Pengorbanan dan kesabaran sepatutnya diterapkan dalam jiwa kita agar kita berhasil dalam mengarungi segala ujian dan cobaan dalam kehidupan dunia ini dan dalam kita melaksanakan segala perintah Allah. Lihat saja bagaimana ibadah puasa yang meminta kita menunjukkan kesungguhan, ketabahan, kesabaran dan keikhlasan. Sifat mulia ini sudah sewajarnya kita tunjukkan dalam semua jenis amal perbuatan kita. Ingatlah bahwa ganjaran dan balasan yang sebenarnya bukan datang dari makhluk dan manusia lain. Ganjaran dan balasan sebenarnya adalah dari Allah semata.
Apakah sifat murni yang dapat kita tanamkan dalam melakukan pengorbanan? Untuk menjawab persoalan ini, marilah kita renungkan akan pengorbanan besar nabi Ibrahim serta puteranya, Ismail, yang diabadikan Allah di dalam surah As-Saffat: 102-109. Lihatlah nilai yang tertanam di dalam jiwa Nabi Ibrahim dan Ismail:
Pertama, keduanya memiliki keteguhan iman dan berkeyakinan penuh akan ketetapan Allah dan tidak beranjak sedikit pun dalam menjalankan perintah-Nya.
Kedua, nilai kesabaran. Nabi Ibrahim dan Ismail amat sabar dalam mengharungi cobaan dihadapi serta tabah dalam menunaikan tanggung jawab. Sanggup berkorban inilah nilai dikehendaki setiap Muslim dalam membangunkan diri untuk menuju ke arah masyarakat cemerlang. Nilai ini amat penting dan perlu disemai dalam diri kita, keluarga serta masyarakat.
Marilah kita lihat akan kepentingan nilai pengorbanan ini supaya kita sama-sama menghayatinya dalam kehidupan seharian. Nilai iman dan keyakinan penuh akan ketetapan Allah bermaksud ridha akan ketetapan dan takdir Allah. Kita sebagai seorang yang beriman perlu percaya akan semua ketetapan ditetapkan Allah. Seorang hamba mestilah sentiasa menerima akan bahagian rezeki yang Allah kurniakan.
Kesabaran inilah nilai yang dipancarkan oleh Nabi Ismail apabila ketika ditanya oleh Ibrahim akan perintah Allah untuk menjadikan beliau sebagai korban. Lantas Nabi Ismail menjawab: Wahai ayah! Jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati aku dari orang yang sabar. (As Saffat: 102) . Inilah sebenarnya kekuatan yang ada pada seorang yang beriman di mana dengan kekuatan iman pada Allah dan prinsip yang teguh dalam dirinya, dia akan menjadi seorang yang mampu untuk berkorban atas dasar mendapat keridhaan Allah.
Seorang ayah dengan penuh keimanan akan berkorban sedaya upaya berusaha dalam mencari nafkah bagi keluarganya dan membangunkan mereka dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa apa saja usaha dilakukan adalah untuk mendapat keridhaan Allah dan dengan usahanya keluarga yang dibangunkan menjadi sebuah keluarga Islam yang bisa menjadi penunjang di masyarakat. Begitu juga seorang ibu pastinya dengan keimanan yang teguh akan mendidik anak-anaknya dengan prinsip agama dan sentiasa berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak itu orang berguna untuk agama, masyarakat dan negara.
Inilah pengorbanan yang sering kita lakukan, pengorbanan ini akan lebih bermakna apabila tersemat di dalam hati bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Pengorbanan yang kita lakukan dalam kehidupan ini hendaklah kita tempuh segala cobaannya dengan kesabaran. Kita mengorbankan waktu, tenaga, harta benda dan akal pikiran, semua itu memerlukan kesabaran, dengan pengorbanan inilah hasil kita akan mendapatkan berbagai kenikmatan dari Allah SWT.
Minggu, 26 Juni 2011
Keikhlasan membawa ketenangan
Tantangan besar dalam hidup ini adalah sabar dan ikhlas. Kesabaran dan keikhlasan manusia kadang diuji oleh Sang Pencipta sampai batas paling maksimal yang bisa diterima seseorang. Tetapi semakin tinggi tingkat kesabaran dan keikhlasan seseorang, maka semakin dekat posisinya di mata Yang Kuasa.
Pernah saya mengeluh tentang habisnya kesabaran yang saya punya. Sempat terucap bahwa “kesabaran khan ada batasnya”. Seorang guru spiritual kami menegur dengan keras dan dengan lantang berujar “KESABARAN ITU TIDAK ADA BATASNYA, DAN JANGAN PERNAH BILANG BAHWA KAMU SUDAH HABIS KESABARANMU!!” Saya merenung sejenak..
