Selasa, 24 Januari 2012

Sifat dan Sebagian Ahlak Rasulullah SAW


 Bentuk Tubuh Rasulullah

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib R.a yang pernah hidup bersama Rasulullah Saw, berkata:
”Saya bertanya kepada paman saya, Hind bin Abi Halah yang selalu berbicara tentang
Rasulullah yang mulia untuk menceritakan kepada saya berkenaan dengan Rasulullah , agar kecintaan saya bertambah.

Ia berkata,
“Nabi Allah sangat berwibawa dan sangat dihormati.
Wajahnya bersinar seperti purnama.
Ia lebih tinggi dari orang-orang pendek dan lebih pendek dari orang-orang jangkung.
Kepalanya agak besar dengan rambut yang ikal.
Bila rambutnya itu bisa disisir, ia pasti menyisir rambutnya.
Kalau rambutnya tumbuh panjang, ia tak akan membiarkannya melewati daun telinga.
Kulit wajahnya putih dengan dahi yang lebar.
Kedua alisnya panjang dan lebat, tapi tidak bertemu.

Di antara kedua alisnya, ada pembuluh darah melintang yang tampak jelas ketika beliau marah.
Ada seberkas cahaya yang menyapu tubuhnya dari bawah ke atas, seakan-akan mengangkat tubuhnya.
Jika orang berjumpa dengannya dan tidak melihat cahaya itu, orang mungkin menduga ia mengangkat kepalanya karena sombong.
Janggutnya pendek dan tebal; pipinya halus dan lebar.
Mulutnya lebar dengan gigi-gigi yang jarang dan bersih.
Di atas dadanya ada bulu yang sangat halus;
Lehernya seperti batang perak murni yang indah.
Tubuhnya serasi (semua anggota tubuhnya sangat serasi dengan ukuran anggota tubuh yang lain).
Perut dan dadanya sejajar.
Bahunya lebar, sendi-sendi anggota badannya gempal.
Dadanya bidang.
Bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian bersinar terang.
Segaris bulu yang tipis memanjang dari dada ke pusarnya.
Di luar itu, dada dan perutnya tidak berbulu sama sekali.
Lengan, bahu dan pundaknya berbulu.
Lengannya panjang dan telapak tangannya lebar.
Tangan dan kakinya tebal dan kekar.
Jari-jemarinya panjang.
Pertengahan telapak kakinya melengkung, tidak menyentuh tanah, air tidak membasahinya.
Ketika berjalan ia mengangkat kakinya dari tanah dengan dada yang dibusungkan.
Langkah-langkahnya lembut.
Ia berjalan cepat seakan-akan menuruni bukit. Bila berhadapan dengan seseorang,
Ia hadapkan seluruh tubuhnya, bukan hanya kepalanya. Matanya selalu merunduk. Pandangannya ke arah bumi lebih lama daripada pandangannya ke langit. Sesekali ia memandang dengan pandangan sekilas.
Ia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya di jalan.'"


Cara Bicara Rasulullah

Kemudian Imam Hasan berkata, "Ceritakan kepadaku cara bicaranya."
Hind bin Abi Halah berkata,
"Ia selalu tampak sendu, selalu merenung dalam, dan tidak pernah tenang.
Ia banyak diamnya.
Ia tidak pernah berbicara yang tidak perlu.
Ia memulai dan menutup pembicaraannya dengan sangat fasih. Pembicaraannya singkat dan padat, tanpa kelebihan kata-kata dan tidak kekurangan perincian yan diperlukan. Ia berbicara lembut, tidak pernah kasar atau menyakitkan.
Ia selalu menganggap besar anugerah Tuhan betapa pun kecilnya.
Ia tidak pernah mengeluhkannya.
Ia juga tidak pernah mengecam atau memuji berlebih-lebihan apapun yang ia makan

Dunia dan apapun yang ada padanya tidak pernah membuatnya marah. Tetapi, jika hak seseorang dirampas, ia akan sangat murka sehingga tidak seorang pun mengenalnya lagi dan tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya sampai ia mengembalikan hak itu kepada yang punya.
Ketika menunjuk sesuatu, ia menunjuk dengan seluruh tangannya.
Ketika terpesona, ia membalikkan tangannya ke bawah.
Ketika berbicara,terkadang ia bersedekap atau merapatkan telapak tangan kanannya pada punggung ibu jari kirinya.
Ketika marah, ia palingkan wajahnya.
Ketika tersinggung, ia merunduk.
Ketika ia tertawa, gigi-giginya tampak seperti untaian butir-butir hujan es.

Imam Hasan berkata, “Saya menyembunyikan berita ini dari Imam Husain sampai suatu saat saya menceritakan kepadanya. Ternyata ia sudah tahu sebelumnya. Kemudian saya bertanya kepadanya tentang berita ini. Ternyata ia telah bertanya kepada ayahnya (Imam Ali) tentang
Rasulullah Saw, di dalam dan di luar rumah, cara duduknya dan penampilannya, dan ia menceritakan semuanya.”


Akhlak Rasulullah Ketika Masuk Rumah

Imam Husain berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang perilaku Rasulullah Saw ketika ia memasuki rumahnya.

Ayahku berkata, “Rasulullah masuk rumah kapan saja ia inginkan. Bila berada dirumah, Rasulullah membagi waktunya menjadi tiga bagian; sebagian untuk Allah  Swt, sebagian untuk keluarganya, sebagian lagi untuk dirinya. Kemudian ia membagi waktunya sendiri antara dirinya dan orang lain; satu bagian khusus untuk sahabatnya dan bagian lainnya untuk umum. Rasulullah tidak menyisakan waktunya untuk kepentingan dirinya.

Termasuk kebiasaannya pada bagian yang Rasulullah lakukan untuk orang lain ialah mendahulukan atau menghormati orang-orang yang mulia dan Rasulullah menggolongkan manusia berdasarkan keutamaannya dalam agama.

Di antara sahabatnya, ada yang mengajukan satu keperluan, dua keperluan, atau banyak keperluan lain. Rasulullah menyibukkan dirinya dengan keperluan mereka. Jadi, Rasulullah menyibukkan dirinya untuk melayani mereka dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang baik bagi mereka.

Rasulullah sering menanyakan keadaan sahabatnya dan memberi tahu mereka apa yang patut mereka lakukan. mereka yang hadir sekarang ini harus memberitahukan kepada yang tidak hadir. Beritahukan kepadaku orang yang tidak sanggup menyampaikan keperluannya kepadaku.

Orang yang menyampaikan kepada pihak yang berwenang keluhan seseorang yang tidak sanggup menyampaikannya, akan Allah Swt kokohkan kakinya pada Hari Perhitungan. Selain hal-hal demikan, tidak ada yang disebut-sebut dihadapannya dan tidak akan diterimanya.

Mereka datang menemui beliau untuk menuntut ilmu dan kearifan. Mereka tidak bubar sebelum mereka menerimanya. Mereka meninggalkan majelis Rasulullah Saw sebagai pembimbing untuk orang di belakangnya.


Akhlak Rasulullah Di Luar Rumah

“Aku bertanya kepadanya tentang tingkah laku Rasulullah Saw yang mulia di luar rumahnya.

Ia menjawab, “Rasulullah Saw itu pendiam sampai ia merasa perlu untuk bicara.
Ia sangat ramah kepada setiap orang.
Ia tidak pernah mengucilkan seorang pun dalam pergaulannya.
Ia menghormati orang yang terhormat pada setiap kaum dan memerintahkan mereka untuk menjaganya kaumnya.
Ia selalu berhati-hati agar berperilaku yang tidak sopan atau menunjukkkan wajah yang tidak ramah kepada mereka.
Ia suka menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya dan keadaan orang-orang di sekitar mereka, misalnya keluarganya atau tetangganya.
Ia menunjukkan yang baik itu baik dan memperkuatnya.
Ia menunjukkan yang jelek itu jelek dan melemahkannya.
Ia selalu memilih yang tengah-tengah dalam segala urusannya.’

