Selasa, 17 Januari 2012

Berjuang dalam Kelumpuhan



Sahabat-sahabat sekalian, yang duduk di kursi roda namanya adalah Fauzan Ulil Abshar, lahir tahun 1994, biasa dipanggil Ozan. Umurnya sekarang kurang lebih 13 tahun.
Yang berdiri di sebelah namanya adalah Zulfa Ulil Azmi, dia adik Fauzan yang baru berusia 4 tahun. Mereka berdua tinggal di Bekasi.

Fauzan Ulil Abshar mengalami kelumpuhan saat usianya menginjak sepuluh tahun, tepatnya tahun 2004. Berarti Fauzan menjalani kehidupan selama 10 tahun dalam kondisi seperti layaknya anak-anak normal yang suka berlari-lari, bercanda dengan temannya sambil tertawa, berjalan kaki ke manapun dia ingin, bersepeda, berenang atau melakukan berbagai aktivitas lainnya dengan semangat dan keceriaan.

Terbayang bukan bagaimana kesedihan yang dirasakan Fauzan?
Sedang asyiknya menikmati masa-masa pertumbuhan tiba-tiba Fauzan harus mengalami kelumpuhan yang menyebabkan kakinya tidak mampu lagi digerakkan dan digunakan untuk beraktivitas seperti layaknya anak-anak yang lain. Membuat dia menjadi berbeda dengan teman-teman sebayanya. Tiga tahun sudah Fauzan menjalani hidupnya sehari-hari di atas kursi roda. Semua aktivitas yang dulu pernah dia lakukan tinggallah kenangan, dan semua aktivitas orang lain yang tidak mengalami kelumpuhan sepertinya menjadi sebuah impian.

Mungkin seandainya kenikmatan di saat kakinya masih bisa dipergunakan belumlah sempat dirasakan tentu rasanya tidaklah terlalu berat menjadi seperti sekarang ini. Secara kejiwaan Fauzan adalah anak yang sama seperti layaknya kita di saat seumuran dengannya, bagaimana kita di saat berumur 13 tahun?
Kita sedang asyik beraktifitas dengan teman-teman sebaya kesana-kemari mengexplore dunia kecil kita dan sibuk mencari tahu setiap hal dan beraktivitas dengan energi yang besar, dengan bebasnya melangkahkan kaki ini kemanapun kita inginkan. Sedangkan Fauzan?
Mungkin dia harus berpikir dua kali untuk berbuat hal yang sama dengan kita.

Pada saat dipotret Fauzan sedang menangis karena tiba-tiba kakinya terasa begitu sakit. Adiknya menatap dengan iba, sementara ibunya memegangi kaki Fauzan sambil sesekali menyeka air mata yang menetes. Fauzan bilang mudah-mudahan teman-teman yang melihat keadaannya bisa lebih bersyukur dan yang bersedih bisa hilang kesedihannya. Semoga Allah membalas setiap kesabaran Fauzan.

Foto diambil sesaat setelah Fauzan mengisi acara sebagai tamu pada Training ESQ Remaja di Bekasi beberapa tahun yang lalu, setelah mendapat izin dari Fauzan dan ibunya untuk dimuat agar bisa menjadi pelajaran dan penyemangat bagi banyak orang. Sayang saya lupa meminta nomor telepon yang bisa dihubungi, tetapi mudah-mudahan cerita ini bermanfaat untuk kita semua.

Meskipun kakinya tak lagi berfungsi tetapi Fauzan masih bisa berbagi hal yang baik dengan ceritanya. Kita yang masih memiliki tangan, kaki, lidah, mata serta pendengaran yang berfungsi dengan baik mudah-mudahan tidak sibuk dengan kesedihan dan keluhan tetapi sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang  baik dan bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.

Buku harian yang ditangisi orang-orang



“Saat kau lahir, kau menangis dan orang-orang di sekitarmu tersenyum. Jalani hidupmu dengan baik karena Allah Swt, maka saat kau mati, orang-orang di sekitarmu menangis dan kau tersenyum.”