Saya ajak anda juga merenung tentang teguran tersebut..
Bagaimana seorang Rasul dapat bertahan dari segala cobaan di masa lalu jika kesabaran itu ada batasnya. Bagaimana orang tua kita dapat membesarkan kita dan kita membesarkan anak-anak kita jika kesabaran itu ada batasnya. Bagaimana seorang bayi lahir dari dari perut seorang ibu jika seorang ibu kehilangan kesabaran dalam 9 bulan lebih kehamilannya. Jika Allah mengatur kelahiran akan terjadi dalam 2 tahun, saya yakin seorang ibupun akan dengan sabar menunggu waktu kelahiran si calon bayi.
Artinya, kesabaran itu memang tidak ada batasnya. Guru saya benar dan saya sangat setuju dengan pernyataannya. Tinggal sekarang, bagaimana dengan kihklasan kita dalam kesabaran tersebut. Menurut saya, ikhlas akan dengan otomatis mengiringi tingkat kesabaran seseorang. Semakin sabar seseorang akan semakin ikhlas dia dalam menghadapi tantangan. Setujukah anda?
KEKUATAN,KESABARAN DAN KEIKHLASAN DALAM BERPUASA
Ya Allah Ya Rabbi, kepada MU lah hamba berserah, tiada kekuatan apapun selain hanya ENGKAU.
I. KEKUATAN
Jika kita berpikir bahwa kemampuan menjalankan puasa dengan mengandalkan kekuatan fisik belaka, maka pemikiran seperti itu adalah suatu kekeliruan besar, karena diri manusia itu terdiri dari 3 unsur, yakni tubuh, jiwa dan roh.
Jika seseorang berniat menjalankan ibadah Ramadhan ini dan berpikir ia punya banyak harta yang akan dia bagikan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, sebagai bukti perbuatan baik, hal ini hanya kesombongan pribadi yang tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT.
Jika Saudara melaksanakan ibadah puasa ini hanya berprinsip bahwa hal ini adalah hanya suatu yang sifatnya rutinitas setiap tahunnya, Saudara akan kecewa, karena Allah SWT selalu memperbaharui hidup manusia dan tidak bersifat statis.
Cara berpikir manusia yang seperti ini hanya merupakan “kekuatan” yang muncul dari organ yang bernama “otak” yang penuh keterbatasan yang kemudian berubah menjadi sifat dan sikap “AROGAN”. Sifat sombong manusia inilah yang seringkali menjerumuskan manusia pada perbuatan dosa dengan berani “melawan” dan “menantang” kekuatan yang sesungguhnya yakni KUASA ALLAH SWT.
Puasa hanya bisa terlaksana jika ada Ridho Allah SWT semata. Ingat doa kita mengawali puasa yakni “Niat puasa ramadhan karena Allah SWT”. Sebenarnya diri kita secara fisik hanya ibarat sebuah wayang yang tidak memiliki kekuatan apapun, jika tidak digerakkan oleh “DALANG” nya yakni Allah SWT. Hanya karena ijin dari Allah SWT sajalah, maka seluruh organ di dalam tubuh kita akan “disinkronkan” untuk saling mendukung dan menopang, agar selama lebih dari 14 jam sehari bisa bertahan untuk tidak makan dan minum, tanpa mengalami dehidrasi. Mungkin hal ini, bagi orang tak beriman, hanya sesuatu yang “biasa”, namun bagi orang beriman ia yakini adalah suatu “MUKJIZAT”. Ini salah satu fakta bahwa puasa yang diawali dengan niat dan kekuatan dari Allah SWT adalah bukan karena kekuatan manusia.
Kekuatan dalam arti kemampuan financial, seringkali membuat manusia arogan. Momentum bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, membuat sebagian orang yang merasa memiliki “kekuatan” berpikir bahwa dengan “uang atau harta” yang dimilikinya, dia bisa beramal. BERAMAL memang perbuatan yang wajib kita lakukan, tetapi beramal pun jika dilakukan hanya karena nafsu, ingin mendapat pujian atau sebagai sarana popularitas, sama saja dengan membuang garam ke laut. Semua yang kita miliki hanyalah titipan dan berasal dari kemurahan Allah SWT semata, jika kita menyadari dan imani bahwa sesungguhnya “kekuatan” yang kita miliki adalah titipan NYA, maka kita tidak akan pernah berani mangatakan bahwa itu adalah “kekuatan” kita.
Doa kita adalah. Ya Allah, berikanlah kekuatan MU kepada kami di dalam menjalankan ibadah puasa ini. Jangan membiarkan kami mengandalkan kekuatan kami sendiri, karena sesungguhnya apapun yang kami miliki berasal dari MU.