“Ia tidak pernah lupa memperhatikan orang lain karena ia takut mereka alpa atau berpaling dari jalan kebenaran.
Ia tidak pernah ragu-ragu dalam kebenaran dan tidak pernah melanggar batas-batasnya.
Orang-orang yang paling dekat dengannya adalah orang-orang yang paling baik.
Orang yang paling baik, dalam pandangannya, adalah orang-orang yang paling tulus menyayangi kaum muslimin seluruhnya.
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah orang yang paling banyak memperhatikan dan membantu orang lain.’”


Cara Rasulullah Duduk

Imam Husain berkata, “Kemudian aku bertanya kepadanya tentang cara Rasulullah  Saw duduk.

Ia menjawab, ‘Rasulullah Saw tidak pernah duduk atau berdiri tanpa mengingat Allah Swt. Ia tidak pernah memesan tempat hanya untuk dirinya dan melarang orang lain duduk disitu. Ketika datang di tempat pertemuan,
Ia duduk dimana saja tempat tersedia.
Ia juga menganjurkan orang lain untuk berbuat yang sama.
Ia memberikan tempat duduk dengan cara yang sama sehingga tidak ada orang yang merasa bahwa orang lain lebih mulia ketimbang dia. Ketika seseorang duduk di hadapannya,
Ia akan tetap duduk dengan sabar sampai orang itu berdiri atau meninggalkannya. Jika orang meminta sesuatu kepadanya,
Ia akan memberikan tepat apa yang orang itu minta. Jika tidak sanggup memenuhinya,
Ia akan mengucapkan kata-kata yang membahagiakan orang itu. Semua orang senang pada akhlaknya sehingga ia seperti ayah bagi mereka dan semua ia perlakukan dengan sama.

Majelisnya adalah majelis kesabaran, kehormatan, kejujuran dan kepercayaan. Tidak ada suara keras di dalamnya dan tidak ada tuduhan-tuduhan yang buruk. Tidak ada kesalahan orang yang diulangi lagi di luar majelis. Mereka yang berkumpul dalam pertemuan memperlakukan sesamanya dengan baik dan mereka satu sama lain terikat dalam kesalehan. Mereka rendah hati, sangat menghormati yang tua dan penyayang kepada yang muda, dermawan kepada yang fakir, dan ramah kepada pendatang dari luar.


Cara Rasulullah Bergaul Dengan Sahabatnya

“Aku bertanya kepadanya bagaimana Rasulullah Saw bergaul dengan sahabat-sahabatnya.

Ia menjawab, ‘Rasulullah Saw ceria, selalu lembut hati, dan ramah.
Ia tidak kasar dan tidak berhati keras.
Ia tidak suka membentak-bentak.
Ia tidak pernah berkata kotor, tidak suka mencari-cari kesalahan orang, juga tidak suka memuji-muji berlebihan.
Ia mengabaikan apa yang tidak disukainya dalam perilaku orang begitu rupa sehingga orang tidak tersinggung dan tidak putus asa.
Ia menjaga dirinya untuk tidak melakukan tiga hal: bertengkar, banyak omong, dan berbicara yang tidak ada manfaatnya.
Ia juga menghindari tiga hal dalam hubungannya dengan orang lain: mengecam orang, mempermalukan orang, dan mengungkit-ungkit kesalahan orang.
Ia tidak pernah berkata kecuali kalau ia berharap memperoleh anugerah Tuhan. Bila ia berbicara, pendengarnya menundukkan kepalanya, seakan-akan burung bertengger di atas kepalanya. Baru kalau ia diam, pendengarnya berbicara. Mereka tidak pernah berdebat di hadapannya. Jika salah seorang di antara mereka berbicara, yang lain mendengarkannya sampai ia selesai. Mereka bergiliran untuk berbicara di hadapannya.
Ia tertawa jika sahabatnya tertawa; ia juga terkagum-kagum jika sahabatnya terpesona.
Ia sangat penyabar kalau ada orang baru bertanya atau berkata yang tidak sopan, walaupun sahabat-sahabatnya keberatan. Ia biasanya berkata, “Jika kamu melihat orang yang memerlukan pertolongan, bantulah ia.”
Ia tidak menerima pujian kecuali dari orang yang tulus.
Ia tidak pernah menyela pembicaraan orang kecuali kalau orang itu melampaui batas.
Ia menghentikan pembicaraannya atau berdiri meninggalkannya.’


Diamnya Rasulullah

“Kemudian aku bertanya padanya tentang diamnya Rasulullah Saw.

Ia berkata, ‘Diamnya Rasulullah Saw karena empat hal: karena kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan, dan perenungan. Berkaitan dengan pertimbangan, ia lakukan untuk melihat dan mendengarkan orang secara sama. Berkaitan dengan perenungan, ia lakukan untuk memilah yang tersisa (bermanfaat) dan yang binasa (yang tidak bermanfaat).
Ia gabungkan kesabaran dengan lapang-dada. Tidak ada yang membuatnya marah sampai kehilangan kendali diri.
Ia berhati-hati dalam empat hal: dalam melakukan perbuatan baik sehingga orang dapat menirunya; dalam meninggalkan keburukan sehingga orang berhenti melakukannya; dalam mengambil keputusan yang memperbaiki ummatnya; dan dalam melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.”

(Ma’ani Al Akhbar 83; ‘Uyun Al Akhbar Al Ridha 1:246; Ibnu Katsir, Al Shirah Nabawiyah 2:601; lihat Thabathabai, Sunan Al Nabi Saw 102-105).

Ketika Nabi Tersenyum

Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah R.ha, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib R.a, Baginda Nabi Muhammad Saw tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan.

Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah
Saw pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin.

“Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah Saw serta bibir seluruh kaum muslimin”
tulis Ibnu Hisyam dalam kitab As Sirah Nabawiyyah.

Rasulullah
Saw adalah pribadi yang lembut dan penuh senyum. Namun, beliau tidak memberi senyum kepada sembarang orang. Demikian istimewanya senyum Rasulullah sampai-sampai Abu Bakar R.a dan Umar bin khattab R.a, dua sahabat utama beliau, sering terperangah dan memperhatikan arti senyum tersebut.

Misalnya mereka heran melihat
Rasulullah tertawa saat berada di Muzdalifah di suatu akhir malam. “Sesungguhnya Tuan tidak biasa tertawa pada saat seperti ini,”

kata Umar. “Apa yang menyebabkan Tuan tertawa..?”
Pada saat seperti itu, akhir malam, Rasulullah Saw biasanya berdoa dengan khusyu’.

Menyadari senyuman
Rasulullah tidak sembarangan, bahkan mengandung makna tertentu, Umar R.a berharap, “Semoga Allah menjadikan Tuan tertawa sepanjang umur”.

Atas pertanyaan diatas,
Rasulullah Saw menjawab, “Ketika iblis mengetahui bahwa Allah mengabulkan do’aku dan mengampuni ummatku, dia memungut pasir dan melemparkannya kekepalanya, sambil berseru, “celaka aku, binasa aku..!” Melihat hal itu aku tertawa.” (H.R Ibnu Majah)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menulis, apabila
Rasulullah Saw dipanggil, beliau selalu menjawab, “Labbaik”. Ini menunjukkan betapa beliau sangat rendah hati.
Begitu pula, Rasulullah Saw belum pernah menolak seseorang dengan ucapan “Tidak” bila diminta sesuatu.
Bahkan ketika tak punya apa-apa, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Aku tidak mempunyai apa-apa,” kata Rasulullah Saw,
“Tapi, belilah atas namaku.
Dan bila yang bersangkutan datang menagih, aku akan membayarnya.”