Masih teringat “status” dari seorang teman saya di Facebook. Pertama kali saya membacanya, saya langsung tersentak dan pertanyaan di benak melayang-layang.
Mulai dari pertama kali saya dilahirkan sampai detik ini, apakah saya sudah menjalani hidup saya dengan baik karena Allah Swt
Apakah kehadiran saya bermanfaat bagi lingkungan?
Atau apakah orang-orang yang saya kenal tidak pernah merasa dirugikan oleh kelakuan saya?
Masih banyak pertanyaan lain yang menyelinap di otak.

Mari kita tarik mundur perjalanan hidup kita. Saat kita membuat perjanjian oleh Allah Swt dan diturunkan ke bumi melalui Ibu kita dengan mempertaruhkan nyawanya, tangisan keluar dari mulut kecil menyadari kebesaran-Nya. Nama Allah kembali diperdengarkan oleh seorang Ayah yang mengumandangkan Adzan di telinga kita. Sebuah awal baru kehidupan seorang hamba yang diselingi dengan senyuman orang-orang yang mencintai.

Bagi kita yang beruntung, menjalani dan menulis sejarah ditemani orang tua yang secara ikhlas dan tak kenal lelah membantu kita berdiri sampai kita bisa membuat “buku harian” kita sendiri.
Ketika “buku harian” tadi sudah seutuhnya kita yang menulis, maka kita juga yang memutuskan akan menuangkan karya terbaik atau karya yang buruk.
Tentunya tidak sepenuhnya kita bisa menulis karya yang terbaik dari halaman pertama sampai halaman terakhir, karena kita hidup di muka bumi bersama orang lain dan lingkungan sosial yang tidak jarang menggoda kita untuk mencoba hal-hal yang negatif.

Di saat inilah niat kita dipertanyakan. Seluruh tindak tanduk, tingkah laku, perbuatan, perkataan, dan buah pemikiran kita, apakah sudah kita niatkan karena Allah Swt?
Coba kita bayangkan kalau hanya Allah Swt yang ada di hati, hari-hari yang kita lewati akan penuh tangisan dan senyuman yang indah.
Masalah-masalah yang ada, bisa selesai dengan banyak hikmah dibaliknya.
Hubungan kita dengan keluarga, orang lain dan lingkungan sekitar, menjadi hubungan yang dilandasi cinta karena Allah Swt.
Memang manusia tempatnya salah dan khilaf. Setiap waktu kita diuji dan dicoba, diombang-ambingkan oleh setan yang membisik di qalbu.
Itulah mengapa manusia diberi pilihan, jalan yang baik atau jalan yang buruk.
Cerita kehidupan yang indah atau cerita yang penuh kesengsaraan, hanya kita yang mampu mencetaknya di “buku harian” kita.

Mari kita menutup “buku harian” dengan membuat orang-orang menangis, dan kita tersenyum bahagia di pembaringan terakhir. Amin.

Menahan dan Melepaskan Karena Allah

Dee... kau tahu sendiri, ada beberapa kelemahanku dalam berkomunikasi, bukan karena aku tidak bisa mengatakan langsung apa yang kupikirkan, justru terkadang aku takut bila aku bersikap terlalu over, mereka malah tersakiti, jadi aku lebih leluasa menuliskan apa yang ingin kusampaikan dalam bentuk cerita, karena sebuah cerita ada intisari kehidupan dari masa lalu, bila tentang masa depan dia akan menjadi sebuah harapan, sehingga siapapun yang mendengar atau membacanya tidak merasa di hakimi atau digurui, tapi mereka akan berfikir secara jernih untuk mengambil langkah mana yang terbaik dalam menyelesaikan masalahnya...
Ada empat cerita berkaitan dengan dua masalah yang dihadapi temenku tsb, yakni:

Kisah Pertama
Ada Sebuah hutan di pedalaman Amerika, bila seorang pemburu ingin memburu seekor monyet dengan mudah mereka hanya membutuhkan sebuah botol yang di dalamya di taruh sebuah roti isi, kemudian di letakkan dekat kawanan monyet pada malam hari, keesokan harinya pasti ada monyet yang terperangkap karena salah satu tangannya terjebak di botol dalam keadaan memegang roti yang ada di dalam botol. padahal bila sang monyet mau melepaskan roti tsb dia bisa saja tidak terjebak dan kembali bebas, namun karena monyet-monyet di kawasan tersebut lebih memilih menahan roti isi daripada melepaskan akhirnya para pemburu dengan mudah mendapatkan mereka tanpa susah lagi berburu.