II. KESABARAN
Puasa identik dengan kesabaran, kenapa ? Karena semua unsur yang mendukung kemampuan kita untuk mampu menunaikan ibadah puasa selain kuasa Allah SWT, adalah kesabaran. Tanpa kesabaran, ibadah kita sia-sia. Ujian yang sering dialami orang yang berpuasa adalah ujian kesabaran.
Kesabaran tidak datang dengan sendirinya, kesabaran yang hakiki adalah berasal dari ketenangan batin kita. Jika batin kita tenang perasaan atau emosi cenderung bisa dikendalikan, ketenangan batin pun bisa diraih jika iman dipenuhi oleh keyakinan akan kuasa Allah SWT. Semua terkait satu dengan lainnya.
Menjalani ibadah puasa dengan berbagai ujian yang kita hadapi, bukanlah suatu yang mudah dan sederhana. Orang sabar pun kadang harus melipatgandakan stock “kesabarannya” ketika ia melaksanakan ibadah puasa kenapa ? Karena justru pada saat itulah “kesabaran” kita lebih diuji.
Untuk itulah selama menjalani puasa kita dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa, hal ini bertujuan agar batin kita tenang dengan demikian kita akan lebih panjang sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Ketidaksabaran akan lebih banyak menimbulkan persoalan, ketika fisik mengalami kelelahan kita justru dituntut tetap produktif dan beraktifitas normal. Berpuasa justru lebih bermakna ketika kita berada di lingkungan sosial yang heterogen atau beragam. Makna kesabaran yang perlu kita buktikan adalah justru ketika kita berpuasa diantara orang-orang kita tidak berpuasa.
Adalah suatu tindakan atau keputusan yang kurang bijak, jika ada pemerintah daerah yang mengeluarkan Perda, selama bulan puasa rumah makan tidak boleh beraktifitas (Perda seperti ini, pernah penulis temukan di Banjarmasin).
Jika hal ini sampai diterapkan, lalu dimana makna ujian iman pada saat kita berpuasa ? Pembuktian iman kita sebagai orang Muslim yang sedang berpuasa adalah justru ketika kita mampu menjadi panutan bagi umat beragama lainnya, bahwa puasa orang Islam adalah tetap Rahmatan Lil Alamin, bukan egoisme agama yang ditonjolkan, mentang-mentang penganut Islam mayoritas, sehingga yang minoritas tidak dihormati.
KEIKHLASAN
Puasa adalah IMAN dan iman adalah keyakinan yang penuh terhadap kuasa Allah SWT. Jangan sampai kita menjalani puasa karena keterpaksaan. Misalnya karena alasan semua orang di rumah puasa, akibatnya tidak ada yang menyediakan makanan, sehingga dia jadi harus berpuasa dan sebagainya. Keikhlasan pada saat berpuasa ibarat air yang mengalir sejuk di dalam batin kita, tanpa beban dan selalu yang kita ingat adalah kata “bersyukur dan bersyukur”.
Kenikmatan terbesar adalah ketika kita mampu menjalani ibadah puasa tanpa tuntutan apapun, selain berserah kepada Allah SWT. Tak ada kuatir sekecil apapun terhadap apa yang akan terjadi, kenapa ? Karena IMAN kita lebih besar dari MASALAH.
Kepasrahan hanya bisa diperoleh jika KEYAKINAN kita kepada Allah SWT jauh melebihi PERMASALAHAN yang kita hadapi. Maka ketika kita berdzikir Allahu Akhbar…Allahu Akhbar…..Allahu Akhbar, kita benar-benar mengecilkan diri dan permasalahan yang kita hadapi dan sebaliknya Allah SWT di “BESAR” kan. Dengan demikian kita mendidik “IMAN” kita untuk selalu meyakini bahwa “TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH SWT”.
Jika tingkat keimanan kita sudah sampai pada tahap seperti itu, apapun yang kita hadapi, ringan maupun berat, mudah maupun susah, kita tidak lagi pernah gentar, karena kita sudah mampu berserah atau pasrah kepada NYA.
Dengan kepasrahan inilah, maka kita akan selalu ikhlas dalam menjalani ibadah apapun, karena kita tahu apa yang kita lakukan, apa yang kita amalkan semua dari Allah SWT, manusia hanya sebagai perantaranya, semua milik Allah SWT dan dikembalikan untuk kemulian NYA semata.
I. KEKUATAN
Jika kita berpikir bahwa kemampuan menjalankan puasa dengan mengandalkan kekuatan fisik belaka, maka pemikiran seperti itu adalah suatu kekeliruan besar, karena diri manusia itu terdiri dari 3 unsur, yakni tubuh, jiwa dan roh.