Banyak hal yang bisa membuat
Rasulullah Saw tertawa tanpa diketahui sebab musababnya. Hal itu biasanya berhubungan dengan turunnya wahyu Allah Swt. Misalnya, ketika beliau sedang duduk-duduk dan melihat seseorang sedang makan. Pada suapan terakhir orang itu mengucapkan. “Bismillahi Fi Awalihi Wa Akhirihi.” Saat itu Rasulullah tertawa. Tentu saja orang itu terheran-heran.

Keheranan itu dijawab
Rasulullah dengan bersabda, “Tadi aku lihat syetan ikut makan bersama dia. Tapi begitu dia membaca Basmalah, setan itu memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.” Rupanya orang itu tidak mengucapkan Basmalah ketika mulai makan.

Suatu hari Umar R.a tertegun melihat senyuman
Rasulullah Saw. Belum sempat dia bertanya, Rasulullah Saw sudah mendahului bertanya, “Ya Umar, tahukah engkau mengapa aku tersenyum..?”

“Allah SWT dan Rasul-Nya tentu yang lebih tahu,” jawab Umar R.a.

“Sesungguhnya Allah memandang kepadamu dengan kasih sayang dan penuh rahmat pada malam hari Arafat, dan menjadikan kamu sebagai kunci Islam,” sabda Rasulullah.


Kesaksian Anggota Tubuh

Rasulullah Saw bahkan sering membalas sindiran orang dengan senyuman. Misalnya ketika seorang Badui yang ikut mendengarkan Taushiyah beliau tiba-tiba nyeletuk, “Ya Rasul, orang itu pasti orang Quraisy atau Anshar, karena mereka gemar bercocok tanam, sedang kami tidak.”

Saat itu Rasulullah Saw tengah menceritakan dialog antara seorang penghuni syurga dan Allah Swt yang mohon agar diizinkan bercocok tanam di syurga. Allah Swt mengingatkan bahwa semua yang diinginkannya sudah tersedia di syurga.

Karena sejak di dunia punya hobi bercocok tanam, ia pun lalu mengambil beberapa biji-bijian, kemudian ia tanam. Tak lama kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon hingga setinggi gunung, berbuah, lalu dipanenkan.

Lalu Allah Swt berfirman. “Itu tidak akan membuatmu kenyang, ambillah yang lain.”


Ketika itulah si Badui menyeletuk, “Pasti itu orang Quraisy atau Anshar. Mereka gemar bercocok tanam, kami tidak.”

Mendengar itu
Rasulullah Saw tersenyum, sama sekali tidak marah. Padahal, beliau orang Quraisy juga.
Suatu saat justru Rasulullah
Saw yang bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian mengapa aku tertawa..?.”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat.

Maka Rasulullah Saw pun menceritakan dialog antara seorang hamba dan Allah Swt.

Orang itu berkata, “Aku tidak mengizinkan saksi terhadap diriku kecuali aku sendiri.”

Lalu Allah Swt menjawab, “Baiklah, cukup kamu sendiri yang menjadi saksi terhadap dirimu, dan malaikat mencatat sebagai saksi.”

Kemudian mulut orang itu dibungkam supaya diam, sementara kepada anggota tubuhnya diperintahkan untuk bicara. Anggota tubuh itu pun menyampaikan kesaksian masing-masing. Lalu orang itu dipersilahkan mempertimbangkan kesaksian anggota-anggota tubuhnya.

Tapi orang itu malah membentak, “Pergi kamu, celakalah kamu..!”
Dulu aku selalu berusaha, berjuang, dan menjaga kamu baik-baik,” katanya.

Rasulullah pun tertawa melihat orang yang telah berbuat dosa itu mengira anggota tubuhnya akan membela dan menyelamatkannya. Dia mengira, anggota tubuh itu dapat menyelamatkannya dari api neraka. Tapi ternyata anggota tubuh itu menjadi saksi yang merugikan, karena memberikan kesaksian yang sebenarnya
(H.R Anas bin Malik).


Hal itu mengingatkan kita pada ayat 65 surah Yasin, yang maknanya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”


Akhlak Rasulullah Diundang Makan Seorang Budak

Dan Rasulullah Saw tidak pernah mau mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa seorang wanita ( Barirah R.a) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia mengundang Rasulullah Saw karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin mengundang Rasulullah Saw tapi malu tidak punya apa-apa.

Maka ketika datang makanan enak sebelum ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada
Rasulullah Saw, aku ingin Rasulullah Saw datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur hidup dia belum mencicipi makanan itu.

Barirah yang susah ini pun datang mengundang Rasulullah Saw ke rumahnya, maka Rasulullah Saw datang bersama para sahabat untuk menyenangkan Barirah R.a seorang budak wanita yang miskin, Rasulullah Saw tidak ingin mengecewakan orang lain maka datang Rasulullah bersama para sahabat, para sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah membelinya sendiri,

maka berkata para sahabat : “Yaa Rasulullah barangkali ini adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah , kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh memakannya”…

Berubahlah hati Barirah dalam kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasulullah Saw tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah R.a dan bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang Rasul Saw untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah Saw.

Namun bagaimana manusia yang paling indah budi pekertinya dan bijaksana,
maka Rasulullah Saw berkata : “ Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh memakannya “, dan Rasul Saw pun memakannya.

Demikianlah jiwa yang paling indah tidak ingin mengecewakan para Fuqara’, itu makanan sedekah betul untuk Barirah tapi sudah menjadi milik Barirah dan Barirah tidak menyedekahkannya padaku (Rasulullah Saw) tapi menghadiahkannya kepadaku demikian indahnya Sayyidina Muhammad Saw,  


Firman Allah SWT :
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sungguh engkau ( Muhammad SAW ) berada pada akhlak yang agung”.


Rasulullah Kekasih Allah Swt

Suatu saat beberapa sahabat menunggu Rasulullah Saw di masjid Madinah. Mereka berdiskusi soal agama. Sampai pada suatu tema, mereka berbicara tentang topik kelebihan para rasul dan nabi.

Ibnu Abbas R.a menuturkan, sebagaimana dicatat Ad-Darami dan At-Tirmidzi dalam kumpulan hadist mereka, ada seorang sahabat berkata, “Sungguh menakjubkan! Allah Swt telah menjadikan Ibrahim A.s sebagai kawan dekat-Nya.”

Yang lain menyahut, “Lebih hebat lagi Allah Swt telah bercakap-cakap secara langsung dengan Musa A.s ..!”

Sebagian lagi mengutarakan, “Isa A.s sebagai kalimat Allah Swt dan Ruh-Nya.”

Ada lagi yang mengatakan. “Allah Swt telah memilih Adam A.s.”

Pernyataan-pernyataan para sahabat itu telah menimbulkan perbedaan pendapat. Dan mereka belum menemukan kata akhir, siapakah yang lebih dari yang lain.
Sementara dalam ayat disebutkan, “Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi itu atas sebagian yang lain.” – QS Al-Isra’ (17):55.


Tanpa disadari para sahabat, ternyata yang dinanti, Rasulullah
Saw, sudah berdiri dibelakang mereka. Dan beliau pun sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
Dengan wajah mengepresikan tanya, para sahabat menunggu
Rasulullah bersabda.
Bukan Kesombongan “Aku telah mendengar apa yang kalian percakapkan dan memaklumi keheranan kalian terhadap keberadaan Ibrahim A.s sebagai kawan dekat Allah Swt, memang begitulah adanya.
Terhadap keberadaan Musa A.s sebagai orang yang diajak bercakap-cakap langsung, memang begitulah adanya.
Terhadap keberadaan Isa A.s sebagai kalimat dan Ruh-Nya, juga memang begitulah adanya.
Sedang aku adalah kekasih Allah (Habib Allah), dan ini bukan kesombongan.”


