab yang sesungguhnya...dan yang lebih utama adalah jujur bertanya pada diri KITA sendiri,
apa saja yang sudah kita lakukan untuk orang lain?
Ingatkah ?
Kebesaran Kita saat ini tidak lebih dan kurang juga pengaruh dari sekitar.  Karena tak akan ada sebuah  Mesin yang berjalan tanpa puluhan dan ribuan kabel yang menyatu untuk ia menyala.

Kerusakan Akidah, meruntuhkan semua moralitas...
Keindahan dunia seolah menghapuskan semua tanggung jawab yang sebenar...

tanggung jawab siapa ketika orang tertsesat sementara KITA yang faham bersikap sebaliknya?
ku faham Kasih Sayang Tak berarti tak dapat membeda mana yang Benar dan Salah



Beginilah Cara Malaikat Maut Memberitahu Ajal Kita




Sebagian Para Nabi berkata kepada Malaikat pencabut Nyawa. “Tidakkah Kau memberikan Aba-aba atau peringatan kepada Manusia bahwa kau datang sebagai malaikat pencabut nyawa sehingga mereka akan lebih hati-hati?”

Malaikat itu menjawab. “Demi Allah, aku sudah memberikan aba-aba dan tanda-tandamu yang sangat banyak berupa penyakit, uban, kurang pendengaran, penglihatan mulai tidak jelas (terutama ketika sudah tua). Semua itu adalah peringatan bahwa sebentar lagi aku akan menjemputnya. Apabila setelah datang aba-aba tadi ia tidak segera bertobat dan tidak mempersiapkan bekal yang cukup, maka aku akan serukan kepadanya ketika aku cabut nyawanya: “Bukan kah aku telah memberimu banyak aba-aba dan peringatan bahwa aku sebentar lagi akan datang? Ketahuilah, aku adalah peringatan terakhir, setelah ini tidak akan datang peringatan lainnya “ (HR imam qurthubi)

Beginilah cara kerja Malaikat Maut
Nabi Ibrahim pernah bertanya kepada Malaikat maut yang mempunya dua mata diwajahnya dan dua lagi tengkuknya. “Wahai malaikat pencabut nyawa, apa yang kau lakukan seandainya ada dua orang yang meninggal diwaktu yang sama; yang satu berada di ujung timur yang satu berada diujung barat, serta ditempat lain tersebar penyakit yang mematikan dan dua ekor bintang melata pun akan mati?”

Malaikat pencabut nyawa berkata:” Aku akan panggil ruh-ruh tersebut, dengan izin Allah, sehingga semuanya berada diantara dua jariku, Bumi ini aku bentangkan kemudian aku biarkan seperti sebuah bejana besar dan dapat mengambil yang mana saja sekehendak hatiku “(HR abu Nu’aim)

Ternyata Orang Mati Mendengar Tapi Tidak Bisa Menjawab
Rasullullah SAW memerintahkan agar mayat-mayat orang kafir yang tewas pada perang badar dilemparkan ke sebuah sumur tua. Kemudian beliau mendatanginya dan berdiri di hadapannya. Setelah itu, beliau memanggil nama mereka satu-satu: “Wahai fulan bin fulan, fulan bin fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian untuk kaliab betul-betul ada?
Ketahuilah sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar-benar ada dan terbukti.”

Umar lalu bertanya kepada Rasulullah. “Wahai Rasul, mengapa engkau mengajak bicara orang-orang yang sudah menjadi mayat?”

Rasulullah menjawab. "Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran, kalian memang tidak mendengar jawaban mereka atas apa yang tadi aku ucapkan, Tapi ketahuilah, mereka mendengarnya, hanya saja tidak dapat menjawab” (HR Bukhari Muslim)

Pembicaraan Kita Sewaktu Dikandungan



Suatu ketika..seorang bayi siap dilahirkan ke dunia,menjelang diturunkan ... Dia bertanya kepada TUHAN :

Bayi : "Para malaikat disini mengatakan, bahwa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi.... Bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah"

TUHAN : "AKU telah memilih satu malaikat untukmu.. Ia akan menjaga dan mengasihimu"

Bayi : "Tapi di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini cukup bagi saya untuk bahagia"

TUHAN : "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia"

Bayi : "Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"

TUHAN : "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa"

Bayi : "Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya"?