Jika seseorang berniat menjalankan ibadah Ramadhan ini dan berpikir ia punya banyak harta yang akan dia bagikan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, sebagai bukti perbuatan baik, hal ini hanya kesombongan pribadi yang tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT.
Jika Saudara melaksanakan ibadah puasa ini hanya berprinsip bahwa hal ini adalah hanya suatu yang sifatnya rutinitas setiap tahunnya, Saudara akan kecewa, karena Allah SWT selalu memperbaharui hidup manusia dan tidak bersifat statis.
Cara berpikir manusia yang seperti ini hanya merupakan “kekuatan” yang muncul dari organ yang bernama “otak” yang penuh keterbatasan yang kemudian berubah menjadi sifat dan sikap “AROGAN”. Sifat sombong manusia inilah yang seringkali menjerumuskan manusia pada perbuatan dosa dengan berani “melawan” dan “menantang” kekuatan yang sesungguhnya yakni KUASA ALLAH SWT.
Puasa hanya bisa terlaksana jika ada Ridho Allah SWT semata. Ingat doa kita mengawali puasa yakni “Niat puasa ramadhan karena Allah SWT”. Sebenarnya diri kita secara fisik hanya ibarat sebuah wayang yang tidak memiliki kekuatan apapun, jika tidak digerakkan oleh “DALANG” nya yakni Allah SWT. Hanya karena ijin dari Allah SWT sajalah, maka seluruh organ di dalam tubuh kita akan “disinkronkan” untuk saling mendukung dan menopang, agar selama lebih dari 14 jam sehari bisa bertahan untuk tidak makan dan minum, tanpa mengalami dehidrasi. Mungkin hal ini, bagi orang tak beriman, hanya sesuatu yang “biasa”, namun bagi orang beriman ia yakini adalah suatu “MUKJIZAT”. Ini salah satu fakta bahwa puasa yang diawali dengan niat dan kekuatan dari Allah SWT adalah bukan karena kekuatan manusia.
Kekuatan dalam arti kemampuan financial, seringkali membuat manusia arogan. Momentum bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, membuat sebagian orang yang merasa memiliki “kekuatan” berpikir bahwa dengan “uang atau harta” yang dimilikinya, dia bisa beramal. BERAMAL memang perbuatan yang wajib kita lakukan, tetapi beramal pun jika dilakukan hanya karena nafsu, ingin mendapat pujian atau sebagai sarana popularitas, sama saja dengan membuang garam ke laut. Semua yang kita miliki hanyalah titipan dan berasal dari kemurahan Allah SWT semata, jika kita menyadari dan imani bahwa sesungguhnya “kekuatan” yang kita miliki adalah titipan NYA, maka kita tidak akan pernah berani mangatakan bahwa itu adalah “kekuatan” kita.
Doa kita adalah. Ya Allah, berikanlah kekuatan MU kepada kami di dalam menjalankan ibadah puasa ini. Jangan membiarkan kami mengandalkan kekuatan kami sendiri, karena sesungguhnya apapun yang kami miliki berasal dari MU.
II. KESABARAN
Puasa identik dengan kesabaran, kenapa ? Karena semua unsur yang mendukung kemampuan kita untuk mampu menunaikan ibadah puasa selain kuasa Allah SWT, adalah kesabaran. Tanpa kesabaran, ibadah kita sia-sia. Ujian yang sering dialami orang yang berpuasa adalah ujian kesabaran.
Kesabaran tidak datang dengan sendirinya, kesabaran yang hakiki adalah berasal dari ketenangan batin kita. Jika batin kita tenang perasaan atau emosi cenderung bisa dikendalikan, ketenangan batin pun bisa diraih jika iman dipenuhi oleh keyakinan akan kuasa Allah SWT. Semua terkait satu dengan lainnya.
Menjalani ibadah puasa dengan berbagai ujian yang kita hadapi, bukanlah suatu yang mudah dan sederhana. Orang sabar pun kadang harus melipatgandakan stock “kesabarannya” ketika ia melaksanakan ibadah puasa kenapa ? Karena justru pada saat itulah “kesabaran” kita lebih diuji.
Untuk itulah selama menjalani puasa kita dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa, hal ini bertujuan agar batin kita tenang dengan demikian kita akan lebih panjang sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Ketidaksabaran akan lebih banyak menimbulkan persoalan, ketika fisik mengalami kelelahan kita justru dituntut tetap produktif dan beraktifitas normal. Berpuasa justru lebih bermakna ketika kita berada di lingkungan sosial yang heterogen atau beragam. Makna kesabaran yang perlu kita buktikan adalah justru ketika kita berpuasa diantara orang-orang kita tidak berpuasa.
