Minggu, 26 Juni 2011

Terima kasih …

Terima kasih …
Kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial kalo ga ya tinggal aja dihutan hehe…
Hanya dengan menyampaikan “terima kasih”, ternyata bisa memberi manfaaat bagi orang yang menerima dan menyampaikan ucapan tersebut, demikian hasil satu penelitian.
Menyampaikan terima kasih bisa memperbaiki perilaku dalam hubungan antar-manusia, demikian penelitian di Florida State University, Tallahasse. Wow..Luar biasa kan…!!!
Terima kasih, ketika disampaikan, meningkatkan kekuatan komunal, menurut kepala peneliti Nathaniel Lambert, wakil peneliti di Universitas tersebut. Temuan itu masuk akal, karena “ketika menyampaikan terima kasih, kamu akan memusatkan perhatian pada hal baik yang telah dilakukan oleh orang tersebut”, katanya.
“Itu membuat anda melihat mereka dari sudut pandang positif dan membantu anda memusatkan perhatian pada ciri-ciri baik mereka,” kata Lambert. Lambert berspekulasi “mereka yang menerima ucapan terima kasih akan terdorong melakukan hal yang sama. Mereka akan membalas rasa terima kasihnya. Jadi seperti berbentuk spiral yang mengarah ke atas”
Hoho..betapa luar biasanya bukan sebuah ucapan terima kasih.
Mengucapkan terimakasih adalah hal yang sangat sederhana, murah tanpa biaya namun juga tidak semua orang mau melakukan. Ucapan terimakasih adalah suatu penghargaan yang tulus ke orang lain dan tidak dapat kita nilai dengan uang. Mengucapkan terimakasih tidaklah perlu memandang ke siapa kita berterimakasih.
Mungkin saja kita berterimakasih kepada orang lain yang mungkin status sosialnya jauh di bawah kita, orang yang kita benci, musuh kita waktu sekolah dulu, orang yang pernah menyakiti kita, atau siapapun yang pernah memberi ingatan ketidakenakan buat kita semua.
Ucapan terimakasih walaupun sepele, mengandung makna yang sangat besar. Seseorang yang mau mengucapkan terimakasih menunjukkan orang tersebut berbesar hati, mau memberikan penghargaan ke lawan bicaranya.
Namun terkadang ucapan terima kasih tidak terlontar keluar karena kita merasa sesuatu hal yang kita terima baik benda maupun jasa merupakan hak milik kita. Terkadang juga kata ini terlontar secara otomatis tanpa sungguh-sungguh mengucapkannya dari hati. Ah..mudah-mudahan itu hanya perasaan saya saja.
Untuk mereka yang telah mendorong saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku akan jatuh.
Untuk orang-orang yang menertawakan saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan menangis.
Untuk orang-orang yang mencibir saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan sadar diri.
Untuk orang-orang yang tidak bisa mencintai saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan tahu cinta sejati.
Untuk orang-orang yang menyakiti perasaan saya, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan merasakannya.
Untuk orang-orang yang meninggalkan aku kesepian, terima kasih.
Tanpa kalian, aku tidak akan menemukan diriku sendiri.
Tapi itu adalah untuk orang-orang yang mengira aku tidak bisa melakukannya;
Saya berterima kasih Karena tanpa kalian, aku tidak akan mencoba.
Hidup akan indah jika selalu disertai rasa syukur…
Terima Kasih…