TUHAN : "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun"

Bayi : "Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat engkau lagi"

TUHAN : "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang AKU, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKU, walaupun sesungguhnya AKU selalu berada di sisimu"

Saat itu surga begitu tenangnya... Sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya


Bayi : "TUHAN.......... Jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku nanti"?

TUHAN : "Kamu dapat memanggil nama malaikatmu itu...... I B U ..."

 -------------------------------------------------------------------------------------------------
Kenanglah ibu yang menyayangimu.. 
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi... 
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu..
Ingatkah engkau.. Ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?
Dan ingatkan engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit...

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan..

Kembalilah... Mohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu..

Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang, ketika ibu telah tiada...

Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita..., tak ada lagi senyuman indah... Tanda bahagia.. 
Yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya.. 
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya.. 
Tak ada lagi.. Dan tak akan ada lagi.. Yang akan meneteskan air mata mendo'akanmu disetiap hembusan nafasnya..

Pulang.. Dan kembalilah segera... Peluklah ibu yang selalu menyayangimu..

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..

IBU adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan kepada kita , jagalah perasaan seorang ibu karena dia yang dipercaya Tuhan untuk menjaga kita

Kisah Wanita Pembenci Rasulullah

Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanitu malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan.

“Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya”, kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad..! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad..!”.

Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa tuhan itu satu.”

“Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya,” wanita itu melanjutkan dengan kesal.
“Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad..!”

Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terima kasih.
“Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi kamu satu nasihat. Jauhi Muhammad..! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”

Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu, anak muda?” Tanya wanita tersebut.

"Nama Saya Muhammad. " Lalu laki-laki itu memberitahukannya sambil tersenyum.

wanita itu terkejut setengah mati.
“Maaf, apa yang kamu bilang?
Kata-katamu tidak terdengar jelas.
Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik.
Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad.”

“Iya benar sekali, Saya Muhammad..,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu sambil tersenyum.

Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah SAW. Tak berapa lama meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.“

Demikianlah Rasulullah SAW. Hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat.

Betapa agungnya pribadi beliau.

Kisah Hikmah ; Suami Berhati Malaikat

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat isterinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari sinilah awal cobaan itu menerpa, saat isterinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat isterinya ke tempat tidur.
Dia letakkan isterinya di depan TV agar isterinya tidak merasa kesepian.
Walau isterinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum.
Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi isterinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan isterinya , mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani isterinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian.

Walaupun isterinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda isterinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawatisterinya   bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka.

Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.Pada suatu hari saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu agar semua anaknya dapat berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian….(*sejenak kerongkongannya tersekat*)…
Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satu pun dapat dihargai dengan apapun.
Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ??
Kalian menginginkan bapak bahagia,
Apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang,
kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,
Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..
Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat isterinya yang sudah tidak bisa apa-apa....
Disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan.
Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..
Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama…
Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis

Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..
Dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya
"BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTERI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".

... JANGAN TANGISI APA YANG BUKAN MILIKMU ...

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali.
Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria.
Pffhh... sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian dan titipan dari Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rezeki, Jabatan, Kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Al-Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.
Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah:
Pokoknya harus dia Ya Allah. harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa.
Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik.
Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

".. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

Maka sudahlah, Jangan Engau Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu .. !!!