Adalah suatu tindakan atau keputusan yang kurang bijak, jika ada pemerintah daerah yang mengeluarkan Perda, selama bulan puasa rumah makan tidak boleh beraktifitas (Perda seperti ini, pernah penulis temukan di Banjarmasin).
Jika hal ini sampai diterapkan, lalu dimana makna ujian iman pada saat kita berpuasa ? Pembuktian iman kita sebagai orang Muslim yang sedang berpuasa adalah justru ketika kita mampu menjadi panutan bagi umat beragama lainnya, bahwa puasa orang Islam adalah tetap Rahmatan Lil Alamin, bukan egoisme agama yang ditonjolkan, mentang-mentang penganut Islam mayoritas, sehingga yang minoritas tidak dihormati.
KEIKHLASAN
Puasa adalah IMAN dan iman adalah keyakinan yang penuh terhadap kuasa Allah SWT. Jangan sampai kita menjalani puasa karena keterpaksaan. Misalnya karena alasan semua orang di rumah puasa, akibatnya tidak ada yang menyediakan makanan, sehingga dia jadi harus berpuasa dan sebagainya. Keikhlasan pada saat berpuasa ibarat air yang mengalir sejuk di dalam batin kita, tanpa beban dan selalu yang kita ingat adalah kata “bersyukur dan bersyukur”.
Kenikmatan terbesar adalah ketika kita mampu menjalani ibadah puasa tanpa tuntutan apapun, selain berserah kepada Allah SWT. Tak ada kuatir sekecil apapun terhadap apa yang akan terjadi, kenapa ? Karena IMAN kita lebih besar dari MASALAH.
Kepasrahan hanya bisa diperoleh jika KEYAKINAN kita kepada Allah SWT jauh melebihi PERMASALAHAN yang kita hadapi. Maka ketika kita berdzikir Allahu Akhbar…Allahu Akhbar…..Allahu Akhbar, kita benar-benar mengecilkan diri dan permasalahan yang kita hadapi dan sebaliknya Allah SWT di “BESAR” kan. Dengan demikian kita mendidik “IMAN” kita untuk selalu meyakini bahwa “TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH SWT”.
Jika tingkat keimanan kita sudah sampai pada tahap seperti itu, apapun yang kita hadapi, ringan maupun berat, mudah maupun susah, kita tidak lagi pernah gentar, karena kita sudah mampu berserah atau pasrah kepada NYA.
Dengan kepasrahan inilah, maka kita akan selalu ikhlas dalam menjalani ibadah apapun, karena kita tahu apa yang kita lakukan, apa yang kita amalkan semua dari Allah SWT, manusia hanya sebagai perantaranya, semua milik Allah SWT dan dikembalikan untuk kemulian NYA semata.
Terima kasih …
Terima kasih …
Kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial kalo ga ya tinggal aja dihutan hehe…
Hanya dengan menyampaikan “terima kasih”, ternyata bisa memberi manfaaat bagi orang yang menerima dan menyampaikan ucapan tersebut, demikian hasil satu penelitian.
Menyampaikan terima kasih bisa memperbaiki perilaku dalam hubungan antar-manusia, demikian penelitian di Florida State University, Tallahasse. Wow..Luar biasa kan…!!!
Terima kasih, ketika disampaikan, meningkatkan kekuatan komunal, menurut kepala peneliti Nathaniel Lambert, wakil peneliti di Universitas tersebut. Temuan itu masuk akal, karena “ketika menyampaikan terima kasih, kamu akan memusatkan perhatian pada hal baik yang telah dilakukan oleh orang tersebut”, katanya.
“Itu membuat anda melihat mereka dari sudut pandang positif dan membantu anda memusatkan perhatian pada ciri-ciri baik mereka,” kata Lambert. Lambert berspekulasi “mereka yang menerima ucapan terima kasih akan terdorong melakukan hal yang sama. Mereka akan membalas rasa terima kasihnya. Jadi seperti berbentuk spiral yang mengarah ke atas”
Hoho..betapa luar biasanya bukan sebuah ucapan terima kasih.
Mengucapkan terimakasih adalah hal yang sangat sederhana, murah tanpa biaya namun juga tidak semua orang mau melakukan. Ucapan terimakasih adalah suatu penghargaan yang tulus ke orang lain dan tidak dapat kita nilai dengan uang. Mengucapkan terimakasih tidaklah perlu memandang ke siapa kita berterimakasih.
Mungkin saja kita berterimakasih kepada orang lain yang mungkin status sosialnya jauh di bawah kita, orang yang kita benci, musuh kita waktu sekolah dulu, orang yang pernah menyakiti kita, atau siapapun yang pernah memberi ingatan ketidakenakan buat kita semua.