Ikhlas, Keikhlasan dan Mengikhlaskan

Hidup memang penuh ujian, cobaan, masalah dan tetek bengek lainnya, ga mungkin hidup seseorang itu lurus-lurus aja pasti ada belok kanan, belok kirinya, ada persegi panjang, ada kotak, jajaran genjang, trapesium, kubus, prisma, kerucut dan mulai dari bentuknya yang jelas sampai abstrak tak terlihat bergaya realisme, surealisme, atau bahkan kubisme ala pablo picasso hehe..
Dan salah satu rahasia dalam kehidupan juga terletak pada sebuah kata-kata yang sering kita ucapkan atau dengar dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri. Salah satunya adalah sebuah kata “ikhlas”, kata serapan dari bahasa arab, sederhana namun memiliki makna dan arti yang menurut saya sangat luar biasa.
Dalam kamus besar bahasa indonesia ikhlas berarti a bersih hati; tulus hati: meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan: hahaha..pake di copast segala ya hehe.. Selain arti secara harfiah itu, ikhlas menurutku berkaitan sangat erat dengan
1. sesuatu yang hilang/berkurang dari kita,
2. perlakuan orang lain khususnya yang tidak menyenangkan kepada kita,
3. ujian atau cobaan dari Tuhan.
Nah, akhir-akhir ini saya sedang belajar kembali tentang keikhlasan. Bagaimana menerima dengan ikhlas semua perlakuan orang lain kepada saya, karena kadang-kadang saya berprasangka yang ngga-ngga. Atau malah jangan-jangan memang saya pantas diperlakukan seperti itu. Juga bagaimana sabar dan ikhlas jika menerima hal-hal yang tidak saya sukai. Belajar sabar dan ikhlas karena selama ini sudah merasa berbuat sebaik mungkin, tapi ternyata tidak dibalas dengan tindakan serupa. Ikhlas dirugikan oleh orang lain padahal saya manusia bukan robot yang ga punya perasaan. Ikhlas tak diberikan ruang berpendapat padahal saya ini punya argumentasi dan pendapat tersendiri bla bla bla… dan segala macamnya lah… Tapi ternyata menjadi seorang yang berhati seluas samudera dan sedalam lautan (agnes banget hahaha..) itu sungguh sulit.
Walaupun suara protes itu tidak keluar dari mulut saya, tapi toh tetap saja berontak dan mengganjal di hati. Niat hati ingin melupakan, tapi apa daya, hati saya berat dan masih saja tidak ikhlas. Aneh memang hehe..Kalo orang lain berbuat jahat ama kita, itu keputusan Tuhan, tapi kalo kita berbuat jahat ama orang lain, itu murni keputusan kita (dan kita bakal menanggung akibatnya)”. Maka, tidak ada alasan untuk tidak ikhlas bukan? Kalo pun tidak ikhlas, artinya kita kesel ama Tuhan, dan bukan ama manusia, tapi tidak apa-apa, soalnya Tuhan itu maha pemaaf, tapi manusia sepertinya belum tentu hehehe..benar ga hoho..
Padahal sebenarnya menurut sebuah artikel yang ada di majalah nirmala terbitan tahun 2005 (dah lama banget ya hehe..) , ikhlas adalah bagian terpenting dari pencapaian manusia. Di dalamnya terkandung makna kesabaran, kepasrahan, dan penerimaan, yang memungkinkan manusia semakin dekat dengan Yang di-Atas. Ikhlas terletak pada niat di dalam hati. Karena itu belajar ikhlas bisa berarti belajar melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan tentunya mengikuti kata hati. Kesulitan mempelajari ikhlas adalah karena demikian sederhananya, sehingga pikiran kita malah sulit untuk mencerna.
Selain itu, ikhlas memang aktivitas hati sehingga untuk memahaminya kita harus mengistirahatkan pikiran dan mulai berlatih menggunakan hati. Jelasnya memindahkan kesadaran kita dari otak ke dalam hati. maap kawan makin ribet kan hehe… itu lah beberapa hal yang saya bisa kerucutkan terkait dengan ikhlas, dan masih banyak yang saya ga tau diluar sana. mencoba berpikiran positif atas apa yang terjadi dan ikuti kata hatimu bahwa semua itu ada maksudnya dan hikmahnya.
Dan saya rasa kuncinya ada dalam diri kita sendiri, otak dan hati kita. Belajar untuk ikhlas memang tidak semudah membaca atau menulis notenya tapi lebih dari itu, bagaimana pembuktian ikhlas itu dalam kehidupan kita sekarang, itu tantangannya dan itu yang harus dijawab..
just follow your heart and make sure everything is gonna be alright, don’t be sad and upset..keep my spirit everyday and give her the sweetest smile from my lips and heart”.. “You’ll never change what’s been and gone.”
“Ingin menjadi embun pagi yang selalu datang menyambut pagi, sabar dalam keikhlasan lambaian cahaya mentari”

MEMUTAR REKAMAN HIDUP

Berapaa usia kita sekarang ?
20 tahun,30 tahun,50 tahun, atau bahkan lebih
Sejenaklah kita merenung, memutar kembali rekaman hidup kita, mebuka semua memori hidup 
Rasanya tidak butuh waktu 2 jam untuk mengingat semua perjalanan hidup kita, begitu rapuhnya ingatan itu tersimpan
Bagamana dengan rekaman hidup kita yang dimiliki ALLAH ?
Yangg pada saatnya nanti akan ditnjukkan kepada kita 
Pastilah lebih dahsyat lagi, catatan & rekaman itu sugguhlah hebat, tidak ada yg lepas dari pengawasan Allah, walaupun direlung hati yang paling dalam sekalipun
Sadar sedini mungkin akan pengawasan Allah atas semua yang kita lakukan
Sadar yangg tak terlepas ketajaman kamera Allah atas semua perilaku kita
Sadar tertanam kuat pada diri, bahwa rekaman hidup kita akan diputar & dipertanggung jawwbkan kelak

"pada hari itu/ kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap yang telah kamu kerjakan."/Qs AlJasiyah 28

Sadarlah bahwa KAMERA ALLAH SELALU MEMANTAU GERAK-GERIK KITA dalam kehidupan ini, semakin kita menyadari bahwa ada yang memperhatikan kita, pastilah kita akan semakin berhati-hati.