Kisah Kedua
Suatu ketika seorang guru bijak mengumpulkan semua muridnya, beliau bertanya adakah di antara muridnya yang pada saat itu sedang membenci orang, bila yang ya maka murid tsb di minta angkat tangan, ternyata semua muridnya angkat tangan. maka sang guru membuat sebuah permainan yang di sepakati bersama yakni bila muridnya membenci orang  dia harus membawa tomat, 1 tomat untuk satu orang yang di benci, besar kecil tomat tergantung kebencian pada orang tersebut, semakin besar kebencian semakin besar tomat yang di bawa. dan tomat tersebut harus di bawa kemanapun murid tsb pergi selama masih ada kebencian masih ada. bila dia bisa memaafkan mereka boleh menanam tomat di tanah dan murid-muridnya di minta membuat laporan dua minggu kemudian.
Ternyata para murid yang membawa tomat ada yang keberatan terlebih yang membawa tomat yang besar dan banyak. karena tomat tersebut tak hanya membebani tapi juga semakin hari semakin bertambah busuk, ada juga murid yang telah belajar memaafkan dan menanam tomat tsb. dua minggu kemudian murid-murid yang masih membenci datang dengan sejuta keluhan, pinggang sakit belum lagi merasakan bau busuk dari si tomat sedangkan murid yang belajar memaafkan mereka malah tersenyum mereka malah datang dengan sebuah tunas tomat yang mereka tanam.

Kisah Ketiga
Dua pengembara, mereka berdua mengadakan perjalanan yang sangat panjang. suatu ketika kedua orang tersebut mendapati di salah satu sepatu mereka ada sebuah kerikil, seorang pengembara berhenti sejenak dan mencopot sepatunya mengambil dan mengeluarkan kerikil yang ada di sepatunya, sedang pengembara satu lagi menganggap remeh, dia merasa hanya sebuah kerikil kecil..
Namun apa yang terjadi pengembara yang mengambil dan mengeluarkan kerikil tersebut lebih cepat sampai ketujuannya sedang yang menahan kerikil, akhirnya dia merasakan kecapaian karena kerikil tsb sehingga sepanjang perjalanan dia kesakitan.

Dee ...
Sesungguhnya dalam hidup ini Allah telah memberikan sebuah pilihan agar kita bisa menentukan langkah apa yang terbaik agar kita semua bisa mencapai derajat kebaikan di sisi-NYA, namun terkadang kita sebagai manusia seringkali tertipu ada yang karena ketamakan seperti kisah sang monyet menyebabkan dia terbelenggu dan binasa karena tidak mau melepaskan apa yang seharusnya bukan miliknya.
Ada yang membawa beban yang memang bisa di lepaskan seperti kisah guru dan tomat, bebannya itu atas kemauannya sendiri, busuknya dia juga yang merasakan, namun bila bersikap lapang untuk menanam tomat tsb akan tumbuh tunas baru yang akan membuat harapan baru.

Sedangkan kisah ketiga kita bisa bercermin bahwa jangan merasa sok kuat bisa menahan sesuatu yang menurut kita sepele (kecil), tapi kita tahu bahwa itu ada sebuah ganjalan dalam mencapai tujuan kita. bila lebih cerdas kita bisa mengembilnya kemudian menaruhkan sebuah persimpangan yang akan menjadi petunjuk bagi orang lain.

Dee.. sesungguhnya tiap cinta yang Allah sebarkan di muka bumi ini ibarat cahaya yang menyinari dimanapun dia berada, namun cahaya tsb akan berubah kegelapan bila tidak di posisikan pada tempat yang salah.
Apa yang kita miliki di dunia sesungguhnya milik Allah semata, kita tak berhak menangisi, kecewa bahkan membenci ketika Allah mengambil kembali milik-Nya karena sesungguhnya Allah lebih tahu tentang rencana indah di balik kehidupan yang DIa Ciptakan.dan berhati-hati terhadap penyakit Ghurur (tertipu/kekaguman terhadap diri sendiri yang terlalu besar dan berlebihan) dan penyakit Wahan yakni cinta dunia dan takut akan kematian.