Beberapa sahabat yang mendengar keterangan, sedikit plong hatinya. Berarti mereka sudah menemukan jawaban atas apa yang mereka perdebatkan.

Nabi
Saw melanjutkan, “Aku menjadi pembawa bendera kemulian pada hari kebangkitan, Aku adalah pembela pertama dan orang pertama yang dikabulkan syafa’atnya, dan ini bukan sebuah kesombongan.
Aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga, dan Allah Swt akan membuka pertama kalinya untukku dan mempersilahkan aku memasukinya dengan orang-orang miskin diantara kalian.
Aku adalah orang yang paling dimuliakan di zaman awal dan di zaman akhir, dan sungguh ini bukan sebuah kesombongan.”


Istilah "Habib Allah" inilah yang sering disebut-sebut dalam syair dan Qashidah maulid. Mayoritas ulama berpendapat, kekasih Allah Swt lebih tinggi daripada kawan dekat Allah (Khalilullah). Salah satunya pendapat Imam Abu Bakar bin Furak, berdasarkan sebuah pendapat ahli kalam,
“Khalil mencapai Allah Swt melalui sebuah perantaraan sebagai yang diisyaratkan dalam firman-Nya, “Demikianlah langit dan perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda kekuasaan Kami di langit dan di bumi.” – QS Al-An’am (6):75.


Sementara bagaimana “ Seorang yang cinta” mencapai Allah Swt, diisyaratkan dalam firman-Nya, “…Dia sangat dekat dua ujung busur mata panah atau lebih dekat lagi.”- QS An-Najm (53):9.


Khalil berkata, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” – QS As-Syu’ara (26):84.


Sedang kepada orang yang dicintai dikatakan, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.” – QS Alam Nasyrah (Al Insyirah):4.


Nabi Muhammad
Saw di anugerahi sejumlah kemuliaan tersebut tanpa beliau memintanya.

Masih banyak lagi perbandingan yang menguatkan bahwa istilah Habib lebih tinggi dari Khalil. Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya, kita pun lebih mengutamakan kekasih kita daripada kawan kita.

Sejumlah keterangan yang telah disampaikan, menurut Qadhi Iyadh bin Musa Al Yahsubi, dalam bukunya yang berjudul “Keagungan kekasih Allah, Muhammad
Saw” menunjukkan ketinggian derajat Nabi Muhammad Saw.

4 Nabi yang masih hidup dan tetap diberi rizqi dari khazanah Allah swt.


Mereka adalah golongan yang dikhususkan oleh Allah swt.

2 Nabi Ada dibumi yaitu Nabi Khidir A.s. & Nabi Ilyas A.s.
Ditempatkan di bagian bumi yang khusus yang Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui tempat itu

2 Nabi ada di langit yaitu Nabi Isa A.s. & Nabi Idris A.s.
Ditempatkan di bagian langit yang khusus yang Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui tempat itu.

Untuk menjelaskan hal ini, kami jelaskan 5 peringkat hayah (kehidupan)

Satu pandangan Bediuzzaman Said Nursi di dalam Maktubat, Al-Maktub Al-Awwal, dari koleksi Rasail Al-Nur. Nursi menjawab satu soalan… Apakah Sayyidina Khidir masih hidup..?

Nursi menjawab ya…karena 'Hayah' itu 5 peringkat. Nabi Khidir A.s di peringkat kedua.

Lima Peringkat itu ialah:
  1. Kehidupan kita sekarang yang banyak terikat pada masa dan tempat.
  2. Kehidupan Sayyidina Khidir A.s & Sayyidina Ilyas A.s. Mereka mempunyai sedikit kebebasan dari ikatan seperti kita. Mereka boleh berada di banyak tempat dalam satu masa. boleh makan dan minum bila mereka mau. Para Aulia' dan ahli Kasyaf telah meriwayatkan secara Mutawatir akan wujudnya 'Hayah' di peringkat ini. Sehingga di dalam maqam 'Walayah' ada dinamakan maqam Khidir.
  3. Kehidupan Sayyidina Khidir A.s & Sayyidina Ilyas A.s. Mereka mempunyai sedikit kebebasan dari ikatan seperti kita. Mereka boleh berada di banyak tempat dalam satu masa. boleh makan dan minum bila mereka mau. Para Aulia' dan ahli Kasyaf telah meriwayatkan secara Mutawatir akan wujudnya 'Hayah' di peringkat ini. Sehingga di dalam maqam 'Walayah' ada dinamakan maqam Khidir.
  4. Peringkat ketiga ini seperti kehidupan Nabi Idris A.s & Nabi Isa A.s. Nursi kata, peringkat ini kehidupan nurani yang menghampiri hayah malaikat
  5. Peringkat ini pula…ialah kehidupan para Syuhada'. Mereka tidak mati, tetapi mereka hidup seperti disebut dalam Al-Qur'an. Ustadz Nursi sendiri pernah Musyahadah peringkat kehidupan ini.
  6. Dan yang tingkat Hayah ini atau kehidupan rohani sekalian ahli kubur yang meninggal

Wallahhua'lam. Subhanaka La 'Ilma Lana Innaka Antal 'Alimul Hakim

Berikut ini kami nukilkan kisahnya :
1. Nabi KHIDIR A.s
Bukhari, Ibn Al-Mandah, Abu Bakar Al-Arabi, Abu Ya'la, Ibn Al-Farra', Ibrahim Al-Harbi dan lain-lain berpendapat, Nabi Khidir A.s. tidak lagi hidup dengan jasadnya, ia telah wafat. Yang masih tetap hidup adalah ruhnya saja,
sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

"Kami tidak menjadikan seorang pun sebelum engkau (hai Nabi), hidup kekal abadi." (Q.S Al-Anbiya': 34)

Hadist Marfu' dari Ibn Umar dan Jabir (R.a.) menyatakan:
"Setelah lewat seratus tahun, tidak seorang pun yang sekarang masih hidup di muka bumi."

Ibn Al-Salah, Al-Tsa'labi, Imam Al-Nawawi, Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani dan kaum Sufi pada umumnya; demikian juga Jumhurul-'Ulama' dan Ahl Al-Salah (orang-orang shaleh), semua berpendapat, bahwa Nabi Khidir A.s. masih hidup dengan jasadnya, ia akan meninggal dunia sebagai manusia pada akhir zaman. Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fath Al-Bari menyanggah pendapat orang-orang yang menganggap Nabi Khidir A.s. telah wafat, dan mengungkapkan makna hadist yang tersebut di atas, yaitu uraian yang menekankan, bahwa Nabi Khidir A.s. masih hidup sebagai manusia. Ia manusia Makhsus (dikhususkan Allah), tidak termasuk dalam pengertian hadist di atas.

Mengenai itu kami berpendapat:
  • Kekal berarti tidak terkena kematian. Kalau Nabi Khidir A.s. dinyatakan masih hidup, pada suatu saat ia pasti akan wafat. Dalam hal itu, ia tidak termasuk dalam pengertian ayat Al-Qur'an yang tersebut di atas selagi ia akan wafat pada suatu saat.
  • Kalimat di muka bumi yang terdapat dalam hadist tersebut, bermaksud adalah menurut ukuran yang dikenal orang Arab pada masa itu (dahulu kala) mengenai hidupnya seorang manusia di dunia. Dengan demikian maka Nabi Khidir A.s. dan bumi tempat hidupnya tidak termasuk bumi yang disebut dalam hadist di atas, karena bumi tempat hidupnya tidak dikenal orang-orang Arab.
  • Yang dimaksud dalam hal itu ialah generasi Rasulullah s.a.w. terpisah sangat jauh dari masa hidupnya Nabi Khidir A.s. Demikian menurut pendapat Ibnu Umar, yaitu tidak akan ada seorang pun yang mendengar bahwa Nabi Khidir A.s. wafat setelah usianya lewat seratus tahun. Hal itu terbukti dari wafatnya seorang bernama Abu al-Thifl Amir, satu-satunya orang yang masih hidup setelah seratus tahun sejak adanya kisah tentang Nabi Khidir A.s.
  • Apa yang dimaksud 'yang masih hidup' dalam hadist tersebut ialah: tidak ada seorang pun dari kalian yang pernah melihatnya atau mengenalnya. Itu memang benar juga.
  • Ada pula yang mengatakan, bahwa yang dimaksud kalimat tersebut (yang masih hidup) ialah menurut keumuman (Ghalib) yang berlaku sebagai kebiasaaan. Menurut kebiasaan amat sedikit jumlah orang yang masih hidup mencapai usia seratus tahun. Jika ada, jumlah mereka sangat sedikit dan menyimpang dari kaidah kebiasaaan; seperti yang ada di kalangan orang-orang Kurdistan, orang-orang Afghanistan, orang-orang India dan orang-orang dari penduduk Eropa Timur.