Ucapan terimakasih walaupun sepele, mengandung makna yang sangat besar. Seseorang yang mau mengucapkan terimakasih menunjukkan orang tersebut berbesar hati, mau memberikan penghargaan ke lawan bicaranya.
Namun terkadang ucapan terima kasih tidak terlontar keluar karena kita merasa sesuatu hal yang kita terima baik benda maupun jasa merupakan hak milik kita. Terkadang juga kata ini terlontar secara otomatis tanpa sungguh-sungguh mengucapkannya dari hati. Ah..mudah-mudahan itu hanya perasaan saya saja.
Untuk mereka yang telah mendorong saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku akan jatuh.
Tanpa kalian, aku akan jatuh.
Untuk orang-orang yang menertawakan saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan menangis.
Tanpa kalian, aku tidak akan menangis.
Untuk orang-orang yang mencibir saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan sadar diri.
Tanpa kalian, aku tidak akan sadar diri.
Untuk orang-orang yang tidak bisa mencintai saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan tahu cinta sejati.
Tanpa kalian, aku tidak akan tahu cinta sejati.
Untuk orang-orang yang menyakiti perasaan saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan merasakannya.
Tanpa kalian, aku tidak akan merasakannya.
Untuk orang-orang yang meninggalkan aku kesepian, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan menemukan diriku sendiri.
Tanpa kalian, aku tidak akan menemukan diriku sendiri.
Tapi itu adalah untuk orang-orang yang mengira aku tidak bisa melakukannya;
Saya berterima kasih Karena tanpa kalian, aku tidak akan mencoba.
Saya berterima kasih Karena tanpa kalian, aku tidak akan mencoba.
Hidup akan indah jika selalu disertai rasa syukur…
Terima Kasih…
Terima Kasih…
Ikhlas, Keikhlasan dan Mengikhlaskan
Hidup memang penuh ujian, cobaan, masalah dan tetek bengek lainnya, ga mungkin hidup seseorang itu lurus-lurus aja pasti ada belok kanan, belok kirinya, ada persegi panjang, ada kotak, jajaran genjang, trapesium, kubus, prisma, kerucut dan mulai dari bentuknya yang jelas sampai abstrak tak terlihat bergaya realisme, surealisme, atau bahkan kubisme ala pablo picasso hehe..
Dan salah satu rahasia dalam kehidupan juga terletak pada sebuah kata-kata yang sering kita ucapkan atau dengar dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri. Salah satunya adalah sebuah kata “ikhlas”, kata serapan dari bahasa arab, sederhana namun memiliki makna dan arti yang menurut saya sangat luar biasa.
Dalam kamus besar bahasa indonesia ikhlas berarti a bersih hati; tulus hati: meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan: hahaha..pake di copast segala ya hehe.. Selain arti secara harfiah itu, ikhlas menurutku berkaitan sangat erat dengan
1. sesuatu yang hilang/berkurang dari kita,
2. perlakuan orang lain khususnya yang tidak menyenangkan kepada kita,
3. ujian atau cobaan dari Tuhan.
Nah, akhir-akhir ini saya sedang belajar kembali tentang keikhlasan. Bagaimana menerima dengan ikhlas semua perlakuan orang lain kepada saya, karena kadang-kadang saya berprasangka yang ngga-ngga. Atau malah jangan-jangan memang saya pantas diperlakukan seperti itu. Juga bagaimana sabar dan ikhlas jika menerima hal-hal yang tidak saya sukai. Belajar sabar dan ikhlas karena selama ini sudah merasa berbuat sebaik mungkin, tapi ternyata tidak dibalas dengan tindakan serupa. Ikhlas dirugikan oleh orang lain padahal saya manusia bukan robot yang ga punya perasaan. Ikhlas tak diberikan ruang berpendapat padahal saya ini punya argumentasi dan pendapat tersendiri bla bla bla… dan segala macamnya lah… Tapi ternyata menjadi seorang yang berhati seluas samudera dan sedalam lautan (agnes banget hahaha..) itu sungguh sulit.
Walaupun suara protes itu tidak keluar dari mulut saya, tapi toh tetap saja berontak dan mengganjal di hati. Niat hati ingin melupakan, tapi apa daya, hati saya berat dan masih saja tidak ikhlas. Aneh memang hehe..Kalo orang lain berbuat jahat ama kita, itu keputusan Tuhan, tapi kalo kita berbuat jahat ama orang lain, itu murni keputusan kita (dan kita bakal menanggung akibatnya)”. Maka, tidak ada alasan untuk tidak ikhlas bukan? Kalo pun tidak ikhlas, artinya kita kesel ama Tuhan, dan bukan ama manusia, tapi tidak apa-apa, soalnya Tuhan itu maha pemaaf, tapi manusia sepertinya belum tentu hehehe..benar ga hoho..