Kita bersaudara karena Allah. semoga ikatan ini saling mengingatkan dengan baik, dengan niat baik, dengan cara yang baik pula sehingga merasakan limpahan kasih sayang dan penjagaan Allah di setiap desahan nafas kita...

Senin, 16 Januari 2012

... HIDUP ADALAH UNTUK BERBAGI ...

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran, Penyapu jalan, Tuna wisma, sampai Pak polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “
kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??,
untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.
" Dik.., boleh kakak bertanya” ? tanyaku

"Silahkan kak," jawab si anak kecil

"Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ya ?, "

"Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak..!", dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya.

"Oh.. tidak!, Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka.
Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?" tanyaku

Lalu, Adik kecil ini mulai bercerita,
“Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma,
Setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasihan banyak orang,
Dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit,
Sampai kami sering tidak makan,
Waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan,
Apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih ,
Namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.
Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu,
Jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.

Yang ibu ku selalu katakan “ Hidup Harus Berarti Buat Banyak Orang “,
Karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita,
kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, Apa yang kita bawa..?."

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya, dibandingkan adik kecil ini.

Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu.

Yaa.. Tuhan, Ampunilah aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada-Mu

Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku.

"Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri "

9 Mimpi Rasulullah SAW

Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan.....

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi malaikat maut dengan keadaan yang amat mengerikan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh ketaatan dan kepatuhan kepada kedua orang tuanya.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan adzab kubur yang amat menyiksakan, maka ia telah diselamatkan oleh berkat wudlunya yang sempurna.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis laknatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat dzikirnya yang tulus dan ikhlas hanya kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang dibuat dari api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikat Adzab, tetapi sholatnya yang khusuk dan tidak menunjuk-nunjuk telah melepaskannya dari siksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga terhalang untuk meminumnya, ketika itu datanglah pahala puasa yang ikhlas hanya kepada Allah SWT memberi minum hingga ia rasa puas.

6. Aku melihat umatku mencoba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpul-kumpul, setiap kali dia akan usir, maka menjelma mandi junub dengan rukun yang sempurna sambil memimpinnya ke kumpulan seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadaan gelap gulita disekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan bingung, maka datanglah pahala Haji dan Umrahnya dengan ikhlas hanya
kepada Allah SWT yang mengeluarkannya dari kegelapan menuju tempat yang terang menderang.

8. Aku melihat umatku coba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya, maka menjelmalah sifat silaturahimnya dan tidak bermusuh-musuhan terhadap sesama umatku lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjadi pahala sedekah yang ikhlas hanya karena
Allah SWT lalu terhindar muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

Bersabda Rasulullah saw., "SAMPAIKANLAH PESANKU KEPADA UMATKU WALAUPUN HANYA SEPOTONG AYAT".

Segala Perasaan Itu Indah Bila Berserah kepada Allah

Cinta itu indah..jika cinta itu karena Allah.. Karena cinta itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada siapa saja yang kamu cintai..

Rindu itu indah…jika rindu itu karena Allah…Karena rindu itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada siapa saja yang kamu rindui…

Kegembiraan itu indah..jika gembira itu karena Allah… Karena gembira itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu gembira…

Sedih itu indah..jika sedih itu karena Allah.. Karena sedih itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu sedih…

Bosan itu indah..jika bosan itu karena Allah.. Karena bosan itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang kamu bosankan…

Kesibukan itu indah..jika sibuk itu karena Allah .. Karena kesibukan itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang kamu sibukkan…

Sakit itu indah..jika sakit itu karena Allah.. Karena kesakitan itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang menyakitkan kamu…

Benci itu indah..jika benci itu karena Allah .. Karena kebencian itu akan sampai kepada Allah dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu benci…

Kesusahan dan derita itu indah..jika ia karena Allah.. Karena derita dan kesusahan itu akan sampai kepada Allahdahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu susah dan derita..

Maka, niatlah segala perasaan kita hanya untuk Allah.. Hanya untuk mendapatkan keridlaan Allah...

Jujurlah kepada Allah..atas segala yang menimpa kamu... Atas segala yang diperbuatkan oleh kamu dan kembalikanlah segala perasaan itu kepada Allah .. Karena hanya Allah yang memberi segala perasaan itu..