Selalu Menangis

Allah swt. berfirman:
"Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita'." (Q.s. Fathir: 34).
... Lihat Selengkapnya
Diriwayatkan darl Abu Sa'id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya." (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).

Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, "Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan."
Dalam hadis dikatakan, "Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih."
Dalarn Kitab Taurat disebutkan, "Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam hatinya."

Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.
Bisyr bin Harits mengatakan, "Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. "
Dikatakan, "Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya."
Abu Sa'id al Qurasyi berkomentar, "Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.

Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).
Ibnu Khafif menjelaskan, "Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan."
Rabi'ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, "Aduhai, kesedihan!" Rabi'ah menyela, "Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas."
Sufyan bin 'Uyainah mengatakan, "Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya."

Dawud ath-Tha'y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa, "Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku." Dan Allah pun menjawab, "Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?"
Dikatakan, "Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa."
Salah seorang Sufi ditanya, "Dengan apa kesedihan manusia dinilai?" Ia Menjawab, "Dengan banyaknya ratapan."

As Sary as-Saqathy berkata, "Aku ingin sendainya kesedihan seluruh manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku." Banyak orang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini patut dicela. Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, "Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan."

Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan, "Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!".
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari seorang yang tertimpa kesedihan'?"
Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.
Ketika Fudhail bin 'Iyadh meninggal dunia, Waki' mengatakan, "Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi."

Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, "Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan."
Fudhail bin 'Iyadh berkomentar, "Kaum salaf mengatakan, 'Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang'."
Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab, "Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah."

Fakhry Ali
bersyukurlah karena anda wanita.. hal yang lumrah kalau wanita menangis ketika dalam keadaan suka maupun duka..
kalau lelaki.. hadu.. apa kata dunia?? hehe.. ini hanya sebuah pemikiran yang sempit..
lelaki kebanyakan ketika kesabaran sudah pada batasnya selalu mengandalkan kekerasan..(pengalaman pribadi).. namun ada solusi yang lebih tepat.. "wudlu".. insyallah.. pikiran kita bisa tenang..


Air mata itu bukan tolak ukur kesabaran...
kata seseorang"sabar itu bukan diam, bukan lemah, bukan kalah dan bukan tertindas tapi sabar itu berusaha menghadapi segala hal dengan sekuat tenaga untuk hasil yang terbaik dan dengan cara yang baik (sesuai hukum Allah)"

Bumbuilah,...!!! Agar Nasi yang Menjadi Bubur itu Terasa Nikmat

 Nasi memang sudah menjadi bubur. Kalau dibiarkan dengan harapan menjadi nasi kembali, hanya akan menjadikannya keras dan tidak bisa lagi dinikmati. Jika dimasak kembali semakin menambahnya tidak karuan. Jika dibuang, bukankah itu sayang.
Banyak peristiwa yang sudah menjadi “bubur”. Sudah terlanjur terjadi. Tersisa penyesalan saja. Awalnya kita berharap peristiwa itu menjadi selezat nasi. Bisa sempurna sesuai rencana rencana. Tapi a apa dikata, karena satu sebab nasi tak kunjung jadi dan justru berubah menjadi bubur.
                Penyesalan berkepanjangan hanya menambah semuanya menjadi tidak nyaman. Sudah saatnya kita berhenti dari penyesalan yang tidak berarti. Menggerutu sepanjang hari membuat bubur semakin tidak enak dan nasi tetap tidak kunjung datang.
                Langkah yang tidak tepat ini harus diganti dengan segera mencari segala hal yang membuat bubur menjadi hidangan selezat nasi, Atau menjadi hidangan lain yang bisa melupakan kita kepada nasi.
                Keterlanjuran kita dalam memilih dan bertindak, sementara kita sangat tidak nyaman dengan pilihan dan tindakan itu, jalan terbaiknya adalah segera merubah kata. Merubah dari kata terpaksa hingga menjadi kata rela. Berusaha untuk menikmati pekerjaan dan pilihan itu. Dan berusaha pelan-pelan untuk melupakan keinginan masa lalu, jika sudah tak mungkin kembali lagi. Sulit memang, namun bukan berarti tidak bisa. Seiring dengan waktu dan semakin terasa hasil dari pilihan keterlanjuran itu, kita akan segera bisa melupakan gelora pada pilihan yang pertama.
                Sumpah serapah , gerutu, penyesalan berlarut-larut hanya akan membuat kita tidak nyaman, dan harapan pertama pun belum tentu bisa kita raih. Akhirnya kita rugi dua kali. Padalah kita bisa untung sekali yang mungkin suatu saat nanti bisa untung dua kali.