Nabi Khidir A.s. masih hidup dengan jasadnya atau dengan jasad yang baru.
Dari semua pendapat tersebut, dapat disimpulkan: Nabi Khidir A.s. masih hidup dengan jasad dan ruhnya, itu tidak terlalu jauh dari kemungkinan sebenarnya. Tegasnya, Nabi Khidir A.s masih hidup; atau, ia masih hidup hanya dengan ruhnya, mengingat kekhususan sifatnya.

Ruhnya lepas meninggalkan Alam Barzakh berkeliling di alam dunia dengan jasadnya yang baru (Mutajassidah). Itu pun tidak terlalu jauh dari kemungkinan sebenarnya. Dengan demikian maka pendapat yang menganggap Nabi Khidir A.s. masih hidup atau telah wafat, berkesimpulan sama; yaitu: Nabi Khidir A.s. masih hidup dengan jasadnya sebagai manusia, atau, hidup dengan jasad ruhi (ruhani). Jadi, soal kemungkinan bertemu dengan Nabi Khidir A.s. atau melihatnya adalah benar sebenar-benarnya. Semua riwayat mengenai Nabi Khidir A.s. yang menjadi pembicaraan Ahlullah (orang-orang bertaqwa dan dekat dengan Allah S.W.T.) adalah kenyataan yang benar terjadi.

Banyak sekali riwayat-riwayat tentang nabi khidir A.s dalam kitab-kitab yang Mu'tabar. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Nabi khidir A.s masih hidup dan mati ditangan Dajjal.

Dajjal akan menangkap seorang pemuda beriman. Kemudian dajjal menyuruhnya untuk menyembahnya, tapi pemuda itu pun menolak dan tetap beriman pada Allah SWT. Lalu Dajjal membunuhnya dan membelah nya menjadi dua. satu bagian dilempar sejauh mata memandang dan satu bagian dilempar sejauh mata memandang kesebelah lainnya. Kemudian Dajjal menghidupkan kembali pemuda itu. Dajjal menyuruhnya agar beriman kepadanya karena ia telah mematikannya  lalu menghidupkannya. Maka pemuda itu tidak mau dan tetap beriman kepada Allah SWT. Pemuda itu bahkan mengatakan "Kamu benar-benar Dajjal!!".
Lalu Dajjal mewafatkannya lagi.

Ada riwayat yang mengatakan pemuda beriman ini adalah Nabi Khidir A.s.

(wallahua'lam).


2. Nabi ILYAS A.s.
Ketika sedang beristirahat datanglah malaikat kepada Nabi Ilyas A.s. Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Ilyas A.s menjadi sedih dan menangis.

"Mengapa engkau bersedih..?" tanya malaikat maut.
"Tidak tahulah." Jawab Ilyas A.s.

"Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut?" tanya malaikat.

"Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berdzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berdzikir memuji Allah," jawab Ilyas A.s.

Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas A.s berdzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas A.s ingin terus hidup semata-mata karena ingin berdzikir kepada Allah SWT. Maka berdzikirlah Nabi Ilyas A.s sepanjang hidupnya.

"Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti." Kata Allah SWT.


3. Nabi IDRIS A.s.
Diriwayatkan Nabi Idris A.s. telah naik ke langit pada hari senin. Peristiwa naiknya Nabi Idris A.s. ke langit ini, telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.
Firman Allah SWT bermaksud:

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah, Idris yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
(Q.S Maryam: 56-57)

Nama Nabi Idris A.s. yang sebenarnya adalah 'Akhnukh'. Sebab beliau dinamakan Idris, karena beliau banyak membaca, mempelajari (tadarrus) kitab Allah SWT.

Setiap hari Nabi Idris A.s menjahit Qamis (baju kemeja), setiap kali beliau memasukkan jarum untuk menjahit pakaiannya, beliau mengucapkan kalimat Tasbih. Jika pekerjaannya sudah selesai, kemudian pakaian itu diserahkannya kepada orang yang memesannya tanpa meminta upah. Walau demikian, Nabi Idris A.s masih sanggup beribadah dengan amalan yang sukar untuk digambarkan. Sehingga Malaikat Maut sangat rindu berjumpa dengan beliau.

Kemudian Malaikat Maut memohon kepada Allah SWT, agar diizinkan untuk pergi menemui Nabi Idris A.s. Setelah memberi salam, Malaikat pun duduk.

Nabi Idris A.s. mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Ketika waktu berbuka puasa telah tiba, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan Nabi Idris A.s, dan beliau menikmati makanan tersebut.

Kemudian baginda beribadah sepanjang malam. Pada suatu malam Malaikat Maut datang menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris A.s menikmati makanan itu. Kemudian Nabi Idris A.s berkata kepada Malaikat Maut: "Wahai tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama."
Tetapi Malaikat itu menolaknya.

Nabi Idris A.s terus melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris A.s merasa heran melihat sikap Malaikat itu. Kemudian beliau berkata: "Wahai tuan, maukah tuan berjalan-jalan bersama saya untuk melihat keindahan alam sekitar..?”

Malaikat Maut menjawab: “Baiklah Wahai Nabi Allah Idris A.s."

Maka berjalanlah keduanya melihat alam sekitar dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun, maka Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris A.s.:
"Wahai Idris a.s, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan..?”

Nabi Idris A.s pun menjawab: “Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mau memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mau memakan yang haram..?"

Kemudian Malaikat Maut dan Nabi Idris A.s meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa oleh mereka bahwa mereka telah berjalan-jalan selama empat hari. Selama mereka bersahabat, Nabi Idris A.s menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeda dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris A.s tidak dapat menahan hasrat rasa ingin tahunya itu. Dan kemudian beliau bertanya: "Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang sebenarnya...?”

Saya adalah Malaikat Maut." Jawab malaikat maut

"Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk...?" tanya Nabi Idris A.s

"Benar ya Idris A.s." Jawab malaikat maut

"Sedangkan tuan bersama saya selama empat hari, adakah tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk...?" tanya Nabi Idris A.s

"Wahai Idris A.s, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan." Jawab malaikat maut

"Wahai Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku...?" tanya Nabi Idris A.s

"Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu." Jawab malaikat maut

"Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, yaitu agar tuan mencabut nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah SWT agar Allah SWT menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah SWT setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu."

Malaikat Maut pun menjawab: "Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan izin dari Allah SWT."

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Idris A.s. Maka dicabutnya nyawa Idris A.s saat itu juga. Dan Nabi Idris A.s pun merasakan kematian saat itu.

Ketika Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris A.s itu, maka menangislah ia. Dengan perasaan iba dan sedih ia memohon kepada Allah SWT supaya Allah SWT menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah SWT mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris A.s pun dihidupkan oleh Allah SWT kembali.