Jika ia memberi kebaikan dan menghapuskan dosa-dosa untuk kamu, menyempurnakan diri kamu di kemudian hari, maka ridla lah dengan perasaan itu..
Mohonlah, berdo'alah agar Allah perbaiki diri kamu...dan Berusahalah  untuk Muhasabah diri..
Cari dimana kelalaian kamu selama ini...dan Berusahalah  memperbaiki diri...

Jika perasaan itu menambahkan dosa-dosa kamu, maka mohonlah agar dihilangkan hanya karena takut akan murka, azab Allah di 'sana' nanti..

Berserah diri kepada Allah.. Dalam apa saja yang telah berlaku kepada kamu.. Insya Allah, Allah akan mengembalikan kembali perasaan-perasaan kamu itu mengikuti apa yang terbaik untuk kamu…

Percayalah, Allah tidak pernah menyiksa kamu, karena bukan itu tujuan kamu diciptakan..

Allah sentiasa merindukan dan mencintai kamu sebagai hamba-hamba-Nya, melebihi dari segala manusia yang ada di muka bumi ini...

Allah memberi perasaan-perasaan itu untuk memberi 'isyarat' cinta dan kasih sayang-Nya untuk kamu kembali kepada Nya ...kembali tenang hanya jika bersama-Nya...

JIka masih belum ketemui 'keindahan' itu, sekurang-kurangnya kamu mendapat ridla Allah..karena kamu mengingat-Nya dan berniat hanya karena Dia di setiap apa saja yang menimpa kamu...

Apakah yang lebih bernilai dari ridla Allah?
dari rahmat Allah?
dari ketenangan daripada Allah?
dari perasaan keindahan hanya dengan 'bersama' Allah?

Insya Allah, kamu, kita semua akan ketemu ‘keindahan’ itu…jika karena Allah...percayalah…

Aamiin Ya Rabbal Alamin..

KISAH PERJUANGAN SI BOCAH CACAT ...

Ujian yang mahaberat, jika disikapi dengan pikiran terbuka dan jiwa yang lapang, bisa mengobarkan semangat perjuangan yang tak gampang padam. Dan, semangat itulah yang dikobarkan seorang bocah bernama Qian Hongyan.

Kita memang kadang perlu belajar dari seorang bocah. Jika kita ingat kembali, semangat sebagai anak-anak sangat kuat untuk menerjang semua halangan dan tantangan. Satu contoh nyata adalah saat kita belajar berjalan. Meski jatuh berkali-kali, sebagai seorang bocah kita tentunya terus berusaha hingga benar-benar bisa berjalan seperti saat ini.

Dan, semangat ala bocah inilah yang-barangkali-mampu menjadi "bara api" yang terus menyala di tengah gelap dan kerasnya ujian bagi sesosok anak berusia belasan dari negeri China, Qian Hongyan. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini-tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)-ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi.

Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, China itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.

Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum-seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.

Bersiap Mendunia ...

Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh.

Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untukikut menjadi seorang atlet.

Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang seorang juara.

Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya.

Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat.

Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero China dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia denganusahanya mewakili China pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan.

Orang-orang dengan keterbatasan fisik semacam Qian biasanya tidak mendapat tempat di masyarakat luas. Mereka lebih sering dianggap beban daripada potensi yang terpendam. Itu sebabnya kebanyakan kaum difable (cacat) cenderung tersisih. Tetapi justru Tuhan menghadirkan mereka dalam kehidupan kita untuk mencelikkan ‘kebutaan’ kita akan kebesaran-Nya dalam memakai siapapun juga.

Sesungguhnya, kita berhutang kepada mereka yang tak mau menyerah kepada nasib, kepada keadaan dan kepada apa yang disebut oleh banyak orang sebagai takdir.

Tak ada cacat yang bisa memadamkan semangat hidup yang tetap berkobar bagi manusia yang tak pernah menyerah.:EVERYONE IS NUMBER ONE.

Ya, setiap orang adalah nomor satu! Tidak ada yang nomor dua! Semangat takkan pernah padam oleh keadaan selama kita masih belum menyerah!!

Bila yang cacat saja bisa berjuang dan mengalahkan kelemahannya untuk menjadi yang terbaik dan nomor satu, Jika Qian saja mampu, bagaimana dengan kita?
mengapa kita yang masih sempurna justru menyerah pada keadaan?