Padahal sebenarnya menurut sebuah artikel yang ada di majalah nirmala terbitan tahun 2005 (dah lama banget ya hehe..) , ikhlas adalah bagian terpenting dari pencapaian manusia. Di dalamnya terkandung makna kesabaran, kepasrahan, dan penerimaan, yang memungkinkan manusia semakin dekat dengan Yang di-Atas. Ikhlas terletak pada niat di dalam hati. Karena itu belajar ikhlas bisa berarti belajar melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan tentunya mengikuti kata hati. Kesulitan mempelajari ikhlas adalah karena demikian sederhananya, sehingga pikiran kita malah sulit untuk mencerna.
Selain itu, ikhlas memang aktivitas hati sehingga untuk memahaminya kita harus mengistirahatkan pikiran dan mulai berlatih menggunakan hati. Jelasnya memindahkan kesadaran kita dari otak ke dalam hati. maap kawan makin ribet kan hehe… itu lah beberapa hal yang saya bisa kerucutkan terkait dengan ikhlas, dan masih banyak yang saya ga tau diluar sana. mencoba berpikiran positif atas apa yang terjadi dan ikuti kata hatimu bahwa semua itu ada maksudnya dan hikmahnya.
Dan saya rasa kuncinya ada dalam diri kita sendiri, otak dan hati kita. Belajar untuk ikhlas memang tidak semudah membaca atau menulis notenya tapi lebih dari itu, bagaimana pembuktian ikhlas itu dalam kehidupan kita sekarang, itu tantangannya dan itu yang harus dijawab..
just follow your heart and make sure everything is gonna be alright, don’t be sad and upset..keep my spirit everyday and give her the sweetest smile from my lips and heart”.. “You’ll never change what’s been and gone.”
“Ingin menjadi embun pagi yang selalu datang menyambut pagi, sabar dalam keikhlasan lambaian cahaya mentari”
MEMUTAR REKAMAN HIDUP
Berapaa usia kita sekarang ?
20 tahun,30 tahun,50 tahun, atau bahkan lebih
Sejenaklah kita merenung, memutar kembali rekaman hidup kita, mebuka semua memori hidup
Rasanya tidak butuh waktu 2 jam untuk mengingat semua perjalanan hidup kita, begitu rapuhnya ingatan itu tersimpan
Bagamana dengan rekaman hidup kita yang dimiliki ALLAH ?
Yangg pada saatnya nanti akan ditnjukkan kepada kita
Pastilah lebih dahsyat lagi, catatan & rekaman itu sugguhlah hebat, tidak ada yg lepas dari pengawasan Allah, walaupun direlung hati yang paling dalam sekalipun
Sadar sedini mungkin akan pengawasan Allah atas semua yang kita lakukan
Sadar yangg tak terlepas ketajaman kamera Allah atas semua perilaku kita
Sadar tertanam kuat pada diri, bahwa rekaman hidup kita akan diputar & dipertanggung jawwbkan kelak
"pada hari itu/ kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap yang telah kamu kerjakan."/Qs AlJasiyah 28
Sadarlah bahwa KAMERA ALLAH SELALU MEMANTAU GERAK-GERIK KITA dalam kehidupan ini, semakin kita menyadari bahwa ada yang memperhatikan kita, pastilah kita akan semakin berhati-hati.
20 tahun,30 tahun,50 tahun, atau bahkan lebih
Sejenaklah kita merenung, memutar kembali rekaman hidup kita, mebuka semua memori hidup
Rasanya tidak butuh waktu 2 jam untuk mengingat semua perjalanan hidup kita, begitu rapuhnya ingatan itu tersimpan
Bagamana dengan rekaman hidup kita yang dimiliki ALLAH ?
Yangg pada saatnya nanti akan ditnjukkan kepada kita
Pastilah lebih dahsyat lagi, catatan & rekaman itu sugguhlah hebat, tidak ada yg lepas dari pengawasan Allah, walaupun direlung hati yang paling dalam sekalipun
Sadar sedini mungkin akan pengawasan Allah atas semua yang kita lakukan
Sadar yangg tak terlepas ketajaman kamera Allah atas semua perilaku kita
Sadar tertanam kuat pada diri, bahwa rekaman hidup kita akan diputar & dipertanggung jawwbkan kelak
"pada hari itu/ kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap yang telah kamu kerjakan."/Qs AlJasiyah 28
Sadarlah bahwa KAMERA ALLAH SELALU MEMANTAU GERAK-GERIK KITA dalam kehidupan ini, semakin kita menyadari bahwa ada yang memperhatikan kita, pastilah kita akan semakin berhati-hati.