Kemudian Malaikat Maut memeluk Nabi Idris A.s, dan ia bertanya: "Wahai saudaraku, bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu...? "

"Bila seekor binatang dilepas kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu seribu kali lebih sakit daripadanya.
"Padahal kelembutan yang saya lakukan ketika mencabut nyawa terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum pernah saya lakukan terhadap siapa pun sebelum tuan." Jawab malaikat maut

"Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, yaitu saya sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada Allah SWT lebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka itu."

"Wahai Idris A.s. saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah SWT." Jawab malaikat maut

Akhirnya Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris A.s ke dalam Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris A.s. dapat melihat semua yang diciptakan Allah SWT untuk menyiksa musuh-musuh-Nya. Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, kala, api yang membara, timah yang mendidih, pokok-pokok yang penuh berduri, air panas yang mendidih dan lain-lain.

Setelah merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi Idris A.s. berkata kepada Malaikat Maut: "Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, yaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah SWT bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah SWT.

Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga, tanpa perintah dari Allah SWT." Jawab Malaikat Maut.

Lalu Allah SWT pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris A.s masuk ke dalam Syurga.

Kemudian pergilah mereka berdua hingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka berhenti di pintu tersebut.

Dari situ Nabi Idris A.s dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris A.s dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah SWT untuk para wali-wali-Nya. Berupa buah-buahan, pokok-pokok yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dan lain-lain.

Kemudian Nabi Idris A.s berkata: "Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka maukah tuan memohonkan kepada Allah SWT untukku, agar Allah SWT mengizinkan aku memasuki Syurga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api Neraka...?"

Maka Malaikat Maut pun memohon kepada Allah SWT. Dan kemudian Allah SWT memberikan izin kepadanya untuk memasuki Syurga tapi kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris A.s pun masuk ke dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu ia keluar kembali dari Syurga.

Setelah beliau berada di luar, Nabi Idris A.s berkata kepada Malaikat Maut:
"Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam Syurga.”

Malaikat Maut pun berkata: “Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil kasut tuan."

Maka masuklah Nabi Idris A.s, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: "Ya Idris A.s, keluarlah..!”.

“Tidak, wahai Malaikat Maut, karena Allah SWT telah berfirman: "Setiap yang berjiwa akan merasakan mati." (Q.S Ali-Imran: 185)

Sedangkan saya telah merasakan kematian. Dan Allah berfirman yang bermaksud: "Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu."
(Q.S Maryam: 71)

Dan saya pun telah mendatangi Neraka itu. Dan firman Allah lagi yang bermaksud: "… Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya (Syurga)."
(Q.S Al-Hijr: 4)

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut itu: "Biarkanlah dia, karena Aku telah menetapkannya di Azali, bahwa ia akan bertempat tinggal di Syurga."

Allah menceritakan tentang kisah Nabi Idris A.s ini kepada Rasulullah SAW dengan firman-Nya:
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Q.S Maryam: 56-57)


4. Kisah Nabi ISA A.s.
Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam Al-Qur'an ialah Isa A.s. Baginda diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum Al-Qur'an.

Di dalam Al-Qur'an, Nabi Isa A.s disebut dengan empat panggilan yaitu Isa, Isa putera Maryam, putera Maryam, dan Al-Masih.

Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, "Dan ketika malaikat-malaikat berkata, 'Wahai Mariam, Allah memilih kamu, dan membersihkan kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam'" (3:42).

Maryam, ibu Nabi Isa A.s, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.

Kelahiran Nabi Isa A.s merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapak. Kisahnya diceritakan di dalam Al-Qur'an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Maryam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat. Kemunculan malaikat membuat Maryam menjadi takut lalu berkata,

“Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)..!”

Dia  (malaikat) berkata, “Aku hanyalah seorang rasul yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki yang suci." (19:18-19)

Pada ayat yang lain, diceritakan bahwa malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:

"Wahai Maryam, Allah menyampaikan kepada kamu berita gembira dengan satu Kata daripada-Nya, yang namanya Al-Masih, Isa putera Maryam, terhormat di dunia dan di akhirat, daripada orang-orang yang didekatkan." (3:45)

Kemudian Maryam bertanya,
"Bagaimanakah aku akan ada seorang anak lelaki sedang tiada seorang manusia pun menyentuhku, dan bukan juga aku seorang jalang...?" (19:20)

Malaikat menjawab,
"Dia (Allah) berkata, 'Begitulah; Pemelihara kamu telah berkata, 'Itu mudah bagi-Ku; dan supaya Kami membuat dia satu ayat (tanda) bagi manusia, dan satu pengasihan daripada Kami; ia adalah perkara yang telah ditentukan'" (19:21).
Maka lahirlah Isa putera Maryam lebih enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Allah SWT membuat Nabi Isa A.s dan ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, yaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya (23:50).

Isa A.s adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul. Baginda dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah SWT daripada rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan derajad, dan bagi Isa A.s, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh Suci. Firman-Nya:
"Dan rasul-rasul itu, sebahagian Kami melebihkan di atas sebahagian yang lain. Sebagian ada yang kepadanya Allah SWT berkata-kata, dan sebagian Dia menaikkan derajad. Dan Kami memberikan Isa putera Maryam bukti-bukti yang jelas, dan Kami mengukuhkan dia dengan Roh Qudus (Suci)." (2:253)

Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah SWT untuk membeda-bedakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi,
"Katakanlah, Kami percaya kepada Allah SWT, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan Ishak, dan Yaakub, dan puak-puak, dan apa yang diberi kepada Musa, dan Isa, dan apa yang diberi kepada Nabi-Nabi daripada Pemelihara mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun antara mereka, dan kepada-Nya kami muslim.'" (2:136)

Akibat membeda-bedakan Nabi atau Rasul dapat dilihat pada hari ini, yaitu Nabi Isa A.s dipercayai oleh sebagian pihak sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW, dianggap macam Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.

Oleh karena Isa A.s adalah seorang Nabi maka baginda diberi sebuah Kitab, yaitu Injil, yang mengandung petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain menyeru kepada Bani Israil untuk menyembah Allah SWT dengan mentaati Injil, baginda juga mengesahkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah SWT menjelaskannya di sini, berbunyi:
"Dan Kami mengutus, menyusuli jejak-jejak mereka, Isa putera Maryam, dengan mengesahkan Taurat yang sebelumnya; dan Kami memberinya Injil, di dalamnya petunjuk dan cahaya," (5:46) dan,
"Aku (Isa) hanya mengatakan kepada mereka apa yang Engkau memerintahkan aku dengannya: 'Sembahlah Allah SWT, Pemelihara aku dan Pemelihara kamu.'" (5:117)

Turut disebut di dalam Injil (dan Taurat) ialah berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau Ummiy (7:157), dan janji dikaruniakan Taman atau Syurga bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah (9:111). Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan Al-Qur'an.