KATAKANLAH, APA YANG DIKEHENDAKI-NYA PASTI TERJADI

Ibnu Qoyyim berkata, “Kegelisahan hati disebabkan dua hal. Sebab pertama kesedihan terhadap hal yang terlanjur terjadi. Dan sebab kedua kegundahan dalam memprediksi masa depan. Keduanya adalah kelemahan. Yang terlanjur tidak hilang hanya dengan sedih. Tetapi harus disikapi dengan rela, banyak memuji, sabar, iman kepada taqdir dan ucapkan, apa yang dikendakinya_nya pasti terjadi.”
                Kajian Ibnu Qoyyim selalu mendalam. Dalam menyikapi keterlanjuran, salah satu sikap yang tepat adalah mengucapkan , apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Karena tidak ada yang keluar dari lingkaran takdir Allah. Semuanya telah tercatat sebelum penciptaan langit dan bumi.
                Keterlanjuran yag kita sesali pun sudah merupakan bagian yang ditakdirkan. Maka ucapan itu merupakan bentuk dari keimana kita terhadap takdir yang merupakan pilar tak terpisahkan dari rukun Iman yang enam. Ini juga akan menentamkan hati kita sebagai seorang mukmin.
                Dalam sebuah hadist Rasul yang panjang beliau melarang seseorang untuk beranda-andai. Andai saja saya berbuat begini pasti akan begitu. “Tetapi katakan, Apa yang dikendaki Allah pasti terjadi.”
                Kata-kata indah ajaran Rasulullah ini, juga bisa menutup pintu syetan yang masuk melalui berandai-andai. Agar kita tidak masuk pada jebakan syetan untuk memperpanjang angan-angan, duduk diam terpaku, menyesali yang lalu dan tak mampu berbuat banyak, serta lemah dalam menyikapi tantangan di hadapan.
                Keterlanjuran adalah momen hidup yang harus dijadikan bagian dari pijakan untuk sukses. Kecuali ketrlanjuran dalam kemaksiatanN yang memang harus dibongkat total dan tdak ada kompromi. Agar hidup kita semunya bermakna.

TERIMALAH, TIDAK ADA PERISTIWA TAMPA MAKNA

Terimalah. Karena melawan pun terkadang hanya menguras tenaga tampa makna. Bukan berarti kita tidak boleh berjuang mendapat harapan pertama kita. Tetapi kini sudah terjadi. Keterlanjuran ada yang sudah tidak mungkin dibenahi lagi. Kata menerima akan membantu kita mendapatkan ketenangan. Menjauhkan kegelisahan yang tidak ada habisnya.
                
Seorang perempuan dari suku terhormat Mekkah mencuri. Tentunya ini menjadi aib besar yang menodai kebesaran dan kebaikan suku itu. Masalah ini disampaikan kepada Rasulullah.  Rasulullah mengatakan bahwa perempuan itu harus dipotong tangannya. Karena ia telah dengan sah terbukti mencuri jumlah harta yang sudah harus membuat tangannya dipotong. Ini keputusan yang sudah dibayangkan oleh para sahabat yang mengadukan masalah ini.
                
Setelah itu, terjadilah suara-suara di kalangan mereka untuk meminta keringanan hukuman untuk perempuan itu. Maka dipilihlah orang yang terdekat dan dicintai Nabi untuk memintakan keringanan hukuman. Usamah bin Zaid putra dari putra angkat Nabi. Dialah yang dipilih untuk menyampaikan keinginan mereka. Usamah pun pergi menghadapi Nabi.
                
Ternyata Nabi tetap pada keputusannya dan berkata, “Tidakkah permasalahan kalian ini, kalian selesaikan sendiri sesame kalian, sebelum masalahnya sampai padaku.”
               
Terlanjur masalah sampai kepada Rasulullah sebagai hakim. Ketika masalah sudah sampai kepada hakim, tidak ada lagi kata dicabut. Maka dari itu Nabi mengingatkan, mengapa masalah ini tidak diselesaikan secara damai saja sebelum sampai kepada hakim.
               
Apa dikata kasus sudh masuk pengadilan. Dan vonis harus dijalankan. Walaupun dia perempuan trhormat, tidak ada perbedaan dalam hokum Islam. Semua tingkatkan social sama di mata Allah. Perempuan itu harus menerima untuk dipotong yangannya.
              
  Begitu pula masalah dalam hidup kita. Ada kalanya tidak mungkin lagi benang jalan hidup ditarik ke belakang. Yang ada adalah menerima yang ada dengan kelapangan jiwa dan kebesaran hati.