Selalu Menangis
Allah swt. berfirman:
"Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita'." (Q.s. Fathir: 34).
... Lihat Selengkapnya
Diriwayatkan darl Abu Sa'id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya." (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).
Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, "Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan."
Dalam hadis dikatakan, "Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih."
Dalarn Kitab Taurat disebutkan, "Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam hatinya."
Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.
Bisyr bin Harits mengatakan, "Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. "
Dikatakan, "Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya."
Abu Sa'id al Qurasyi berkomentar, "Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.
Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).
Ibnu Khafif menjelaskan, "Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan."
Rabi'ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, "Aduhai, kesedihan!" Rabi'ah menyela, "Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas."
Sufyan bin 'Uyainah mengatakan, "Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya."
Dawud ath-Tha'y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa, "Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku." Dan Allah pun menjawab, "Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?"
Dikatakan, "Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa."
Salah seorang Sufi ditanya, "Dengan apa kesedihan manusia dinilai?" Ia Menjawab, "Dengan banyaknya ratapan."
As Sary as-Saqathy berkata, "Aku ingin sendainya kesedihan seluruh manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku." Banyak orang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini patut dicela. Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, "Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan."
Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan, "Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!".
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari seorang yang tertimpa kesedihan'?"
Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.
Ketika Fudhail bin 'Iyadh meninggal dunia, Waki' mengatakan, "Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi."
Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, "Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan."
Fudhail bin 'Iyadh berkomentar, "Kaum salaf mengatakan, 'Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang'."
Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab, "Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah."
Fakhry Ali
bersyukurlah karena anda wanita.. hal yang lumrah kalau wanita menangis ketika dalam keadaan suka maupun duka..
kalau lelaki.. hadu.. apa kata dunia?? hehe.. ini hanya sebuah pemikiran yang sempit..
lelaki kebanyakan ketika kesabaran sudah pada batasnya selalu mengandalkan kekerasan..(pengalaman pribadi).. namun ada solusi yang lebih tepat.. "wudlu".. insyallah.. pikiran kita bisa tenang..
Air mata itu bukan tolak ukur kesabaran...
kata seseorang"sabar itu bukan diam, bukan lemah, bukan kalah dan bukan tertindas tapi sabar itu berusaha menghadapi segala hal dengan sekuat tenaga untuk hasil yang terbaik dan dengan cara yang baik (sesuai hukum Allah)"
"Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita'." (Q.s. Fathir: 34).
... Lihat Selengkapnya
Diriwayatkan darl Abu Sa'id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya." (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).
Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, "Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan."
Dalam hadis dikatakan, "Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih."
Dalarn Kitab Taurat disebutkan, "Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam hatinya."
Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.
Bisyr bin Harits mengatakan, "Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. "
Dikatakan, "Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya."
Abu Sa'id al Qurasyi berkomentar, "Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.
Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).
Ibnu Khafif menjelaskan, "Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan."
Rabi'ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, "Aduhai, kesedihan!" Rabi'ah menyela, "Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas."
Sufyan bin 'Uyainah mengatakan, "Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya."
Dawud ath-Tha'y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa, "Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku." Dan Allah pun menjawab, "Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?"
Dikatakan, "Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa."
Salah seorang Sufi ditanya, "Dengan apa kesedihan manusia dinilai?" Ia Menjawab, "Dengan banyaknya ratapan."
As Sary as-Saqathy berkata, "Aku ingin sendainya kesedihan seluruh manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku." Banyak orang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini patut dicela. Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, "Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan."
Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan, "Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!".
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari seorang yang tertimpa kesedihan'?"
Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.
Ketika Fudhail bin 'Iyadh meninggal dunia, Waki' mengatakan, "Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi."
Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, "Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan."
Fudhail bin 'Iyadh berkomentar, "Kaum salaf mengatakan, 'Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang'."
Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab, "Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah."
Fakhry Ali
bersyukurlah karena anda wanita.. hal yang lumrah kalau wanita menangis ketika dalam keadaan suka maupun duka..
kalau lelaki.. hadu.. apa kata dunia?? hehe.. ini hanya sebuah pemikiran yang sempit..
lelaki kebanyakan ketika kesabaran sudah pada batasnya selalu mengandalkan kekerasan..(pengalaman pribadi).. namun ada solusi yang lebih tepat.. "wudlu".. insyallah.. pikiran kita bisa tenang..
Air mata itu bukan tolak ukur kesabaran...
kata seseorang"sabar itu bukan diam, bukan lemah, bukan kalah dan bukan tertindas tapi sabar itu berusaha menghadapi segala hal dengan sekuat tenaga untuk hasil yang terbaik dan dengan cara yang baik (sesuai hukum Allah)"
Langganan:
Postingan (Atom)