Ketika baginda diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelas apa yang sedang diperselisihkan.
Firman Allah SWT:
"dia (Isa) berkata, Aku datang kepada kamu dengan kebijaksanaan, dan supaya aku memperjelaskan kepada kamu sebahagian apa yang dalamnya kamu memperselisihkan; maka kamu takutilah Allah, dan taatlah kepadaku.'" (43:63)

Baginda juga memberitahu tentang kedatangan seorang rasul selepas baginda, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya berbunyi:
"Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku (Isa) rasul Allah kepada kamu, mengesahkan Taurat yang sebelum aku, dan memberi berita gembira dengan seorang rasul yang akan datang selepas aku, namanya Ahmad (dipuji)." (61:6)

Seperti Nabi atau Rasul yang lain, baginda mempunyai pengikut-pengikut yang setia dan juga yang tidak setia atau yang menentang. Pengikut-pengikutnya yang setia percaya kepada Allah SWT dan kepadanya. Mereka adalah muslim.
Firman Allah:
"Dan ketika Aku mewahyukan pengikut-pengikut yang setia, Percayalah kepada-Ku, dan rasul-Ku; mereka berkata, Kami percaya, dan saksilah Engkau akan kemusliman kami.'" (5:111)

Pengikut-pengikut yang setia pula menjadi penolong-penolong, bukan baginya tetapi bagi Allah SWT.
Firman-Nya:
"Berkatalah pengikut-pengikutnya yang setia, Kami akan menjadi penolong-penolong Allah SWT; kami percaya kepada Allah SWT, dan saksilah kamu akan kemusliman kami.'" (3:52)

Begitu juga bagi pengikut-pengikut setia Nabi-Nabi lain, termasuk Muhammad SAW. Semuanya menjadi penolong-penolong Allah SWT, untuk melaksanakan dan menyampaikan pesan-Nya.
Firman Allah SWT:
"Wahai orang-orang yang percaya, jadilah kamu penolong-penolong Allah, sebagaimana Isa putera Maryam berkata kepada pengikut-pengikut yang setia, Siapakah yang akan menjadi penolong-penolong aku bagi Allah SWT? Pengikut-pengikut yang setia berkata, kami akan menjadi penolong-penolong Allah SWT." (61:14)

Walau bagaimana pun, pengikut-pengikut Nabi Isa A.s yang setia memerlukan bukti selanjutnya untuk mengesahkan kebenarannya dan supaya hati mereka menjadi tenteram. Untuk itu mereka memohon sebuah meja hidangan dari langit. Kisahnya berbunyi begini:
"Dan apabila pengikut-pengikut yang setia berkata, 'Wahai Isa putera Maryam, bolehkah Pemelihara kamu menurunkan kepada kami sebuah meja hidangan dari langit?'

Dia (Isa) berkata, 'Kamu takutilah Allah SWT, jika kamu orang-orang mukmin.'
Mereka berkata, 'Kami menghendaki untuk memakan daripadanya, dan hati kami menjadi tenteram, supaya kami mengetahui bahwa kamu berkata benar kepada kami, dan supaya kami adalah antara para saksinya.'" (5:112-113)

Justru itu, baginda memohon kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Pemelihara kami, turunkanlah kepada kami sebuah meja hidangan dari langit, yang akan menjadi bagi kami satu perayaan, yang pertama dan yang akhir bagi kami, dan satu ayat (tanda) daripada Engkau. Dan berilah rezeki untuk kami; Engkau yang terbaik daripada pemberi-pemberi rezeki." (5:114)

Allah SWT mengabulkan permintaannya. Lantas, meja hidangan yang turun menjadi satu lagi mukjizat bagi Nabi Isa A.s. Dan ia juga menjadi nama sebuah surat di dalam Al-Qur'an, yaitu surat kelima, Al-Maidah.

Selain daripada kelahiran yang sangat luar biasa dan meja hidangan, Nabi Isa A.s telah dikaruniai dengan beberapa mukjizat lain. Ayat berikut menjelaskannya:
"Ketika Allah SWT berkata,

'Wahai Isa putera Maryam, ingatlah akan rahmat-Ku ke atas kamu, dan ke atas ibu kamu, apabila Aku mengukuhkan kamu dengan Roh Qudus (Suci), untuk berkata-kata kepada manusia di dalam buaian dan setelah dewasa …..
Dan apabila kamu mencipta daripada tanah liat, dengan izin-Ku, yang seperti bentuk burung, dan kamu menghembuskan ke dalamnya, lalu jadilah ia seekor burung, dengan izin-Ku,
Dan kamu menyembuhkan orang buta, dan orang sakit kusta, dengan izin-Ku,
Dan kamu mengeluarkan orang yang mati, dengan izin-Ku' …..
 lalu orang-orang yang tidak percaya antara mereka berkata, 'Tiadalah ini, melainkan sihir yang nyata.'" (5:110)

Walaupun Nabi Muhammad SAW hanya diberi satu mukjizat, manusia dicegah dari berkata bahwa Nabi Isa A.s adalah lebih mulia daripada Nabi Muhammad SAW. Karena, seperti yang sudah diketahui bahwa amalan yang berupa membeda-bedakan para Nabi dan Rasul adalah dilarang oleh Allah SWT. 

"Ketika Allah SWT berkata, 'Wahai Isa, Aku akan mematikan kamu, dan menaikkan kamu kepada-Ku, dan Aku membersihkan kamu daripada orang-orang yang tidak percaya …..'" (3:55)

"Dan aku (Isa) seorang saksi atas mereka selama aku di kalangan mereka; tetapi setelah Engkau mematikan aku, Engkau Sendiri adalah penjaga atas mereka; Engkau saksi atas segala sesuatu." (5:117)

Akan tetapi, sebagian dari kaum Bani Israil mengatakan bahwa mereka telah membunuhnya dengan cara di salib. Namun Allah SWT mengatakan yang sebaliknya. Dengan apa yang terjadi hanyalah satu kesamaan saja.

Firman-Nya:
"ucapan mereka, 'Kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, rasul Allah.' Tetapi mereka tidak membunuhnya, dan tidak juga menyalibnya, tetapi hanya satu kesamaan yang ditunjukkan kepada mereka.
 Orang-orang yang berselisih mengenainya benar-benar dalam keraguan terhadapnya; mereka tidak ada pengetahuan mengenainya, kecuali mengikuti sangkaan; mereka tidak membunuhnya, yakinlah." (4:157)

Di akhir zaman nabi Isa A.s akan turun kembali ke bumi, bukan sebagai nabi tapi sebagai ummat nabi Muhammad SAW. (mengikut syariat nabi Muhammad SAW). akan berdakwah mengajak ummat kristiani untuk masuk islam, menghancurkan salib-salib, membunuh Dajjal.

Minggu, 22 Januari 2012

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan!

Banyak orang yang tidak menyukai kesendirian, karena waktu yang dilewati terasa lebih panjang dan melelahkan. "Sendiri aduh sendiri"... 
Ternyata hal remeh ini bisa menjadi masalah besar bagi sebagian orang!

Apakah engkau Termasuk Yang Demikian?

Memang, kesendirian seringkali diidentikkan dengan hal yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol kesedihan. Namun, jika kita mau membuka pikiran, sebenarnya kesendirian itu tidak selalu mematikan!

Kesendirian bisa memiliki dua makna...
Pertama : kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya,tanpa ada orang di sekitarnya.
Kedua : hanya berbentuk perasaan saja.

Bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun merasakan kesunyian. Mungkin engkau pernah mengalami hal serupa, terutama ketika menemui masalah dengan rekan kerja, sahabat, keluarga, atau pacar?

Satu hal yang perlu kita ingat...
kesendirian dengan arti apapun, sebenarnya bukan masalah jika kita mampu mengelolanya dengan baik, atas perasaan, sikap dan segala situasinya.

Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih bermakna?
Lakukan hal berikut :
  • Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif yang sangat kamu sukai, misalnya dengan membaca, menulis, olahraga, menyanyi?  Apapun kesukaan kamu. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih menyenangkan!  
  • Ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi impian mu dan belum sempat dilakukan. Kamu bisa membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman dulu, buku-buku, dan lain sebagainya. Percaya! cara ini akan menyadarkan kita akan sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya. Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi menyenangkan?
  • Buat daftar sebanyak-banyaknya tentang keinginan yang ingin kamu wujudkan selagi masih hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali "keinginan gila" saat kamu masih kecil? Atau mimpi-mimpi lain yang belum terlaksanakan? Saat itu engkau akan sadar, ternyata banyak sekali hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya! 
  • Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal 'utama' dan yang pertama yang harus kamu lakukan.... Mendekatlah kepada Yang Maha Mencintai diri mu. Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat keberadaan kita di dunia. Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin kokoh kemampuan mu mengarungi kehidupan, dengan segala situasinya.

Intinya, jangan biarkan dirimu terjebak dalam kesendirian dengan suasana " hati yang negatif ", membiarkannya berlarut-larut, hingga membuat dirimu putus asa.