JALAL Dan BURUNG CAMAR


Ketika bepergian dengan kapal ferri, dalam cuaca yang panas-terik, Jalal paling suka duduk di dek kapal. Dengan cara itu, ia bisa memandang laut lebih dekat, dan dapat memperhatikan sekelilingnya lebih mudah. Satu hari, Jalal naik kapal feri bersama Ibunya. Ia segera mendatangi dek dan duduk di sana. Sekelompok camar mengikuti feri seakan mereka tengah berlomba satu sama lain. Camar-camar itu melakukan pertunjukan yang menarik, berpilin dan berputar di udara, saling berebutan remah-remah roti yang dilemparkan oleh para penumpang feri pada mereka. Salah satu camar meluncur pelan dan mendarat di tempat duduk sebelah Jalal.
“Suka nggak dengan pertunjukan terbang kami?” tanyanya.
 “Kulihat, kamu memperhatikan kami begitu cermat. Siapa namamu?”
“Namaku Jalal. Ya, aku sangat suka melihatmu terbang. Kulihat, kamu bisa tetap berada di udara tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali. Bagaimana kamu melakukan itu?”

Camar tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kami, burung camar, menempatkan diri kami sesuai dengan arah angin. Bahkan jika cuma ada sedikit angin, arus udara yang naik akan mengangkat kami. Kami memanfaatkan gerakan ini, dan kami dapat melakukan perjalanan jauh tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali.”

“Kami bergerak maju-mundur dalam kumpulan udara yang naik dari (permukaan) laut,” burung camar melanjutkan penjelasannya.
“Arus ini memastikan bahwa kami memiliki udara di bawah sayap, dan hal itu memungkinkan kami untuk tetap di udara tanpa menggunakan terlalu banyak energi.” Jalal masih tidak yakin apakah dia betul-betul memahami.
“Aku melihatmu di sana, di udara, tanpa menggerakkan sayap, seakan-akan kamu tertahan di situ. Dan kamu melakukan semua ini dengan bertindak sesuai dengan arah angin?
Aku bisa lihat itu. Namun, bagaimana kamu memperhitungkan kekuatan dan dari arah mana angin itu datang?”

“Dari pengetahuan kami sendiri, tidak mungkin kami bisa melakukan itu,” camar memulai penjelasannya.
“Ketika menciptakan kami, Allah mengajari kami bagaimana caranya terbang, dan bagaimana melayang di udara tanpa buang-buang energi. Contoh-contoh ini diberikan kepada kami, sehingga kami dapat menyadari keberadaan Allah dan memahami kekuatanNya.”
Jalal memikirkan pertanyaan lain. “Ya, kamu tetap tertahan di udara, seolah-olah diikat oleh seutas tali ... Agar mampu melakukan ini, kamu perlu mengetahui matematika dengan baik, dan bisa melakukan perhitungan yang rumit. Namun, kamu telah melakukannya tanpa masalah sejak awal kamu terbang, begitu kan?”

“Benar sekali,” camar itu menyetujui.
“Tuhan kita memberikan ilham bagi setiap makhluk hidup. Kami semua melakukan apa yang diperintahkan pada kami. Jangan pernah lupa bahwa Allah mencakup segala sesuatu dan menjaganya di bawah kendaliNya. Ia adalah Pemimpin segala sesuatu. Engkau dapat menemukan banyak ayat tentang hal ini di dalam Al Quran. Nah, feri ini mendekati daratan sekarang, dan aku akan terbang kembali untuk bergabung dengan teman-temanku. Sampai berjumpa lagi ...”

Jalal menyaksikan teman barunya terbang menjauh, kian mengecil di kejauhan.Setibanya di rumah, Jalal mencari sebuah ayat dalam Al Quran tentang segala sesuatu yang berada di bawah kendali Allah. Ia menemukannya dalam Surat Hud, dan segera mempelajari ayat tersebut dengan sungguh-sungguh:

[Hud menyebutkan,] “Aku telah meletakkan kepercayaanku kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada makhluk yang muncul tanpa perencanaan. Tuhanku berada pada Jalan Yang Lurus.” (Surat Hud: 56).

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas? Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.(Surat An-Nahl: 79).