Kalau engkau mau membuka mata, engkau sebenarnya tidak pernah benar-benar sendiri.
Ada orang lain di sekitar kita. Salah satunya ada kami di sini
Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa kita jadikan teman, dan ajak bicara!

Jika engkau mau terbuka...
Dalam kesendirian engkau bisa merenungkan banyak hal.
Dalam kesendirian engkau bisa menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian, dan memaksimalkan potensi yang engkau miliki.

Dalam kesendirian pula engkau bisa mengungkap kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan ego yang seringkali engkau temukan di keramaian!

Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan saja kepada setiap orang, termasuk kepada dirimu.

Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini dirimu sedang dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
Ingatlah, bahwa kesendirian tidak selamanya mematikan!

Kelola-lah perasaan mu dengan baik, dan buatlah kesendirian menjadi lebih bermakna.

'Hikmah Patah Hati'

Sekarang kita bicara tentang patah hati. Apkah kamu salah satunya?
Jika iya,apkah engkau sudah menggali hikmah apa yang terkandung saat cintamu tertolak dan akhirnya patah hati?
Inilah hikmah-hikmah itu:

1. Belajar Menerima Keadaan (ikhlas)
'Dengan patah hati, kita belajar menerima keadaan, mengikhlaskan sesuatu (cinta seseorang) yang bukan menjadi hak kita untuk memilikinya'. toh dia belum halal kan buat kamu? so..ikhlaskan.

2. Menjadi Lebih Dewasa
'Segala kesulitan, pertengkaran, konflik,dan perbedaan prinsip selama menjalin hubungan (ta'aruf) akan membuat kita semakin mandiri dan dewasa'.

3. Pengalaman Adalah Guru Terbaik
'Dengan patah hati, kita jadi punya pengalaman tenantg suatu hal yang disebut CINTA, terutama cinta kepada sesama. Yang namanya cinta kepada makhluk, resiko kecewa itu lebih bsar. Beda jika engkau cinta kepada Allah, saya jamin 100% engkau takkan kecewa'.

4. Menjadi Lebih 'Terbuka'
'Patah hati akan memberi kita suatu keberanian untuk bersikap terbuka tenantg perasaan, pikiran, dan keinginan kita kepada orang yang kita cintai'.
So..akan membuat kita tidak sembarangan mengatakan cinta.

5. Empati Pada Orang Lain.
'Jatuh cinta, lalu kehilangan seseorang (patah hati) akan mengajarkan kita tentang arti saling menerima, mengerti, dan memahami, sehingga akan menjadikan kita pribadi yang tangguh yang memiliki empati kepada org lain'.

Nah, sudah paham kan sekarang bahwa patah hatimu mengandung banyak hikmah yang bermanfaat.
Berani jatuh cinta? Bersiaplah patah hati..! :)

Kamis, 19 Januari 2012

Pencarian Jati Diri... SELAMANYA MENJADI SEORANG HAMBA ...

Aku selalu dalam keraguan tentang apa dan siapakah diriku.
Pertanyaan itu terus hantui dan ganggu hari-hariku.
Aku merasa sendiri dan sepi diantara keramaian.
Aku merasa kosong dan tiada arti ...

Pertanyaan itu ganggu tidurku sudah bertahun-tahun lamanya.
Seakan dia adalah bagian dari diriku.
Selalu mempertanyakan arah dan sejatinya diri.
Kemana harus melangkahkan kaki kecil yang lemah ini ...

Suatu hari aku bertemu dengan seorang hamba Allah, lalu Dia berkata padaku : “Apakah yang membuatmu gusar saudaraku…?”

“aku sedang mencari jati diri dan kemana arah langkah yang harus kulalui agar selalu dalam ridha Tuhan” Jawabku.

Hamba Allah itu berkata sambil tersenyum lebar : “apa mungkin kau akan mendapat arah hidup jika engkau selalu lari saat petunjuk itu datang dan menghampirimu“.

“Apa maksudmu wahai saudaraku…?” Ujarku sambil merasa kebingungan.

Hamba Allah yang begitu saleh dan tawadhu itu berkata padaku dengan nada yang sangat lembut :
“saudaraku, keraguan yang selama ini menghantuimu dikarenakan kau berpegang pada selain Allah.. kau berharap akan rezekimu pada manusia, kau sibuk mencari jodoh karena malu terhadap manusia dan kau beribadah hanya untuk muliakan dirimu dihadapan manusia. Sekarang ganti dan muliakan dirimu dan bergantunglah hanya kepada Allah dan kembalilah padanya dengan penuh keikhlasan”.

Sesaat aku terdiam dan membisu mendapat sebuah wejangan yang sudah sering aku dengar tapi tidak pernah aku kerjakan.

Lalu si Hamba tersebut berkata lagi dengan nada yang begitu lembut :
”Dirimu adalah Hamba maka perlakukanlah dirimu layaknya seorang hamba agar sang Raja sudi memberikan sesuatu yang kau damba-dambakan.” Lalu dia pergi menghilang seperti angin di kala kekeringan…

Hamba hanyalah hamba ..
Dan akan selamanya akan menjadi seorang Hamba ..
Maka Muliakanlah dirimu saat engkau dalam kehambaan itu ..
Agar engkau dapat menjadi raja untuk dirimu ...

Seorang hamba pasti berakhir dan kembali pada sebuah istana yang terbuat dari papan, gelap gulita dan tidak ada satu orang pun yang mau menemaninya. Hamba hanya sendiri dan tidak dapat meminta bantuan kepada siapa pun juga. Kita hanya sendiri tanpa kekuatan dan kesombongan yang ada.

“Istana Papan”

Hiduplah engkau dengan kemewahan
Habiskan waktumu untuk umbar hawa nafsu
Tinggallah engkau di istana emas dan perak
Dan banggakan dirimu di hadapan manusia
Seolah engkau hidup selamanya ...

Lalu engkau tersentak…
Saat waktunya telah tiba
Saat ruhmu dipaksa keluar dari jasad yang hina
Lalu engkau terbujur tak berdaya ....

Padahal baru saja kemaren engkau bersenang-senang
Tapi sekarang engkau sudah terkapar
Ditangisi oleh keluargamu ..

Kemudian engkau dimandikan, di kafankan, dishalatkan dan engkau dikuburkan
Terbayang dosa yang telah engkau perbuat
Tapi sudah terlambat
Kini engkau sudah di alam barzakh
Yang ada kini hanya engkau dan amalmu ..

Kemewahan telah meninggalkanmu ..
Keluarga sibuk membagikan hartamu ..
Sekarang istanamu hanyalah papan ..
Dan pakaianmu hanyalah sehelai kain kafan ..

Engkau tangisi diri
Berharap bisa kembali
Untuk perbaiki amal ibadah
Yang kau lalaikan dan kau lupakan ...

Tapi saudaraku…..
Engkau sudah terlambat…
Sungguh sudah terlambat
Yang akan kau temui hanya siksa
Sampai hari kebangkitan nanti
Saat seluruh diri diminta pertanggung jawaban ..

Rasa sadar kita untuk kembali kepada Cinta Sejati mungkin akan bertambah besar ketika kita sering mengingat mati, oleh karena itu Rasulullah saw sering dan menyuruh kita untuk banyak-banyak mengingat mati.

Orang yang pintar adalah orang yang tahu bahwa dia akan mati dan segera menyiapkan dirinya untuk kematian tersebut, dan tidak terleha-leha dengan waktu yang hanya sementara ini.
Segeralah kembali kepada Allah, bertaubatlah dengan sebenar-benar taubat.
Bertaubatlah dengan taubatan nashuha. Agar cinta Allah dan cinta anda menjadi satu dalam kesempurnaan ...

Salam Terkasih ...
Dari Seorang Hamba-Nya ....